Archive

Archive for June 5th, 2018

Di Bawah Tegakan Pohon Jati

Jati, atau dikenal dengan nama Latin Tectona grandis, adalah salah satu produk komersial hutan Indonesia. Jati diolah menjadi beragam produk furnitur. Kayu jati telah berabad lamanya tumbuh berkembang bersama peradaban nusantara. Sangat umum kita lihat bagaimana kayu jati menjadi master piece maha karya yang indah di tangan para pengukir Jepara dan Bali. Kemarin 28 Mei 2018, tim kami sempat bersafari ke Nganjuk. Kabupaten Nganjuk lebih dari 30% bentang lahannya merupakan kawasan hutan. Memang jika kita melakukan perjalanan ke Kediri, Madiun, Jombang, Nganjuk, Bojonegoro, Saradan dan sekitarnya, pemandangan hutan produksi dengan ciri komoditas kayu homogen menjadi ilustratif view yang membingkai sepanjang perjalanan. Kebetulan ini bulan kering, Nganjuk sudah dua bulan terakhir tak lagi hujan. Debu yang melapis tipis tebal terbang mengudara bersama geliat panas. Dedaunan jati menguning, merontok, mengering menutup sekitaran tanah di kaki pohon. Sesekali tampak tanaman jagung, di sela-sela baris jati yang berbanjar rapi. Langkah kami membawa kaki hingga ke tepian hutan. Memasuki kawasan, walau beberapa di antara tim kami sudah sangat mengenal hutan, pastilah tak akan pernah mampu menyusuri seluruh luasannya. Kami mulai bertanya, dan menerima jawaban dengan pandang mata awas yang penuh selidik. Wajah-wajah yang tak terkesan ramah. Magersari, ya inilah tujuan kami berangkat. Magersari bisa merujuk pada nama tempat, namun juga bisa digunakan sebagai representasi sebuah komunitas pekerja hutan yang tinggal di dalam kawasan hutan. Terkadang di tepian hutan,tidak jarang di tengah rimba. Persisnya, magersari atau magersaren ini komunitas yang tinggal di perbatasan  hutan dan desa-desa sekitar kawasan hutan. Adalah karya riset fenomenal Nancy D.Peluso, di tahun 1990an yang sempat kubaca saat S2 di tahun 1998-1990an yang lantas  teringat seperti remahan cahaya di arus pikiran.

Hutan jati, Perhutani, Magersari

Hutan jati, Perhutani, Magersari

Hutan kaya, rakyat melarat. Itu judulnya. Dalam versi aslinya Rich Forest, Poor People. Karya ini kembali menjadi fenomenal saat Peluso di tahun 2004-2006 kembali ke Indonesia untuk mengonfirmasi, adakah orang-orang yang dulu ‘miskin’ masih miskin atau sebaliknya menjadi kaya raya? Jawabannya tentu bisa diduga, masih miskin! Dan lalu, konsep teori dan data empirik kemiskinanpun berhamburan menjadi ledakan pertanyaan di kepala ini. Pilihan referensial satu-satunya yang saya miliki adalah ‘Magersari: Dinamika Komunitas Petani-Pekerja Hutan dalam Perspektif Antropologi Hukum’ karya Prof I Nyoman Nurjaya Guru Besar UB  tahun 2005 yang diterbitkan oleh UM Press.  Prof Nurjaya menyatakan dalam bukunya, secara geografis komunitas magersari terpisah dari pemukiman penduduk desa kawasan hutan. Magersari lazimnya tinggal di hutan dalam kurun waktu cukup lama bahkan secara turun temurun. Mereka mengandalkan hutan sebagai sumber penghidupannya. Magersaren adalah pesanggem, yaitu petani tumpangsari di lahan Perhutani, dan sekaligus blandong atau pekerja hutan.  Perum Perhutani sangat mengandalkan blandong untuk kegiatan produksi kehutanan seperti penyadapan getah, penggarapan lahan kebun kopi, pembibitan, penanaman bibit pohon (reforestasi), penjarangan tanaman, penebangan kayu, penyaradan sampai pengangkutan ke tempat-tempat penimbunan. Berpetualang di bawah tegakan pohon jati tampaknya akan memberikan pengalaman inteletualitas sekaligus psikologis yang luar biasa. Terimakasih ya Rabb untuk hari ini.