Archive

Archive for March 27th, 2017

Ketika Prodi Agribisnis Sibuk Menyiapkan SAR AUNQA

March 27th, 2017 No comments

Sesuai janji visi meraih daya saing Asia Pasifik pada kurun waktu hingga 2020, saat ini Prodi Agribisnis sedang sibuk menyiapkan dokumen SAR AUNQA. Dokumen ini nantinya akan memberikan penguatan atas klaim daya saing program studi pada level Asia. Pada prinsipnya, semua dokumen yang harus disiapkan, ditulis dan didokumentasikan merupakan management review. Manajemen, sebuah pemahaman saintifik sekaligus artistik. Lazim didefinisikan, manajemen adalah ilmu dan seni. Sisi seni yang kemudian pada tahapan implementasi memberikan arti beda pada banyak subtansi yang sebenarnya hampir sama. Entah berupa potensi atau problematika, seni menatakelola atau menjalankan sebuah proses manajemen tidak pernah akan sama. Manajemen pendidikan tinggi menurut opini saya pribadi adalah suatu hal yang multi tafsir. Tak mudah mengarahkan harmonisasi begitu banyak elemen  pendidikan tinggi dalam sebuah orkestra bernama Tri Dharma. Bagi seorang dosen, memainkan titik keseimbangan sebagai titik tumpu optimal alokasi waktu multi peran yang harus dijalani tidak pernah mudah.

Konsinyeringpun digelar di Hotel Royal Orchid Kota Batu. Dosen dan staf administrasi yang telah memperoleh surat tugas sebagai tim penyusun dokumen AUNQA pun diberangkatkan dan diisolasi selama dua hari semalam untuk melaksanakan tugasnya. Proses isolasi ini tampaknya penting, sebab koordinasi  pada hari kerja sungguh amat sulit dilakukan. Alokasi tugas sudah didelegasikan, setiap tim kecil bekerja di meja bundar yang telah disiapkan pihak hotel. Ada satu topik diskusi hangat pada kriteria 1 SAR-AUNQA tentang generic vs specific skills. Lulusan S1 kami, sebaiknya memiliki standar kompetensi yang spesifik atau generik. Idealnya yang kedua kategori kompetensi baik spesifik maupun generik. Tapi tentu saja jawaban ini tidak cukup baik. Pertanyaan lanjutan yang harus dijawab adalah kompetensi generik yang mana dan kompetensi spesifik yang mana pula?

Generic skills atau sering diistilahkan sebagai transferable skills adalah keterampilan dan kemampuan yang relevan dan bermanfaat dalam beragam ruang lingkup kehidupan baik secara sosial, profesional maupun akademik. Keterampilan ini merupakan portable skills.  Keterampilan generik ini dikembangkan sepanjang hidup melalui cara belajar yang sangat beragam, sehingga tentu saja tidak melulu diperoleh dari proses belajar mengajar formal di institusi pendidikan. Beberapa sumber referensi yang dapat dicermati adalah sebagai berikut:

https://www.skillsyouneed.com/general/transferable-skills.html

Beberapa jenis keterampilan generik yang banyak disebutkan antara lain:

1. Team work

2. Leaderhsip

3. Personal motivation, organization and time management

4. Listening

5. Written communication

6. Verbal communication

7. Research and analytical skills

8. Numeracy skills

9. Personal development

10. Information technology

Sejujurnya, ini topik yang menarik dan menantang untuk didiskusikan. Apalagi berdasarkan tracer study dan survei yang dilakukan ke sejumlah pengguna lulusan, mereka menunjukkan minat yang sama besar pada atribut keterampilan generik sebagaimana telah dideskripsikan di atas. Topik ini akan coba saya kembangkan dalam post-post selanjutnya. Besar harapan saya tulisan ini dapat memancing beberapa komentar konstruktif sebagai sumbang sarang.

 

Categories: starts small! Tags:

Belajar (Bukan) Mission Impossible !

March 27th, 2017 No comments

Totalitas proses belajar mengajar ibarat mission impossible untuk setiap pelakunya. Ini adalah persoalan melakukan ‘hal-hal yang tak mungkin’. Ini tentang menembus batas bernama ketidakmungkinan, ketidakbisaan menuju “Aku Tahu, Aku Mau, Aku Bisa!” Keseluruhan proses  ini akan mendorong kita semua sebagai insan pembelajar, untuk menikmati petualangan besar dan gelombang rasa ingin tahu dan  ingin bisa! Pelan tapi pasti, pembiasaan perilaku belajar yang benar akan menggeser nilai akhir sebagai ouput proses belajar. Tentu, sebab pembelajar sepanjang hayat meyakini benar tak ada akhir dalam proses yang berlangsung hingga hembusan nafas terakhir. Nilai, hanya terminal. Nilai hasil belajar, ibarat begitu banyak stasiun, terminal atau pelabuhan yang kita singgahi dalam sebuah perjalanan panjang. Semangat ini yang menjadi alasan saya untuk tidak pernah memberikan persentase dominan penilaian akhir perkuliahan semester pada ujian akhir. Seringkali bahkan tugas dan praktikum secara proporsional menjadi kontributor signifikan hingga dua kali lipat dibandingkan nilai ujian akhir. Konsep penting pertama: belajar adalah proses. Deskripsi singkat ini secara implisit menyampaikan pesan bahwa belajar tidak mengenal batas waktu, usia, dan kategori lain. Belajar dipandang sebagai proses multidimensional, bisa searah, bisa dua arah, bisa multi arah dan melibatkan banyak pelaku. Demikian juga, tak ada keharusan belajar harus serius dan khusyuk, karena belajar juga bisa dilakukan sambil guyon dan bercanda, belajar tidak harus di kelas karena bisa saja prosesnya terjadi sambil minum kopi, berdiskusi dan berdebat dengan teman-teman tentang suatu topik.

Learning outcome dewasa ini selalu menjadi tujuan terpenting dari setiap proses rancang bangun kurikulum dan penetapan rancangan perkuliahan. Namun demikian learning outcome tak pernah menjadi harga mati bagi proses belajar sepanjang hayat.  Pengalaman belajar saya pribadi seluruhnya adalah hal yang saya rasakan dan jalani sebagai sesuatu yang luar biasa. Catatan ini mengawali post di tahun 2017. Studi saya menyelesaikan gelar doktor tak juga kunjung selesai. Meski banyak menuai kritik dan himbauan untuk melakukan berbagai breakthrough dan percepatan, saya tidak merasakan semua itu sebagai sebuah tekanan. Kritik saya terima sebagai saran dan dorongan atas nama kemajuan. Di sela kesibukan, pencarian, perjuangan panjang dan banyak proses yang melelahkan, menulis dan blogging semacam ini sungguh menjadi penghiburan.

Seharusnya semangat aku bisa dan tidak akan menyerah, terus mengilhami saya dan Anda.

Categories: starts small! Tags: