Archive

Archive for March 9th, 2012

Desentralisasi alokasi anggaran riset dan pengabdian masyarakat

Hari ini, Jumat 9 Februari 2012 pukul 09.00-11.00 bertempat di ruang sidang lantai 2 FP UB berlangsung sosialiasi dan koordinasi BPPK FP UB dengan agenda utama pembahasan desentralisasi anggaran penelitian dan pengabdian masyarakat bagi dosen di lingkungan FP UB.

Mewakili Kaprodi Agribisnis yang hari ini berhalangan hadir karena bertugas ke luar kota, beberapa catatan meeting hari ini mungkin cukup informatif bagi kolega.

1. Rencana implementasi desentralisasi anggaran riset sebagaimana telah ditetapkan oleh LPPM UB berlaku efektif sejak tahun anggaran 2012

2. Berkenaan dengan kebijakan desentralisasi anggaran riset dan pengabdian pada masyarakat tersebut PD II FP UB akan mengajukan revisi anggaran, sebab anggaran yang sudah turun berdasarkan pagu tahun pengajuan 2011 hanya lebih kurang Rp 50 juta untuk penelitian saja

3. Revisi anggaran dijadwalkan sekitar bulan Mei tahun ini.

4. Besaran anggaran penelitian ditetapkan Rp 3 juta per dosen dan anggaran pengabdian masyarakat sebesar Rp 1,5 juta per dosen. Angka ini ditetapkan berdasarkan standar BAN PT

5. Rapat pimpinan memutuskan mekanisme pencairan anggaran berbasis kelompok peneliti (1 orang ketua peneliti dan dua orang anggota peneliti)

6. Berkenaan dengan mekanisme implementasi masih muncul perdebatan di kalangan peserta rapat. Beberapa pertanyaan kritis yang dapat dikutip hari ini antara lain adalah:

a. Prof.Dr. Ir. Syekhfani: mengusulkan agrososioforestri dikelola oleh Prof. Kurniatun H. Selain itu peran laboratorium dalam hibah insentif penelitian dan pengabdian masyarakat ini perlu ditata ulang

b. Dr.Ir. Arifin Noor: Revitalisasi pusat kajian dalam kaitannya dengan insentif dana riset individu perlu difasilitasi oleh BPPK dengan mengadakan meeting rutin, sosialisasi road map penelitian ke pusat-pusat kajian, dsb. Jumlah pusat kajian berbasis komoditas perlu ditambah, sehingga kepakaran UB semakin eksis.

c.Dr. Ir. Nuhfil Hanani:  salah satu indikator perguruan tinggi terkemuka adalah jumlah penelitian, paten dsb, termasuk keberadaan sejumlah pusat kajian apalagi jika pusat kajian tersebut bertaraf internasional. Insentif hibah penelitian sebagaimana telah ditetapkan diharapkan dapat menjadi stimulus bagi dosen untuk meningkatkan karya penelitian mereka, sehingga pada gilirannya dapat memacu bertambahnya angka publikasi ilmiah dosen. Dengan demikian usulan alokasi dana hibah secara berkelompok perlu ditinjau ulang.

d.Dr.Ir. Damanhuri: dosen berhak mengelola secara mandiri dana hibah insentif riset tersebut, bisa secara berkelompok maupun mandiri. Jadi disarankan tidak terlalu ketat mengelola anggaran dengan harapan semua dosen dapat memperoleh KUM yang dibutuhkan setiap kali pelaksanaan EKDB (Evaluasi Kinerja Dosen Bersertifikat)

Rapat sosialisasi hari ini masih menyisakan banyak agenda bagi meeting-meeting berikutnya. Namun let’s move forward!

Presentasi ketua BPPK hari ini dapat diunduh di bawah ini:Profil BPPK 2012 Read more…

Categories: starts small! Tags: