Archive

Archive for September, 2017

Sesi Menulis Pagi Hari

September 5th, 2017 No comments

Memasuki minggu kedua perkuliahan semester ganjil 2017/2018, tak banyak perubahan situasi yang teramati. Gairah belajar yang tinggi jelas terpancar di mata mahasiswa baru Program Studi Agribisnis. Hal-hal yang baru seringkali menularkan harapan,  hal-hal yang bahkan tidak harus selalu didefinisikan. Harapan dimaknakan di sepanjang perjalanan. Delapan puluh persen mahasiswa di kelas baru mata kuliah Pengantar Ekonomi Pertanian dikirim oleh orang tua wali mahasiswa dari luar kota Malang. Universitas Brawijaya bersama dengan lembaga pendidikan tinggi lainnya baik negeri maupun swasta tak pelak menjadi stimulan urbanisasi yang masif penduduk Indonesia berusia produktif ini. Wajah Malang kota urban yang macet dengan serba-serbi hal ihwalnya akan terus menjadi sumber kisah inspiratif perjalanan sejumlah besar putra-putri bangsa ini. Ada suka duka, sukses dan kegagalan yang dirangkai silih berganti dari tahun ke tahun, dari satu nama ke nama lainnya. Belajar adalah curahan energi yang besar untuk berubah.

Pagi ini, alarm telepon genggam melantunkan sepotong lagu. Saya sudah terbangun sejak pukul 2 dini hari. Tepat pukul 3 saya buka blog ini. ‘Ahh, saya belum menjadi penulis blog yang setia!’ Posting terakhir saya bertanggal 28 Maret 2017. Seharusnya saya lebih berkomitmen lagi, meski saya tahu pasti dari seluruh slot official blog yang disediakan untuk para dosen di UB, blog ini merupakan salah satu yang masih terus dimaintenance. Tiga tahun berturut-turut saat masa kepemimpinan Prof Yogi Sugito sebagai Rektor UB, saya pernah mendapat penghargaan atas dedikasi saya menulis di blog ini. Jadi ada rasa bersalah di hati saya jika blog ini terlantar. Saya pribadi menilai, sepanjang dimanfaatkan secara baik, dengan cara yang benar, menulis di blog sama efektifnya dengan media menulis lain. Pesan dan informasi yang bertebaran di alam maya melalui jaringan nirkabel bernama internet dewasa ini telah menjadi keniscayaan. Ada satu penggalan diri kita berselancar bersama milyaran penggalan diri orang lain membentuk koneksitas dalam keragaman, kecepatan dan akumulasi kuantitatif yang sangat luar biasa.

Ketika waktu terus bergerak maju, linier dengan laju konstan, dua puluh empat jam per hari dan 365 hari per tahun mengelilingi matahari, kita menua dalam arus perubahan. Namun jika kita bersedia duduk untuk sejenak merenung, sesungguhnya ada banyak hal yang tak pernah berubah sepenuhnya. Di kelas, saat bertemu dengan mahasiswa, bagi saya mereka adalah representasi jamak personalitas dengan totalitas karakternya. Enam belas tahun mengajar, satu saja pertanyaan yang muncul berulang di benak saya. Repetitif, menjadikan saya skeptis. ‘Apakah mereka suka membaca?’ Apakah mereka masih suka membuka jendela dunia, begitu orang membuat metafora tentang kegiatan membaca. Ya, karena berbicara, menulis dan membaca saat ini sudah sama efisiennya sebagai bentuk komunikasi. Apakah mereka lebih senang berfoto dibandingkan menulis? Lebih suka menulis dibandingkan membaca? Terasa benar sebab itu fenomena yang saya amati cukup lama.

Kemarin, saya harus menjelaskan kembali terminologi ekonomi pertanian. Apa itu agribisnis, seseksi apa bidang ini sebagai sebuah pilihan profesi kelak? Program Studi Agribisnis, sebagaimana dilansir melalui sejumlah pemberitaan media, termasuk sepuluh besar program studi paling diminati di negeri ini. Tak banyak pertanyaan ‘mengapa?’. Sepengetahuan saya, minat lulusan SMA untuk melanjutkan kuliah di Program Studi Agribisnis tak pernah berkurang sejak pertama kali saya mengajar di Universitas Brawijaya. Hanya saya juga menyadari, motivasi yang berbedalah yang menggerakkan lulusan SMA dari tahun ke tahun untuk bergabung dengan Program Studi ini. Masuk Program Studi Agribisnis saja jika setelah lulus kita ingin kerja di salah satu Bank ternama. Lho? Ini pernyataan yang selalu bisa membuat saya tersenyum. Bukan hal yang salah kok! Kompetensi yang mereka miliki setelah lulus, memang didesain memungkinkan mereka bekerja di bank. Apakah semua bank? Tergantung banyak hal. Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang sebagian besar nasabahnya berdomisili di perdesaan dan bermata pencaharian sebagai petani, akan sangat cocok dengan profil lulusan Program Studi Agribisnis. Bagaimana dengan bank lain? Masih memungkinkan juga. Saya punya teman senior, beliau lulusan MIPA dan bekerja di Bank Mandiri sebelum pensiun. Bank ada kalanya juga melakukan open recruitment untuk sarjana dari semua jurusan. Apakah tipologi pekerjaan di Bank segenerik itu, sehingga semua lulusan perguruan tinggi diperlakukan sama padahal pada saat kuliah mereka mempelajari hal yang berbeda? Sepanjang pengetahuan saya hampir semua bank memberikan pelatihan pada calon pegawai barunya. Di titik simpul ini saya lantas sejenak membuat catatan, berarti masih banyak employer yang lebih menitikberatkan pada basic knowledge dan transferable skills lulusan Perguruan Tinggi.

Ditinjau dari jenis kelamin, proporsi mahasiswi Program Studi Agribisnis lebih besar daripada mahasiswanya. Karena secara proporsional jumlah perempuan lebih banyak, wajar mahasiswi juga lebih banyak lulus cumlaude. Mereka ini, tak lama setelah lulus kemudian menikah. Kebanyakan dengan pacar selama kuliah. Sekilas observasi saya tak sedikit dari mereka kemudian hanya menjadi ibu rumahtangga, tak memasuki pasar kerja komersial dan memilih berbisnis online. Pilihan ini tidak salah juga. Sisi lain kisah yang harus dilalui jika kita berjenis kelamin perempuan. Saya bahkan punya teman saat sama-sama kuliah di S2 Ekonomi Pertanian yang sekarang hanya menjadi ibu rumahtangga, membesarkan anak-anak dan mendampingi suaminya yang bekerja di sebuah perkebunan kelapa sawit. Salah satu eks mahasiswa bimbingan saya yang selanjutnya berkesempatan memperoleh bea siswa fast track ke S2 juga memilih menjadi istri dan ibu, tinggal di rumah membesarkan anak dan mengurus rumahtangga.

Categories: starts small! Tags: