Archive

Archive for October, 2009

Belajar Menulis

October 12th, 2009 1 comment

Malang,12 Oktober 2009:

Berpuluh tahun lalu, saat saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, almarhum Bapak selalu mengajari saya menulis. Pelajaran mengarang saat itu adalah salah satu bagian dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Mengarang memang menjadi momok bagi teman-teman sekelas saya, memperoleh nilai delapan puluh sudah sangat sulit.

Saya boleh sedikit berbangga, sebab karangan saya  masih terbilang layak dibacakan di depan kelas. Hanya sedikit saja di bawah nilai karangan Gaston, teman yang sekarang ini menjadi dosen sastra di Universitas Petra Surabaya. Tapi pengalaman yang ingin saya bagikan tentang karang mengarang bukanlah tentang bagaimana karangan saya masuk nominasi kala itu. Proses  menulisnyalah yang selalu mengingatkan saya pada bagaimana almarhum Bapak melatih saya.

Dalam proses belajar mengarang itu, Bapak selalu ikut menulis. Biasanya beliau memilih sebuah tema, misalnya tentang air, tentang perang, tentang musik, tentang kaki, tentang telinga. Tema-tema karangan kami sangat beragam. Bapak hanya menyebutkan satu kata yang harus kami kembangkan menjadi sebuah karangan minimal 20 paragraf. Sebenarnya Bapak meminta saya mengarang 200 kalimat setiap hari. Tapi saya protes, karena pada masa itu belum ada menu word count untuk tulisan tangan. Saya kesulitan menghitungnya sehingga pada akhirnya tidak fokus pada pengembangan tulisan, tapi sibuk menghitung berapa kalimat yang sudah saya tuliskan.

Tanpa  saya sadari, dengan belajar mengarang, sesungguhnya Bapak melatih saya menjadi pembaca, pengolah informasi, sekaligus pengamat. Ketiga hal itu mutlak dilakukan bila seseorang ingin menulis sebuah karya yang baik. Perlahan-lahan dari karangan yang bersifat reportase, saya mulai bisa menulis hal-hal yang agak analitis. Saya juga mulai paham bagaimana mengikuti dorongan perasaan lalu meramunya dalam logika pemikiran. Dengan berlatih dan terus berlatih, Bapak menjadikan saya seorang yang taat prosedur dan sangat menghargai proses.

Sayang, saya hanya berkesempatan ngangsu kawruh pada beliau sampai kelas satu SMA saja. Bapak wafat pada saat saya berusia 16 tahun. Padahal kala itu, saya mulai beranjak remaja. Seringkali saya menginginkan tema-tema yang lebih pribadi untuk dikembangkan menjadi sebuah tulisan, percintaan misalnya….

Menjadi remaja yang suka menulis, saya merasa tak dapat menyeleksi arus gagasan yang memasuki otak dengan sangat deras. Arus itu begitu cepat, melompat-lompat, beragam, sangat indah dan cemerlang sekaligus membingungkan. Baru setelah saya memiliki putra-putri yang beranjak remaja saat ini, saya temukan jawabannya. Remaja berada pada masa transisi, mereka berubah dalam hitungan detik. Begitu banyak hal yang mendesak emosi  mereka hingga meletup-letup, begitu banyak pertanyaan yang memerlukan jawaban. Semakin kreatif mereka, semakin banyak konsep memasuki pikiran mereka, semakin tertekan mereka secara psikologis.

Saya ingat tulisan saya saat saya remaja dulu sering tidak konsisten. Tanpa Bapak di sisi saya, saya mengalami kesulitan menetapkan tema-tema untuk tulisan saya. Hanya semangat yang didorong oleh kebutuhan mengaktualisasikan diri saja yang membuat saya bertahan tetap menulis meski sebagian besar hasil tulisan itu tetap menghuni laci meja belajar saya.

Konsep berbagi gagasan, pengalaman, pengetahuan, pendapat dan perasaan melalui tulisan di blog baru saya kenal dua tahun belakangan. Manfaatnya sungguh luar biasa. Saya sempat berfikir, andai saja Bapak masih ada. Betapa bahagianya dia. Di usia saya yang ke 42 ini, saya masih juga berkecimpung dalam dunia tulis menulis. Kali ini sebagai dosen pembimbing tugas akhir atau skripsi. Mengajarkan logika dasar, tips dan trik menulis pada mahasiswa yang harus menyusun laporan penelitian mungkin bukan tugas saya. Rekan-rekan lain berpendapat itu tugas para dosen mata kuliah Bahasa Indonesia. Tak salah sepenuhnya, namun saya punya pendapat yang sedikit berbeda. Menulis adalah sebentuk keterampilan, tak akan bisa bila tak biasa. Dan bagaimana mungkin mahasiswa akan biasa menulis hanya dengan mengandalkan mata kuliah Bahasa Indonesia selama satu semester? Saya sendiri belajar menulis sejak saya bisa menulis dan membaca buku cerita. Oleh karena itu saya sangat tahu, tak seorangpun dapat menulis dengan baik bila dia tak gemar membaca. Sampai di sini, sudah bukan rahasia bila minat baca di kalangan mahasiswa sebegitu rendahnya. Salah siapa?

Jika membaca lebih didorong oleh hasrat, bagaimana caranya agar buku bisa mengundang hasrat mahasiswa untuk menyentuh, mengusap, menelusuri seluruh lekuk liku alinea dan setiap pori hurufnya? Bagaimana????

Categories: Author, starts small! Tags:

Masih dari Diklat Penulisan Buku Ilmiah

October 11th, 2009 No comments

Hari kedua diklat penulisan buku ilmiah ini semestinya tak kalah seru dari agenda kemarin karena yang datang sebagai pembicara adalah Wandi S. Brata Dirut PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, dan dari beberapa penerbit terkemuka di Indonesia. Tapi, seperti biasalah, peserta tak sebanyak kemarin. Seharusnya juga saya tak perlu berkomentar banyak, sebab ini adalah hari Minggu, jadi sangat wajar bila banyak peserta punya acara lain. Namun mengingat betapa diklat ini diakomodasi sepenuhnya oleh institusi alias gratis, saya sendiri merasa eman bila tak tuntas mengikutinya.

Dari aspek event organizer sih, memang acara diklat ini tampaknya cukup minimalis. Tak seperti acara-acara lain yang diselenggarakan di gedung rektorat, tak ada rehat kopi tertera di jadual acara hari ini. Untuk peserta hanya disediakan makan siang. Rehat kemarin juga hanya sekali untuk durasi waktu diklat hingga sekitar pukul 4. Last but not least, berarti yang hadir pagi ini adalah kelompok yang benar-benar berminat menulis.

Hal menarik dari materi presentasi Wandi S. Brata yang ingin saya bagikan pada pembaca blog saya adalah bahwa saat ini trend minat baca   juga going digital. Seperti pendapat Steve Job: “It doesn’t matter how good or bad the product is the fact is that people dont read anymore, the whole product is flawed at the top because people don’t read anymore. Kondisi ini diperparah dengan daya beli masyarakat pembaca di Indonesia yang sangat rendah.

Lupakan jika Anda ingin kaya dari menulis buku, begitu kata Pak Wandi. Menulis buku hanyalah investasi awal untuk mempersepsikan kepakaran seseorang. Artinya, karya tulis dalam bentuk buku lebih  berfungsi   membentuk brand image.

Apa itu buku bermutu? Berikut ini beberapa indikator yang dapat dijadikan acuan:

  1. Obyektif
  2. Rasional
  3. Menawarakan terobosan
  4. Positive value
  5. Instrumental terhadap idealisme
  6. Komprehensif
  7. Metodis
  8. Sistematis
  9. Koheren
  10. Visualisasi dan bahasanya sesuai dengan target pembaca.

Sedangkan kriteria buku laku menurut Pak Wandi antara lain adalah:

  1. banyak orang berkepentingan
  2. terintegrasi dengan kepentingan lain
  3. promosinya spektakuler
  4. temanya trendi, sensasional, menyentil emosi masyarakat dan ‘nyrempet bahaya’
  5. penulisnya punya komunitas
  6. distribusi merata

Dari dua kriteria di atas lantas ada 4 kuadran untuk mengkategorikan buku: buku bermutu yang laku, buku bermutu yang tidak laku, buku tak bermutu yang laku dan buku tak bermutu yang tak laku. Apakah Anda sudah menulis buku? Kira-kira jika sudah pernah menulis, termasuk kategori yang manakah buku Anda?

Categories: starts small! Tags:

Tentang hak cipta…

October 10th, 2009 No comments

Jika kita menghargai hak cipta, tentunya kita semua sebagai insan akademis tidak akan menggunakan dan menjadi pintar berkat buku fotokopian. Namun apalah daya, bahkan sekedar untuk fotokopi saja kita sudah harus berhitung berapa nilai rupiah yang harus kita keluarkan. Mahasiswa Indonesia pada umumnya yang belajar dengan biaya minimal, dan koleksi perpustakaan yang terbatas tentu harus pontang-panting mencari referensi pinjaman. Yang lebih parah, referensi yang dipinjam dari kakak-kakak tingkatnya juga sudah fotokopian turunan ketiga. Sejujurnya, tak ada kenikmatan membaca buku fotokopian, tidak berwarna, tidak indah, hurufnya lebih banyak kabur beterbangan entah ke mana, jilidannya buruk, apalagi kertasnya juga kertas buram,…. lengkap sudah.

Tapi bertahun-tahun, hal ini tetap dilakukan juga. Entahlah, kapan kita bisa mengubah budaya ini.

Categories: starts small! Tags:

Oleh-Oleh dari Diklat Penulisan UB Press

October 10th, 2009 No comments

Hari Sabtu dan Minggu tanggal 10 dan 11 Oktober 2009, di Rektorat Lantai 8 diadakan Diklat Penulisan. Diklat ini mendatangkan rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Prof.Imam Suprayogo, peraih rekor MURI “Menulis Tanpa Jeda Selama Setahun di Website”, sebagai keynote speaker.  Beliau menyatakan bahwa kebiasaan menulis beliau berawal dari keisengan, mengisi waktu bakda subuh. Keprihatinan  tentang kurang atau tidak adanya budaya menulis di lingkungan perguruan tinggi  sudah sangat lama terasa. Pada suatu saat, ketika beliau harus memperbanyak jumlah koleksi buku untuk mencapai standar nasional perpustakaan perguruan tinggi, yang dikelolanya, mendesaknya budaya menulis buku di kalangan dosen kembali beliau rasakan, sebab buku komersial yang ada banyak yang tidak sesuai dengan kebutuhan Perguruan Tinggi yang bersangkutan, harganya mahal dan sebagian besar ditulis dalam bahasa asing. Akibatnya buku baru koleksi perpustakaan biasanya akan tetap baru alias tidak pernah dibaca. Selama ini belum ada kampus di Indonesia yang menerbitkan buku sendiri sejumlah 500 buku. Ada kampus yang dosennya 1500 orang,buku yang diterbitkan hanya 10-15 saja  per tahunnya.

Seloroh Prof. Imam dengan rekan beliau di Dikti secara sambil lalu menginformasikan di Indonesia ada kampus yang dosennya 1500 orang, namun buku yang diterbitkan hanya 10-15 saja  per tahunnya.  Padahal, barat kampus adalah pohon, maka buah pohon tersebut tak hanya alumni namun juga buku, jurnal dan karya tulis yang dihasilkan.

Saat ini kebijakan beliau sebagai dosen UIN adalah memberikan insentif penulisan berupa laptop pada semua dosen UIN . Setelah itu lanjut beliau, beliau lebih bebas menegur dosen yang tidak rajin menulis. Rektor UIN ini setiap bakda Subuh, menulis di blog. Yang penting itu istiqomah, begitu imbuhnya.  Ide seseorang mengalir saja, pergaulan yang tepat, buku bacaan yang baik akan mendorong orang untuk lebih kreatif. Kreativitor utama hanya Allah SWT,Allah maha kreatif, sebab sifat Allah adalah pencipta. Oleh karena itu, beliau menyarankan peserta diklat untuk rajin beribadah, bergaul dengan Allah, sehingga tertular kreativitasNYA. Selain itu hal penting lainnya adalah berupaya menjadi pengambil keputusan yang baik. Ambil dan pilih pilihan terbaik dalam segala hal. Inipun bisa menjadi sumber ilham yang tak akan pernah kering. Inkuiri, rasa ingin tahu manusia, serta semangat bertanya harus diarahkan pada hal-hal yang positip dan konstruktif. Jangan sampai membaca hal-hal yang tidak baik, itu akan menyebabkan kita tidak produktif. Jangan lupa membaca Al Qur-an, inilah sebaik-baik bahan bacaan. Segeralah menulis. Tulislah apa yang bisa Anda tulis.

Terimakasih pak, semoga saya dan teman-teman bisa mengikuti jejak Bapak.

Categories: starts small! Tags:

Protected: PHKI: rest in peace!

October 10th, 2009 Enter your password to view comments.

This post is password protected. To view it please enter your password below:

Categories: Amal Ilmiah, PHKI Tags:

Artikel SRI

October 2nd, 2009 No comments

Semiloka SRI 2 sudah berlangsung kemarin. UB’s Guest House jadi semarak dengan kehadiran para narasumber, termasuk Prof. Norman Uphoff. Sayang tidak semua delegasi petani SRI dapat menghadirinya, sebagian besar karena masalah administrasi. Satu catatan untuk sekretaris, seharusnya bisa lebih baik, dan harus lebih baik di masa mendatang, sebab ekspedisi pos kurang dapat diandalkan. Perlu waktu untuk memastikan semua hal berjalan lancar. Tetapi bagaimanapun, silaturahmi akan tetap jalan, antara lain melalui WEB ini.

Categories: SRI, WORK STATION Tags: