Archive

Archive for November, 2012

LECTURE NOTE 1

November 13th, 2012 No comments

Lecture note berikut dapat diunduh sebagai materi pembelajaran pertama pada mata kuliah Pemasaran Hasil Pertanian. Sebagaimana telah didiskusikan pada post lain pada kategori Ilmu Amaliah, sub kategori Agroniaga sangat penting dipahami ruang lingkup bahan kajian pada mata kuliah ini. Mengingat keluasan dan kedalaman bahan kajian yang harus dipelajari selama satu semester, mahasiswa diharapkan dapat secara serius memperkaya learning resource. Pada post-post berikutnya saya akan tautkan beberapa link penting yang dapat diakses sebagai learning resources.

bab1 Read more…

Categories: AGRONIAGA, Ilmu Amaliah, starts small! Tags:

PEMASARAN HASIL PERTANIAN

November 12th, 2012 No comments

Pemasaran Hasil Pertanian merupakan salah satu mata kuliah dalam kurikulum pra KBK yang tetap dipertahankan. Mata kuliah ini secara resmi dikelola oleh Laboratorium Ekonomi Pertanian Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian FP UB. Sebelumnya selain mata kuliah Pemasaran Hasil Pertanian kurikulum lama juga menawarkan mata kuliah Manajemen Pemasaran (Marketing Management). Pendekatan pemasaran hasil pertanian dari aspek bahan kajian lebih banyak difokuskan pada produk pertanian yang dipasarkan dalam bentuk fresh product. Fresh agriculture product, sebagaimana banyak dicitrakan baik secara teoritik maupun empirik, merupakan produk yang memiliki cukup banyak kelemahan, di antaranya mudah rusak alias mudah busuk. Tanpa penangangan dan pengolahan pasca panen yang tepat hampir semua produk pertanian tidak dapat disimpan lama. Kelemahan yang lain adalah produk ini bersifat voluminous. Kita dapat membayangkan perhiasan emas seharga Rp 10 juta tentunya dapat diwujudkan sebagai seuntai kalung atau sebentuk cincin permata. Produk pertanian, katakanlah salak seharga Rp 10 juta, sebagai perbandingan tentu tidak dapat disimpan dalam safe deposit box atau diselipkan di jari manis. Perlu gudang untuk menyimpan buah salak seharga Rp 10 juta. Hal ini berarti biaya simpan, belum lagi biaya-biaya lain yang harus dialokasikan selama buah salak tersebut belum dikonsumsi. Produk pertanian secara umum dikenal sebagai produk musiman. Hal ini terkait dengan proses biologis sebagai aktivitas produksi pertanian. Dampaknya adalah terjadinya fluktuasi jumlah dan harga musiman di pasar produk pertanian. Pemasaran hasil pertanian dengan demikian menjadi bidang kajian yang sangat kompleks.

Marketing management di sisi lain, mempelajari aspek pemasaran dari sisi yang berbeda. Fokus kajian lebih ditekankan pada upaya-upaya mengelola pasar produk pertanian melalui marketing mix. Marketing management menurut pendapat saya memiliki area kajian yang lebih luas, sebab tidak saja dapat diimplementasikan pada fresh agriculture product namun termasuk processed agriculutre product. Dari pisang hingga menjadi keripik pisang, dan pisang olahan lain sampai pada konsumen terentang mata rantai yang sungguh panjang dengan banyak pelaku pada setiap level nilai tambah yang dihasilkan.

Pada titik ini, pertanian lebih sesuai dipotret dengan pendekatan sistem agribisnis, yang sebagaimana diketahui terdiri dari setidaknya empat sub sistem yaitu agroindustri hulu, on farm sub system, agroindustri hilir dan sub sistem penunjang (termasuk di dalam sub sistem ini pemasaran pertanian).

Erat kaitannya dengan kedalaman dan keluasan bahan kajian pemasaran hasil pertanian, 3 sks terasa tidak cukup untuk membidik semua learning outcome yang harus dikuasai oleh lulusan Program Studi Agribisnis. Namun sekali lagi, dengan 144 jumlah total sks yang harus diselesaikan pada level strata 1, cukup merepotkan bila bahan kajian ini harus diselenggarakan dalam mata kuliah yang berbeda. Selain itu aspek pemasaran agribisnis seharusnya menjadi mata kuliah integrasi dengan bahan kajian lintas laboratorium. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa dapat memiliki perspektif yang lengkap baik ekonomi pertanian maupun manajemen agribisnis berikut aspek policy yang tak dapat dipisahkan dari praktek pasar. Read more…

Categories: AGRONIAGA, starts small! Tags:

SEMINAR NASIONAL DAN TEMU ALUMNI FPUB 2012

November 11th, 2012 No comments

Rangkaian acara Dies Natalis FPUB yang ke 52 tahun ini mengagendakan seminar nasional dan temu alumni.  Acara ini merupakan agenda rutin tahunan yang diselenggarakan setiap Dies Natalis. Topik seminar tahun ini adalah Rumah Pangan Lestari dalam Perspektif Ketahanan dan Kemandirian Pangan Keluarga. Bertempat di Gedung  Widya Loka Jumat 9 November 2012, seminar nasional dibuka pukul 08.30 oleh Dekan FP UB. Tampil sebagai nara sumber pada seminar nasional ini:

1. Dr.Ir. Haryono, MSc. Kepala Badang Litbang Pertanian yang menyampaikan makalah berjudul Model Kawasan Rumah Pangan Lestari: Upaya Mencapai Ketahanan Pangan Keluarga dan Pola Pangah Harapan tahun 2014

2. Dr.Ir. Suhardi, MSc. Ketua DPD HKTI Yogyakarta membawakan makalah berjudul Komitmen Kinerja Kebijakan Nasional terhadap Pembangunan Ketahanan  Pangan di Indonesia

3. Dr. Ir.Rachmat Pambudy (Pemerhati Pertanian dan Dosen Pasca Sarjana IPB) menyampaikan materi tentang Membangun Model Kelembagaan Agribisnis menuju Ketahanan Pangan Nasional

4. BKP Jatim membawakan materi Model Optimasi Pemanfaatan Sumberdaya Lahan dalam Memperkokoh Ketahanan Pangan

5. Prof. Dr. Ir.Nuhfil Hanani, MS menyampaikan Konsep Ketahanan Pangan Nasional Menuju Pertanian Berlanjut

Tema Rumah Pangan Lestari menawarkan sudut pandang yang sedikit berbeda atas wacana akademik ketahanan pangan yang umumnya dianalisis dari aspek makro dan meso. Rumah Pangan Lestari (RPL) menguatkan aspek mikro pangan, dengan mencoba menempatkan rumahtangga sebagai pelaku utama dalam sistem ketahanan pangan nasional. Hal ini sesuai dengan pernyataan Presiden RI pada Konferensi Dewan Ketahanan Pangan (JICC, Oktober 2010) yang menegaskan bahwa :

1. Ketahanan pangan dimulai dari rumahtangga

2. Pemanfaatan pekarangan merupakan entry point strategis membangun ketahanan dan kemandirian pangan rumahtangga

Konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari dikembangkan berdasarkan prinsip ketahanan pangan rumahtangga, diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal dan konservasi biodiversitas lokal. Read more…