Archive

Archive for the ‘Amal Ilmiah’ Category

UB Menuju World Class Entrepreunerial University

December 22nd, 2012 No comments

Banyak opini saat gagasan tentang UB sebagai world class entrepreunerial university pertama kalinya dicanangkan. Sebagian besar mencibir pada awalnya. Tampaknya masih sulit memahami bagaimana sebuah perguruan tinggi berevolusi meraih citra diri yang terdengar komersial di telinga awam. Sejumlah spekulasi segera beredar. Sebagian skeptis, sebagian apatis, sebagian lain sangat optimistik. Mereka yang secara langsung terlibat pada pengembangan inkubator bisnis termasuk dalam kategori ketiga. Mereka langsung mengambil posisi proaktif. Respon terdepan inipun menuai hasil berkilau. Model inkubator bisnis UB termasuk salah satu yang selalu menjadi rujukan universitas lain. Dirjen Dikti pun acung jempol.

Saya sendiri termasuk civitas akademika yang memilih bersikap skeptis. Satu alasan utama saya adalah saya berangkat dari pemahaman bahwa membangun entrepreunerial university, tak sebatas mengganti logo institusi dengan menempatkan globe di dalamnya bersanding dengan logo Raja Brawijaya dari Kerajaan Majapahit atau membangun gedung inkubator bisnis yang megah di kawasan jalan Veteran. Visi menjadi Entrepreunersial University adalah fungsi dari entrepreunerial corporate culture. Budaya korporat yang berorientasi pada kewirausahaan tak mungkin dibangun tanpa reyasa sosial yang revolusioner bernama entrepreunerial mindset.  Sebagaimana kita insyafi bersama membangun pola pikir, mengubah kultur dan perilaku tidaklah semudah membalik telapak tangan.

Sebuah bisnis yang baik,tidak dibangun dalam sehari. Dari titik ini menuju world class entrepreunerial university terasa sungguh di luar jangkauan kita untuk meraihnya. Namun, marilah kita coba gali dari sudut pandang yang berbeda. Asian Economic Community (AEC) sebagai perwujudan AFTA pada tahun 2015 dapat diartikan sebagai invasi besar-besaran tenaga kerja terampil dari negara-negara maju di kawasan Asia. Jujur saya katakan persaingan ini tidak berimbang. Untuk merespon hal ini, satu alternatif lain bagi lulusan UB harus ditawarkan. Sudah saatnya bersiap untuk bergerak di kuadran II dan III Robert Kiyosaki, yakni menjadi self employed dan business owner. Dengan kata lain, peluang alternatif ini bernama entrepreunership.

Sebagai salah satu pengajar di fakultas pertanian, sebagai salah satu warga UB, saya tak dapat lari dari semua arus perubahan ini. Pilihannya adalah mencoba beradaptasi secepat mungkin, sebaik mungkin dengan tingkat resiko dan biaya seminimal mungkin (mengadopsi istilah bisnis: better, faster dan cheaper). Berikut ini beberapa tulisan yang saya turunkan khusus untuk berbagi opini dengan Anda semua. Read more…

Protected: Antara Evaluasi Kurikulum, Penetapan Learning Outcome dan KKNI

November 21st, 2012 Enter your password to view comments.

This post is password protected. To view it please enter your password below:

WORKSHOP PENGEMBANGAN KABUPATEN BLITAR SEBAGAI PUSAT RUJUKAN ENTERPREUNERSHIP ATSIRI DI WILAYAH INDONESIA TIMUR

June 22nd, 2010 2 comments

Selasa, 22 Juni 2010 bertempat di Kantor Pemda Kabupaten Blitar diselenggarakan WORKSHOP bertema PENGEMBANGAN KABUPATEN BLITAR SEBAGAI PUSAT RUJUKAN ENTERPREUNERSHIP ATSIRI DI WILAYAH INDONESIA TIMUR. Workshop ini diselenggarakan dalam rangka sosialiasi program kolaborasi triple helix antara UB, Kabupaten Blitar dan Perum Perhutani untuk meningkatkan daya saing Patchouli Oil sebagai produk unggulan Kabupaten Blitar. Workshop ini dihadiri oleh tak kurang dari 100 orang berasal dari  berbagai kalangan yaitu Dikti, BPPTI, Perum Perhutani, LMDH, SKPD  Pemkab Blitar, DPRD Kabupaten Blitar Komisi 2, Dewan Riset Inovasi Daerah (DRID), Para Camat, Ketua Pokja Produk Unggulan, dan Tim PHKI UB serta perwakilan dari Kementrian Ristek dan Kementrian Pemuda dan Olah Raga.

Dalam sambutannya, Bupati Kabupaten Blitar memaparkan bahwa daerah Blitar kaya potensi pertanian. Dengan demikian perekonomian Kabupaten Blitar masih ditunjang oleh sektor pertanian. Meski perekonomian di Blitar tumbuh 6% per tahun namun kontribusi sektor industri dan perdagangan pada PAD tak lebih dari 28%. Hal ini diakui oleh Bupati Blitar sebagai kelemahan perekonomian di Blitar yaitu kurang berimbangnya struktur perekonomian. Dengan demikian substansi pembangunan daerah Kabupaten Blitar adalah pemberdayaan potensi dan peningkatan daya saing daerah. Untuk itu Pemkab Blitar telah merancang Program Putri Kencana (Produk Unggulan Industri Kecamatan) dengan konsep one village one product.

Selengkapnya materi workshop dapat diunduh di bawah ini:

1. Pidato Bupati Blitar

2. Keynote Speech-Dirjen Dikti

3. PRESENTASI LPPM UB

4. PRESENTASI BPPT

5.PRESENTASI RISTEK

6.PRESENTASI BAPPEDA

7.PRESENTASI DRID

8.PRESENTASI PERHUTANI

Protected: PHKI: rest in peace!

October 10th, 2009 Enter your password to view comments.

This post is password protected. To view it please enter your password below:

Categories: Amal Ilmiah, PHKI Tags:

Kurikulum Berbasis Kompetensi: proses inisiasi!

August 18th, 2009 No comments

UB’s Guest House: 15 Agustus 2009

Hari ini tim KBK FP UB berkesempatan jumpa lagi dengan Pak Endro Tomo. Beliau tetap langsing dan bersahaja. Saya kagum pada beliau karena banyak hal, terutama karena ketenangan dan kedalaman pola pikirnya. Tentu seperti yang saya duga sebelumnya, workshop kurikulum kali inipun masih kental diwarnai perdebatan dan kritik. Bagi saya sendiri perubahan kurikulum dan semua masalah yang ditimbulkan tak banyak memberikan ruang untuk berargumen. Sederhana saja, draft dokumen kurikulum yang sudah diSK menjadi tugas kami, bisa tuntas. Kami merasa sudah bekerja keras, cerdas dan ikhlas,tapi  rasanya pekerjaan ini tak pernah tuntas… (Bekerja keras, wong sudah luamaa sekali, dengan skedul kerja lembur yang gak bisa lagi dihitung jari; bekerja cerdas… lha wong demi KBK kami harus banyak baca dan belajar; kerja ikhlas, wong lebih banyak agenda kerja di luar scheme honor…… Sediiihhhh sekali rasanya menanti kapan proses ini bisa happy ending!)

Saya berangkat dari rumah ke Workshop Kurikulum yang digelar FP UB hanya dengan satu doa: tugas yang diamanahkan pada saya bisa selesai hari ini. Jadi, tentu saja saya mulai kecewa, sedikit emosi ketika mencermati betapa sulitnya critical opinion forum dibangun.

Akhir cerita, pukul 16 lebih, Pak Endro memberikan closing untuk evaluasi proses penataan KBK yang sudah kami rintis sejak dua tahun lalu. Tak seperti biasanya, beliau memutarkan satu klip pendek untuk kami. Mungkin klip film tersebut disuntingnya sendiri. Film pendek berdurasi sekitar dua menit itu, bercerita tentang 4 batang lilin yang putus asa: Lilin pertama bernama PERUBAHAN; lilin kedua bernama IMAN; lilin ketiga bernama CINTA. Ketiga lilin pertama itu padam karena rasa kecewa. Namun lilin keempat, yang karena merasa harus tetap menyala demi menenangkan seorang anak yang takut pada kegelapan, berkata:”Jangan takut, aku akan tetap menyala untukmu, dan selama aku -HARAPAN- tetap menyala, engkau masih bisa menyalakan ketiga lilin lainnya!”

Diam-diam saya menangis, haru! Pesan ini sangat mengena di hati saya. Ketika terkadang rasa lelah menyerang tanpa rasa kasihan. Betapa sulitnya memaknai sebuah perubahan. Betapa besarnya kendala mengubah sebuah paradigma. Tapi seperti kata Pak Endro, perubahan itu sendiri akan abadi…

Belajar adalah berubah! Berubah itu abadi! Maka kita harus belajar sepanjang hayat! Tak hanya untuk to know, tetapi lebih untuk to be, to learn more, and to live together! Seandainya, guru-guru besar kami seluruhnya berkenan menghadiri workshop kemarin, dan tetap berbesar hati untuk tetap tinggal hingga penghujung acara, hingga segenap opini diwacanakan, sampai kesimpulan dibacakan:mungkin membangun kesepahaman akan lebih mudah. Tersentak aku tersadar, mungkin sebagi seorang maha guru (karena kami ini gurunya mahasiswa), kebiasaan berbicara saat mengajar, membuat kami kehilangan kemampuan untuk mendengar dan  menyimak.

Suatu hari nanti saya  percaya akan tiba masanya kita semua sampai ke ujung doa! Harapan ini  masih menyala! Join UB, be the best!

TATIEK KOERNIAWATI ANDAJANI, SP.MP.

Program Studi Agribisnis  FP UB

Memahami Konsep Operasional UMKM

July 30th, 2009 3 comments

Posting ini saya tulis untuk memenuhi janji saya saat sosialisasi aktivitas PHKI tema C di Jurusan Sosek FP UB tanggal 28 Juli kemarin.Meski hanya berupa review singkat, karena saya percaya setiap kita telah mengenal UMKM, saya berharap posting ini akan bermanfaat terutama pada saat pelaksanaan site evaluation tanggal 3-5 Agustus nanti.

Batasan klasifikasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) serta Industri Mikro Kecil dan Menengah (IMKM) penting untuk diketahui supaya bantuan, fasilitas maupun program yang akan diberikan oleh pemerintah atau lembaga lainnya dapat tepat pada sasaran. Buku I Kebijakan dan Stategi Umum Pengembangan Industri Kecil Menengah Departemen Perindustrian dan Perdagangan RI tahun 2002, menyatakan bahwa industri mikro kecil dan menengah (IMKM) tergolong dalam batasan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Pengertian dan batasan mengenai usaha mikro, kecil, dan menengah terdapat pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Uraian mengenai pengertian dan batasan tersebut dapat dilihat di bawah ini:

A. Usaha Mikro

1)   Definisi Usaha Mikro

Definisi Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan atau badan usaha perorangan yang memenuhi Kriteria Usaha Mikro yaitu:

  • Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
  • Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

2)   Ciri-Ciri Usaha Mikro

Ditinjau berdasarkan aspek permodalannya, Usaha Mikro berbeda dengan Usaha Kecil maupun Usaha Menengah. Adapun ciri-ciri Usaha Mikro menurut Tanjung (2008) adalah :

  • Jenis barang/komoditi usahanya tidak selalu tetap, sewaktu-waktu dapat berganti.
  • Tempat usahanya tidak selalu menetap, sewaktu-waktu dapat pindah tempat.
  • Belum melakukan administrasi keuangan yang sederhana sekalipun, dan tidak memisahkan keuangan keluarga dengan keuangan usaha.
  • Sumber daya manusianya (pengusahanya) belum memiliki jiwa wirausaha yang memadai.
  • Tingkat pendidikan rata-rata relatif sangat rendah.
  • Umumnya belum akses kepada perbankan, namun sebagian dari mereka sudah akses ke lembaga keuangan non bank.
  • Umumnya tidak memiliki izin usaha atau persyaratan legalitas lainnya termasuk NPWP.

Meskipun demikian, usaha mikro memiliki kelebihan sebagai berikut :

  • Perputaran usaha (turn over) cukup tinggi, kemampuannya menyerap dana yang mahal dan dalam situasi krisis ekonomi kegiatan usaha masih tetap berjalan bahkan terus berkembang.
  • Tidak sensitif terhadap suku bunga.
  • Tetap berkembang walaupun dalam situasi krisis ekonomi dan moneter.
  • Pada umumnya berkarakter jujur, ulet, lugu dan dapat menerima bimbingan asal dilakukan dengan pendekatan yang tepat.

3)   Contoh Usaha Mikro

Contoh-contoh Usaha Mikro perlu diketahui untuk memudahkan identifikasi dalam pengumpulan data di lapangan. Beberapa contoh Usaha Mikro antara lain :

  • Usaha tani pemilik dan penggarap perorangan, peternak, nelayan dan pembudidaya.
  • Industri makanan dan minuman, industri meubelair pengolahan kayu dan rotan, industri pandai besi pembuat alat-alat.
  • Usaha perdagangan seperti kaki lima serta pedagang di pasar.
  • Peternakan ayam, itik dan perikanan.
  • Usaha jasa-jasa seperti perbengkelan, salon kecantikan, ojek dan penjahit (konveksi).

B. Usaha Kecil

1)   Definisi Usaha Kecil

Definisi Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil yaitu:

  • Memiliki kekayaan lebih dari Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
  • Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

2)   Ciri-Ciri Usaha Kecil

Ciri-ciri Usaha Kecil menurut Tanjung (2008), antara lain :

  • Jenis barang atau komoditi yang diusahakan umumnya sudah tidak gampang berubah.
  • Lokasi atau tempat usaha umumnya sudah menetap tidak berpindah-pindah.
  • Pada umumnya sudah melakukan administrasi keuangan walau masih sederhana, keuangan perusahaan sudah mulai dipisahkan dengan keuangan keluarga, sudah membuat neraca usaha.
  • Sudah memiliki izin usaha dan persyaratan legalitas lainnya termasuk NPWP.
  • Sumberdaya manusia (pengusaha) memiliki pengalaman dalam berwirausaha.
  • Sebagian sudah akses ke perbankan dalam hal keperluan modal.
  • Sebagian besar belum dapat membuat manajemen usaha dengan baik seperti business planning.

Selanjutnya menurut Jatmiko (2005) dikemukakan bahwa karakteristik dari Usaha Kecil pada umumnya adalah :

  • Dikelola oleh pemiliknya.
  • Modal terbatas.
  • Jumlah tenaga kerja terbatas.
  • Berbasis keluarga atau rumah tangga.
  • Lemah dalam pembukuan.
  • Manajemen usaha sangat tergantung pada pemilik.

3)   Contoh Usaha Kecil

Beberapa contoh Usaha Kecil/Industri Kecil yang ada di Indonesia antara lain :

  • Usaha tani sebagai pemilik tanah perorangan yang memiliki tenaga kerja.
  • Pedagang di pasar grosir (agen) dan pedagang pengumpul lainnya.
  • Pengrajin industri makanan dan minuman, industri meubelair, kayu dan rotan, industri alat rumah tangga, industri pakaian jadi dan industri kerajinan tangan.
  • Peternakan ayam, itik dan perikanan.
  • Koperasi berskala kecil.

C. Usaha Menengah

1)   Definisi Usaha Menengah

Definisi Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih dan hasil sebagai berikut :

  • Memiliki kekayaan lebih dari Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
  • Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).

2)   Ciri-Ciri Usaha Menengah

Secara umum ciri-ciri Usaha Menengah menurut Tanjung (2008) meliputi :

  • Umumnya telah memiliki manajemen dan organisasi yang lebih baik, lebih teratur bahkan lebih modern, dengan pembagian tugas yang jelas antara lain, bagian keuangan, bagian pemasaran dan bagian produksi.
  • Telah melakukan manajemen keuangan dengan menerapkan sistem akuntansi dengan teratur, sehingga memudahkan untuk auditing dan penilaian atau pemeriksaan termasuk oleh perbankan.
  • Telah melakukan aturan atau pengelolaan dan organisasi perburuhan, telah ada Jamsostek, pemeliharaan kesehatan dan lain sebagainya.
  • Sudah memiliki segala persyaratan legalitas antara lain izin tetangga, izin usaha, izin tempat, NPWP, upaya pengelolaan lingkungan dan lain-lain.
  • Sudah memiliki akses terhadap sumber-sumber pendanaan perbankan.
  • Umumnya telah memiliki sumber daya manusia yang terlatih dan terdidik.

3)   Contoh Usaha Menengah

Usaha Menengah memiliki permodalan yang lebih kuat dibandingkan Usaha Mikro dan Usaha kecil, sehingga Usaha Menengah mampu memasuki hampir seluruh sektor sebagai berikut :

  • Usaha pertanian, perternakan, perkebunan, kehutanan skala menengah.
  • Usaha perdagangan (grosir) termasuk ekspor dan impor.
  • Usaha jasa EMKL (Ekspedisi Muatan Kapal Laut), garmen dan jasa transportasi taksi dan bus antar propinsi.
  • Usaha industri makanan dan minuman, elektronik dan logam.
  • Usaha pertambangan batu gunung untuk kontruksi dan marmer buatan.

Secara umum pengertian UMKM adalah usaha yang memproduksi barang dan jasa yang menggunakan bahan baku utama berbasis pada pendayagunaan sumber daya alam, bakat dan karya seni tradisional dari daerah setempat. Adapun ciri-ciri UMKM meliputi :

  • Bahan baku mudah diperoleh.
  • Menggunakan teknologi sederhana sehingga mudah dilakukan alih teknologi.
  • Keterampilan dasar umumnya sudah dimiliki secara turun-temurun.
  • Bersifat padat karya atau menyerap tenaga kerja yang cukup banyak.
  • Peluang pasar cukup luas, sebagaian besar produknya terserap di pasar lokal/domestik dan tidak tertutup sebagian lainnya berpotensi untuk diekspor.
  • Beberapa komoditi tertentu memiliki ciri khas terkait dengan karya seni budaya daerah setempat.
  • Melibatkan masyarakat ekonomi lemah setempat.
  • Secara ekonomis menguntungkan.

Dikutip dari : Laporan Survei UMKM PemKab Pasuruan

 

 

Categories: Amal Ilmiah, PHKI Tags:

REFERENSI PENYUSUNAN EVALUASI DIRI

Era akuntabilitas dalam penyelenggaraan manajemen pendidikan tinggi, menyibukkan banyak pihak, termasuk kami untuk menyusun evaluasi diri yang baik. Sulit pada awalnya. Tapi bukankan setiap permulaan pasti sulit. Untuk kolega yang saat ini sedang  menyusun evaluasi diri institusi, berikut saya tautkan beberapa referensi kiat, tips, trik (apapun lah istilahnya) untuk menyusun evaluasi diri insitusi yang baik. Semoga bermanfaat!

nurturing-phki-2007

Categories: Amal Ilmiah, PHKI Tags:

Referensi PHKI tahun usulan 2009

Atas nama tim task force, saya ucapkan terimakasih atas respon yang baik dari seluruh sivitas akademika di lingkungan Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian UB. Tak ada  yang lebih bisa menghapus semua rasa lelah kami selain, penerimaan dan harapan. Semoga site evaluation ini berhasil kita lalui. Berikut ini saya tautkan beberapa referensi tentang PHKI dari sumber aslinya, semoga bermanfaat untuk yang pertama kali belajar berpartisipasi.

struktur-proposal-awal-phki

panduan-phk-i-2010

panduan penulisan laporan phki

Categories: Amal Ilmiah, PHKI Tags:

PHKI: persiapan site evaluation

Mohon dukungan seluruh sivitas akademika untuk site evaluation PHKI UB tema C tanggal 3-5 Agustus 2009

Materi sosialisasi dapat diunduh di bawah ini:

sosialisasi-phki-28-juli-2009

paparan-rpjmd-kabupaten-pasuruan

Categories: Amal Ilmiah, PHKI Tags:

SOSIALISASI PHKI

PS Agribisnis tahun ini mengajukan proposal PHKI tema C bersama PS Administrasi Bisnis, PS Keteknikan Pertanian dan LPPM UB. Tema yang diusung adalah peningkatan daya saing UMKM agribisnis, berkolaborasi dengan Pemkab Pasuruan. Kabupaten Pasuruan dipilih sebagai mitra dalam Program Hibah Kompetisi berbasis Institusi tahun usulan 2009 ini mengingat track record kerjasama yang cukup panjang dengan UB, khususnya LPPM.  Saat ini proposal yang diajukan sudah sampai tahapan site evaluation, setelah dua kali lolos seleksi pra proposal dan desk evaluation proposal lengkap.

Semoga kegiatan ini bermanfaat bagi kita semua. Leaflet sosialisasi khusus untuk warga PS Agribisnis dapat diunduh di bawah ini:

leaflet-phki-sosek

leaflet-sosek-color-version

Categories: Amal Ilmiah, PHKI Tags:

Learning How to Learn

Sukses belajar di Perguruan Tinggi sangat tergantung pada banyak determinan. Selain kesehatan, kecerdasan, penguasaan dasar pendidikan yang baik, hal penting lain yang justru berperan sangat signifikan adalah motivasi belajar dan penguasaan metode belajar yang efektif dan efisien. Belajar secara efektif dapat diartikan sebagai proses belajar dengan menggunakan kuantifikasi dan kualifikasi input belajar tertentu untuk mencapai output pembelajaran yang maksimal. Sedangkan belajar secara efisien diartikan sebagai upaya pencapaian output belajar yang maksimal melalui minimalisasi pemanfaatan input belajar.

Beberapa tulisan singkat berisi tips & trik belajar efektif dan efisien di Perguruan Tinggi dapat dibaca pada posting berikut ini

manajemen proses belajar

Categories: Amal Ilmiah, KBK Tags:

Strategi Menentukan Profil Kompetensi Lulusan Bidang Agrokompleks

Pendidikan di bidang agrokompleks mempunyai peranan yang besar pada sistem pendidikan di Indonesia. Pengetahuan mengenai agrokompleks secara global serta pengaruhnya terhadap pasar lokal maupun internasional merupakan hal penting yang harus diketahui oleh mahasiswa. Adalah menjadi keharusan agar setiap mahasiswa bidang agrokompleks memahami bahwa pemenuhan kebutuhan masyarakat dalam bidang agrokompleks merupakan strategi kunci bagi suatu bangsa untuk menjadi bangsa yang mandiri dan bermartabat, karena bidang agrokompleks berhubungan langsung dengan kebutuhan dasar umat manusia yaitu pangan dan serat bahkan kebutuhan bioenergi.

Pada abad 21 peningkatan kebutuhan produksi pangan dunia dari tahun ke tahun cenderung terus meningkat. Hal ini terjadi karena pertumbuhan yang pesat dari populasi dunia. Kecenderungan ini mengakibatkan timbulnya masalah yang sangat besar dalam menjaga keseimbangan antara kegiatan agrokompleks dengan kualitas lingkungan, karena pada kondisi tertentu kegiatan agrokompleks menyebabkan degradasi lingkungan. Untuk mengatasi hal ini diperlukan suatu paradigma baru dalam pendidikan agrokompleks.

Pendidikan bidang pertanian dewasa ini harus merupakan integrasi dari kegiatan agrokompleks, kualitas dan kelestarian lingkungan dan eksplorasi sumberdaya alam untuk mendukung sustainable production agriculture. Dengan demikian perubahan kurikulum pertanian pada semua tingkatan merupakan suatu keharusan. Untuk merealisasikan hal ini diperlukan suatu strategi pendidikan yang inovatif agar dapat menghubungkan berbagai aspek yang terkait. Langkah pertama adalah mengidentifikasi kecenderungan dan arah perubahan bidang pertanian yang telah terjadi maupun yang akan datang.

Lulusan bidang agrokompleks diharapkan mampu mengeksplorasi realitas isu-isu aktual seputar agro environtment. Isu-isu tersebut harus dipertimbangkan dari berbagai aspek sudut pandang, seperti keteknikan, ekonomi, sains, etika, sosial, politik praktis, estetika, sejarah dan sistemik. Untuk itu lulusan bidang agrokompleks dinilai perlu diperkenalkan pada keahlian-keahlian baru terutama dalam bidang environtmental law, environtmental economics and environmental education. Selain itu, penguasaan penggunaan instrumentasi pertanian dan lingkungan untuk meningkatkan produktivitas, penerapan teknologi informasi, pengembangan pertanian yang berkelanjutan (sustainable agriculture), kewirausahaan dan agribisnis, bioteknologi dan genetic engineering, organic farming, controlled environment agriculture, konservasi air dan lahan pertanian merupakan kompetensi utama yang harus dimiliki lulusan bidang agrokompleks. Pentingnya peranan pertanian dalam strategi ketahanan nasional dewasa ini tak dapat diingkari, oleh karena itu lulusan bidang pertanian juga perlu dibekali dengan nilai-nilai kemanusiaan, seperti sosial, ekonomi, budaya dan politik.

Kurikulum yang dikembangkan diharapkan dapat mengantisipasi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan hasil-hasil penelitian di lapang maupun laboratorium, dalam rangka menjaga keseimbangan produksi pertanian dengan kelestarian lingkungan dan sumber-sumberdaya alam. Namun demikian karena bidang agrokompleks merupakan bidang yang sangat luas cakupannya, maka hampir tidak mungkin mengharapkan lulusan menguasai semua area ilmu secara mendalam. Untuk itu disarankan agar lulusan bidang agrokompleks mempunyai pemahaman yang luas mengenai pertanian (broad understanding of agriculture), tetapi penekanan pada life long learning competency merupakan suatu prasyarat kompetensi. Di samping itu kemampuan berkomunikasi, kerjasama tim, self directed learning, problem based learning, holistic/systemic approaches, self awareness dan critical reflection, open learning serta penggunaan teknologi informasi merupakan hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan profil kompetensi lulusan agar mampu bersaing.

Re: Membangun Profil Sarjana Agribisnis

Profil lulusan Program Studi Agribisnis yang relevan berdasarkan klasifikasi peluang kerja, antara lain:

  1. Kuadran 1 (be employed): manajer dan praktisi atau operator di bidang agribisnis, birokrat (PNS, perancang kebijakan, dsb), akademisi (pendidik, peneliti, pengkaji, konsultan, pelatih, dsb), fasilitator pengembangan agribisnis (pengurus LSM atau bentuk organisasi lain, koperasi, perbankan, dsb)
  2. Kuadran 2 (self employed): pengrajin agribisnis (misalnya: pe-bonsai, pengrajin kriya berbahan baku limbah pertanian, dsb), pengamat dan penulis di bidang agribisnis
  3. Kuadran 3 (business owner): wirausaha agribisnis, ekspor impor, pemilik institusi keuangan yang menyediakan jasa permodalan agribisnis, dsb
  4. kuadran 4 (investor): investor di bidang agribisis

Profil sarjana agribisnis versi Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia (FKPTPI) tahun 2007 tidak berbeda jauh dengan profil di atas yaitu:

  1. Planner-Designer
  2. Field Manager-Organizer
  3. Evaluator-Assesor
  4. Inovator-Komunikator
  5. Adaptor-Kooperator
  6. Inisiator-Kreator
  7. Mediator-Fasilitator
Categories: Amal Ilmiah, KBK, starts small! Tags:

MEMBANGUN PROFIL SARJANA AGRIBISNIS

Profil lulusan adalah jawaban atas pertanyaan: lulusan seperti apa yang akan dihasilkan oleh Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian UB. Dengan kata lain profil lulusan merujuk pada peran yang diharapkan bisa dilakukan oleh alumnus. Peran ini mungkin merupakan suatu profesi, jenis pekerjaan khusus atau bentuk kerja yang bisa digunakan dalam beberapa bidang yang lebih umum.


Categories: Amal Ilmiah, KBK, starts small! Tags: