Archive

Archive for the ‘Ilmu Amaliah’ Category

UB Menuju World Class Entrepreunerial University

December 22nd, 2012 No comments

Banyak opini saat gagasan tentang UB sebagai world class entrepreunerial university pertama kalinya dicanangkan. Sebagian besar mencibir pada awalnya. Tampaknya masih sulit memahami bagaimana sebuah perguruan tinggi berevolusi meraih citra diri yang terdengar komersial di telinga awam. Sejumlah spekulasi segera beredar. Sebagian skeptis, sebagian apatis, sebagian lain sangat optimistik. Mereka yang secara langsung terlibat pada pengembangan inkubator bisnis termasuk dalam kategori ketiga. Mereka langsung mengambil posisi proaktif. Respon terdepan inipun menuai hasil berkilau. Model inkubator bisnis UB termasuk salah satu yang selalu menjadi rujukan universitas lain. Dirjen Dikti pun acung jempol.

Saya sendiri termasuk civitas akademika yang memilih bersikap skeptis. Satu alasan utama saya adalah saya berangkat dari pemahaman bahwa membangun entrepreunerial university, tak sebatas mengganti logo institusi dengan menempatkan globe di dalamnya bersanding dengan logo Raja Brawijaya dari Kerajaan Majapahit atau membangun gedung inkubator bisnis yang megah di kawasan jalan Veteran. Visi menjadi Entrepreunersial University adalah fungsi dari entrepreunerial corporate culture. Budaya korporat yang berorientasi pada kewirausahaan tak mungkin dibangun tanpa reyasa sosial yang revolusioner bernama entrepreunerial mindset.  Sebagaimana kita insyafi bersama membangun pola pikir, mengubah kultur dan perilaku tidaklah semudah membalik telapak tangan.

Sebuah bisnis yang baik,tidak dibangun dalam sehari. Dari titik ini menuju world class entrepreunerial university terasa sungguh di luar jangkauan kita untuk meraihnya. Namun, marilah kita coba gali dari sudut pandang yang berbeda. Asian Economic Community (AEC) sebagai perwujudan AFTA pada tahun 2015 dapat diartikan sebagai invasi besar-besaran tenaga kerja terampil dari negara-negara maju di kawasan Asia. Jujur saya katakan persaingan ini tidak berimbang. Untuk merespon hal ini, satu alternatif lain bagi lulusan UB harus ditawarkan. Sudah saatnya bersiap untuk bergerak di kuadran II dan III Robert Kiyosaki, yakni menjadi self employed dan business owner. Dengan kata lain, peluang alternatif ini bernama entrepreunership.

Sebagai salah satu pengajar di fakultas pertanian, sebagai salah satu warga UB, saya tak dapat lari dari semua arus perubahan ini. Pilihannya adalah mencoba beradaptasi secepat mungkin, sebaik mungkin dengan tingkat resiko dan biaya seminimal mungkin (mengadopsi istilah bisnis: better, faster dan cheaper). Berikut ini beberapa tulisan yang saya turunkan khusus untuk berbagi opini dengan Anda semua. Read more…

Dokumen Akademik: KETAHANAN PANGAN

November 19th, 2012 No comments

Beras di Indonesia adalah komoditas pangan paling strategis sebab dikonsumsi oleh hampir seluruh penduduk, serta diproduksi oleh sebagian besar petani Indonesia. Karena pentingnya peran beras baik dari sisi permintaan maupun penawaran, beras telah dianggap sebagai komoditas politik. Sampai saat permasalahan dalam perberasan Indonesia dalam kondisi yang memprihatinkan. Indonesia walaupun termasuk negara produsen beras terbesar ketiga setelah China dan India, namun dalam segi impor tergolong negara pengimpor terbesar.

Sementara itu kondisi petani beras dicirikan dengan : (a) skala kecil, (b) modal terbatas, (c) teknologi sederhana, (d) sangat dipengaruhi musim, (e) wilayah pasarnya lokal, (f) umumnya berusaha dengan tenaga kerja keluarga sehingga menyebabkan terjadinnya involusi pertanian (pengangguran tersembunyi), (g) akses terhadap kredit, teknologi, dan pasar sangat rendah, (h) rendahnya penanganan pasca panen dan mutu produk dan (i) lemahnya posisi tawar petani.Berdasarkan kenyataan tersebut, maka kebijakan perberasan tidak saja dituntut mampu meningkatkan produksi, namun dituntut juga memperbaiki kesejahteraan petani.

Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya telah menjalin cukup banyak kerjasama di bidang ketahanan pangan, salah satunya adalah dengan Bulog. Saat ini Bulog meluncurkan program baru yaitu Bulog Onfarm. Program ini dimaksudkan untuk mengintervensi ketahanan pangan langsung pada pelaku produksi di akar rumput yaitu petani dan kelompok tani.  Sinergis dengan program-program tersebut, berbagai ihtiar para formulator kebijakan sudah sampai pada tahapan implementasi di tingkat mikro. Balitbang Kementan meluncurkan Program Kawasan Rumah Pangan Lestari. Namun bagaimanapun semua program perlu dikaji tindak serta selalu dimonitoring pada level operasional. Begitupun berbagai wacana dan gagasan akademik ini menjadi sangat penting untuk disosialisasikan terutama kepada mahasiswa. Alasan terpenting yang melatarbelakanginya tentu saja sebab di pundak merekalah tanggung jawab memberi makan dunia kelak akan berada.

Berikut beberapa dokumen akademik yang relevan dengan tema di atas. Mahasiswa dapat mengunduh materi-materi berikut sebagailearning resources.

Kebijakan Revitalisasi Penggilingan Padi

20120704-Manajemen dan Distribusi Stok Beras BULOG

Read more…

Indikator Unsustainable Agriculture

November 19th, 2012 No comments

Perjalanan supervisi magang kerja ke TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru),  adalah salah satu perjalanan lapang tersulit tahun ini bagi saya, terutama karena medan yang sangat buruk dan jauh yang harus ditempuh. Jumlah mahasiswa Program Studi Agribisnis ada dua orang. Cukup bangga sebab masih ada mahasiswa yang punya idealisme untuk secara langsung turun lapang. Beberapa foto di bawah ini merupakan oleh-oleh perjalanan lapang dan sedikitnya dapat memberikan gambaran situasi pertanian, terkait dengan indikator pertanian yang tidak sustainable.

Laporan magang kerja yang telah dilakukan oleh mahasiswa menyatakan bahwa usahatani hortikultura yang dilakukan oleh petani setempat sama sekali tidak memperhatikan aspek konservasi lahan. Petani setempat melakukan budidaya hortikultura tanaman semusim tanpa membuat sarana prasarana pencegah erosi baik air maupun angin.

Read more…

Sinopsis Perjalanan Lapang: Sustainable Agriculture

November 19th, 2012 No comments

Sistem pertanian berlanjut merupakan sistem pertanian yang layak secara ekonomi dan ramah lingkungan, yang dicapai melalui optimalisasi faktor biotik dan abiotik dalam agroekosistem. Di tingkat bentang lahan pengelolaannya difokuskan pada pemanfaatan biodiversitas tanaman pertanian dalam mempertahankan pollinator, pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit, hidrologi (kuantitas dan kualitas air) dan mengurangi emisi karbon. Banyak macam penggunaan lahan yang tersebar di seluruh bentang lahan, yang mana komposisi dan sebarannya beragam tergantung pada beberapa faktor antara lain iklim, topografi, jenis tanah, vegetasi dan kebiasaan serta adat istiadat masyarakat yang ada disekelilingnya. Selama kuliah, mahasiswa mempelajari tentang beberapa indikator kegagalan pertanian berlanjut baik dari segi ekonomi, biofisik dan sosial. Guna meningkatkan pemahaman mahasiswa akan dasar-dasar konsep pertanian berlanjut di daerah tropis dan penerapannya di tingkat lanskap maka pengenalan pengelolaan bentang lahan yang terpadu di bentang lahan sangat perlu dilakukan.

Isu-isu tentang krisis pangan sebagai dampak levelling off produktivitas sektor pertanian sebagai penghasil pangan dewasa ini telah berkembang menjadi tidak saja krisis pangan namun mulai menampakkan efek domino hingga pada level pengambil keputusan. Berikut ini diunggah sejumlah artikel bagi para pemerhati, dan mereka yang memiliki keprihatinan sama pada keberlanjutan sektor pertanian sebagai salah satu elemen biologis terpenting untuk menyangga kehidupan komunitas manusia di muka bumi ini.

Materi Ekonomi Lingkungan

Read more…

Mengenal Struktur Pasar

November 19th, 2012 No comments

Pasar memfasilitasi transfer pemilikan suatu barang atau jasa dari satu pihak ke pihak lainnya. Setiap kali pemilikan atas suatu barang atau jasa dipindahtangankan, selalu terjadi penetapan harga. Dalam analisis keseimbangan pasar dikenal konsep harga keseimbangan yang memungkinkan unit marginal produk terakhir yang dipasok ke pasar dijual pada level yang sama dengan kesediaan konsumen untuk membayarnya. Solusi keseimbangan semacam ini hanya dapat dicapai pada kondisi pasar persaingan murni dan atau sempurna. Namun demikian kondisi pasar persaingan murni atau sempurna ini mensyaratkan sejumlah asumsi yang sangat ketat. Dengan kata lain konsep pasar persaingan murni atau sempurna merupakan gambaran ideal bekerjanya mekanisme pasar. Akan tetapi dalam kondisi riil, struktur pasar khususnya pasar produk-produk pertanian tidak berlangsung di bawah asumsi persaingan sempurna. Oleh karena itu selain struktur pasar persaingan sempurna dikenal beberapa struktur pasar lainnya yaitu monopoli, oligopoli, monopsoni dan oligopsoni. Monopoli dan monopsoni merupakan struktur pasar yang sangat dekat dengan gambaran umum pasar produk-produk pertanian masaran formal yang menangani produk-produk ekspor atau secara langsung dijual pada industri pengolah bahan pangan. Dalam pasar semacam ini, sebelum sampai ke konsumen akhir produk pertanian ditransformasikan melalui teknik-teknik prosesing industri pangan. Dengan demikian permintaan langsung terhadap produk-produk pertanian berasal tidak saja dari permintaan rumahtangga namun terutama dari berbagai perusahaan dan industri serta organisasi pemasaran formal sebagaimana tersebut di atas.

Pada umumnya dalam analisis pasar diasumsikan terjadi transaksi langsung antara produsen (petani) dengan konsumen akhir bahan pangan. Kasus ini masih dapat dijumpai di negara-negara ke tiga, namun sejalan dengan transformasi pertanian subsisten menjadi agroindustri proporsi produk pertanian yang dijual dengan cara langsung semakin kecil. Sebagian besar produk pertanian dijual pada pedagang besar dan  organisasi-organisasi pemasaran formal yang menangani produk-produk ekspor atau secara langsung dijual pada industri pengolah bahan pangan. Dalam pasar semacam ini, sebelum sampai ke konsumen akhir produk pertanian ditransformasikan melalui teknik-teknik prosesing industri pangan. Dengan demikian permintaan langsung terhadap produk-produk pertanian berasal tidak saja dari permintaan rumahtangga namun terutama dari berbagai perusahaan dan industri serta organisasi pemasaran formal sebagaimana tersebut di atas.

 Untuk dapat memahami struktur pasar bagi produk-produk pertanian mula-mula akan dikemukakan beberapa konsep dasar dalam struktur pasar persaingan dilanjutkan dengan konsep struktur pasar spesifik yang lebih mendekati karakteristik struktural pasar produk-produk pertanian dan bahan pangan. Mahasiswa disarankan membuka kembali catatan kuliah pada mata kuliah Pengantar Ekonomi Pertanian untuk memberikan review singkat konsep permintaan dan penawaran produk pertanian dan teori struktur pasar.

Read more…

Categories: AGRONIAGA, Ilmu Amaliah, starts small! Tags:

LECTURE NOTE 2

November 13th, 2012 No comments

Pada lecture note kedua yang saya unggah di bawah ini, dapat dipelajari beberapa pendekatan dalam mempelajari aspek pemasaran dalam pertanian. Sebagai salah satu contoh adalah pendekatan komoditas. Marilah kita pilih satu komoditas pertanian sebagai kasus: tebu dan gula. Tebu adalah commercial crops, ditanam oleh petani dengan mengikuti pola permintaan turunan (derived demand function) sebab tebu adalah bahan baku utama gula pasir. Tebu bukan tanaman pangan, artinya hasil panen tebu harus dijual. Pilihan petani tebu adalah menjualnya ke pabrik gula (PG) atau ke pabrik gula merah tradisional. Dari aspek produksi, tebu merupakan sub sistem on farm yang terdistegrasi vertikal dengan agroindustri pengolahnya yaitu PG. PG memiliki pabrik gula sebagai aset. Di sisi lain petani memiliki lahan dan tenaga kerja sebagai sumberdaya produktif potensial. Cukup kompleks permasalahan tebu, sebab 80 persen PG di Indonesia berlokasi di pulau Jawa di mana lahan merupakan kendala utama pengembangan sektor pertanian. Dilaporkan secara statistik, pemilikan lahan tebu oleh petani adalah sangat kecil. Kecilnya lahan, minimnya modal usahatani, dan struktur agroindustri yang tidak terintegrasi secara vertikal menempatkan permasalahan pemasaran hasil panen tebu sebagai jantung permasalahan utama penyebab keterpurukan pergulaan Indonesia, yang hingga saat ini belum mampu berswasembada. Kiranya wacana akademik dan berbagai diskusi dapat dikembangkan dari materi ini. Sebagai dasar teori materi lecture note berikut dapat diunduh.

bab2 Read more…

LECTURE NOTE 1

November 13th, 2012 No comments

Lecture note berikut dapat diunduh sebagai materi pembelajaran pertama pada mata kuliah Pemasaran Hasil Pertanian. Sebagaimana telah didiskusikan pada post lain pada kategori Ilmu Amaliah, sub kategori Agroniaga sangat penting dipahami ruang lingkup bahan kajian pada mata kuliah ini. Mengingat keluasan dan kedalaman bahan kajian yang harus dipelajari selama satu semester, mahasiswa diharapkan dapat secara serius memperkaya learning resource. Pada post-post berikutnya saya akan tautkan beberapa link penting yang dapat diakses sebagai learning resources.

bab1 Read more…

Categories: AGRONIAGA, Ilmu Amaliah, starts small! Tags:

PEMASARAN HASIL PERTANIAN

November 12th, 2012 No comments

Pemasaran Hasil Pertanian merupakan salah satu mata kuliah dalam kurikulum pra KBK yang tetap dipertahankan. Mata kuliah ini secara resmi dikelola oleh Laboratorium Ekonomi Pertanian Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian FP UB. Sebelumnya selain mata kuliah Pemasaran Hasil Pertanian kurikulum lama juga menawarkan mata kuliah Manajemen Pemasaran (Marketing Management). Pendekatan pemasaran hasil pertanian dari aspek bahan kajian lebih banyak difokuskan pada produk pertanian yang dipasarkan dalam bentuk fresh product. Fresh agriculture product, sebagaimana banyak dicitrakan baik secara teoritik maupun empirik, merupakan produk yang memiliki cukup banyak kelemahan, di antaranya mudah rusak alias mudah busuk. Tanpa penangangan dan pengolahan pasca panen yang tepat hampir semua produk pertanian tidak dapat disimpan lama. Kelemahan yang lain adalah produk ini bersifat voluminous. Kita dapat membayangkan perhiasan emas seharga Rp 10 juta tentunya dapat diwujudkan sebagai seuntai kalung atau sebentuk cincin permata. Produk pertanian, katakanlah salak seharga Rp 10 juta, sebagai perbandingan tentu tidak dapat disimpan dalam safe deposit box atau diselipkan di jari manis. Perlu gudang untuk menyimpan buah salak seharga Rp 10 juta. Hal ini berarti biaya simpan, belum lagi biaya-biaya lain yang harus dialokasikan selama buah salak tersebut belum dikonsumsi. Produk pertanian secara umum dikenal sebagai produk musiman. Hal ini terkait dengan proses biologis sebagai aktivitas produksi pertanian. Dampaknya adalah terjadinya fluktuasi jumlah dan harga musiman di pasar produk pertanian. Pemasaran hasil pertanian dengan demikian menjadi bidang kajian yang sangat kompleks.

Marketing management di sisi lain, mempelajari aspek pemasaran dari sisi yang berbeda. Fokus kajian lebih ditekankan pada upaya-upaya mengelola pasar produk pertanian melalui marketing mix. Marketing management menurut pendapat saya memiliki area kajian yang lebih luas, sebab tidak saja dapat diimplementasikan pada fresh agriculture product namun termasuk processed agriculutre product. Dari pisang hingga menjadi keripik pisang, dan pisang olahan lain sampai pada konsumen terentang mata rantai yang sungguh panjang dengan banyak pelaku pada setiap level nilai tambah yang dihasilkan.

Pada titik ini, pertanian lebih sesuai dipotret dengan pendekatan sistem agribisnis, yang sebagaimana diketahui terdiri dari setidaknya empat sub sistem yaitu agroindustri hulu, on farm sub system, agroindustri hilir dan sub sistem penunjang (termasuk di dalam sub sistem ini pemasaran pertanian).

Erat kaitannya dengan kedalaman dan keluasan bahan kajian pemasaran hasil pertanian, 3 sks terasa tidak cukup untuk membidik semua learning outcome yang harus dikuasai oleh lulusan Program Studi Agribisnis. Namun sekali lagi, dengan 144 jumlah total sks yang harus diselesaikan pada level strata 1, cukup merepotkan bila bahan kajian ini harus diselenggarakan dalam mata kuliah yang berbeda. Selain itu aspek pemasaran agribisnis seharusnya menjadi mata kuliah integrasi dengan bahan kajian lintas laboratorium. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa dapat memiliki perspektif yang lengkap baik ekonomi pertanian maupun manajemen agribisnis berikut aspek policy yang tak dapat dipisahkan dari praktek pasar. Read more…

Categories: AGRONIAGA, starts small! Tags:

SEMINAR NASIONAL DAN TEMU ALUMNI FPUB 2012

November 11th, 2012 No comments

Rangkaian acara Dies Natalis FPUB yang ke 52 tahun ini mengagendakan seminar nasional dan temu alumni.  Acara ini merupakan agenda rutin tahunan yang diselenggarakan setiap Dies Natalis. Topik seminar tahun ini adalah Rumah Pangan Lestari dalam Perspektif Ketahanan dan Kemandirian Pangan Keluarga. Bertempat di Gedung  Widya Loka Jumat 9 November 2012, seminar nasional dibuka pukul 08.30 oleh Dekan FP UB. Tampil sebagai nara sumber pada seminar nasional ini:

1. Dr.Ir. Haryono, MSc. Kepala Badang Litbang Pertanian yang menyampaikan makalah berjudul Model Kawasan Rumah Pangan Lestari: Upaya Mencapai Ketahanan Pangan Keluarga dan Pola Pangah Harapan tahun 2014

2. Dr.Ir. Suhardi, MSc. Ketua DPD HKTI Yogyakarta membawakan makalah berjudul Komitmen Kinerja Kebijakan Nasional terhadap Pembangunan Ketahanan  Pangan di Indonesia

3. Dr. Ir.Rachmat Pambudy (Pemerhati Pertanian dan Dosen Pasca Sarjana IPB) menyampaikan materi tentang Membangun Model Kelembagaan Agribisnis menuju Ketahanan Pangan Nasional

4. BKP Jatim membawakan materi Model Optimasi Pemanfaatan Sumberdaya Lahan dalam Memperkokoh Ketahanan Pangan

5. Prof. Dr. Ir.Nuhfil Hanani, MS menyampaikan Konsep Ketahanan Pangan Nasional Menuju Pertanian Berlanjut

Tema Rumah Pangan Lestari menawarkan sudut pandang yang sedikit berbeda atas wacana akademik ketahanan pangan yang umumnya dianalisis dari aspek makro dan meso. Rumah Pangan Lestari (RPL) menguatkan aspek mikro pangan, dengan mencoba menempatkan rumahtangga sebagai pelaku utama dalam sistem ketahanan pangan nasional. Hal ini sesuai dengan pernyataan Presiden RI pada Konferensi Dewan Ketahanan Pangan (JICC, Oktober 2010) yang menegaskan bahwa :

1. Ketahanan pangan dimulai dari rumahtangga

2. Pemanfaatan pekarangan merupakan entry point strategis membangun ketahanan dan kemandirian pangan rumahtangga

Konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari dikembangkan berdasarkan prinsip ketahanan pangan rumahtangga, diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal dan konservasi biodiversitas lokal. Read more…

Catatan tentang MDG’s

February 19th, 2012 No comments

Millenium development goals, merupakan isu pembangunan penting berskala global yang wajib dipahami oleh mahasiswa. Sayang baru semester depan saya berencana memasukkan MDG’s sebagai salah satu bahan kajian pada mata kuliah Ekonomi Pembangunan Pertanian. Beberapa tautan di bawah ini dapat menjadi entry point kita untuk bersama-sama belajar tidak saja agar memahami namun terutama dapat memberikan kontribusi sesuai bidang dan kemampuan kita masing-masing.

Keterkaitan MDG’s dengan disiplin ilmu pertanian terutama pada sisi ketahanan dan kemandirian pangan dalam upaya memberantas kelaparan.Konsep-konsep penting terkait MDG’s menjadi bahan kajian penting dalam mata kuliah Ekonomi Pembangunan Pertanian . Untuk itu kami share beberapa dokumen dan artikel yang dapat dijadikan entry point khususnya sebagai learning resources bagi mahasiswa.

mdg’s

  Read more…

USAHATANI untuk Program D1 Hortikultura FP UB

January 29th, 2010 1 comment

Petani apel lokal di kota Batu saat ini tengah berada di persimpangan jalan. Peran petani apel sebagai juru tani tentu tak perlu dipertanyakan. Petani apel kita sudah sangat berpengalaman. Namun saat ini peran penting petani apel tak hanya sebagai juru tani, mereka juga harus berperan sebagai manajer usahatani yang handal. Petani apel harus berhadapan dengan apel impor sebagai kompetitor. Masalah-masalah yang timbul akibat ketergantungan pada input eksternal seperti pupuk dan obat-obatan di satu sisi harus dibenturkan pada kenyataan betapa mekanisme pasar tak berpihak pada petani kita yang belum kompetitif. Usahatani, adalah mata kuliah yang dirancang untuk membekali petani muda kota Batu dengan pengetahuan dan keterampilan manajerial yang akan sangat mereka perlukan bila tiba saatnya nanti menerjuni bisnis apel melanjutkan tradisi kebun apel keluarga yang selama bertahun-tahun memberikan kontribusi yang tak kecil pada kota Batu.

Untuk mahasiswa angkatan 2010, materi tugas dan modul pembelajaran pertama dapat diunduh di bawah ini.

Modul 1 Usahatani Apel

Categories: USAHATANI Tags: ,

Ringkasan Materi Kuliah Ekonomi Produksi Pertanian

November 20th, 2009 2 comments

Berikut ini, dapat diunduh ringkasan materi kuliah ekonomi produksi pertanian sebagai bahan bacaan.

ringkasan materi kuliah ekonomi produksi pertanian

Review: Ekonomi Pertanian

September 7th, 2009 No comments

Mungkin mahasiswa PS Agribisnis angkatan 2008 dan 2009 tidak lagi memperoleh mata kuliah ini, namun bahan kajian yang relevan dengan upaya pencapaian kompetensi lulusan PS Agribisnis, diupayakan dititipkan pada banyak mata kuliah. Bahan kajian dalam ekonomi pertanian umumnya disajikan dalam dua perspektif yaitu mikro ekonomi pertanian dan makro ekonomi pertanian. Beberapa tulisan saya tentang topik ini dapat diunduh. Semoga masih bermanfaat sebagai pustaka.

quick-review-1_-ekonomi-pertanian

AGRONIAGA: Pasar Produk Pertanian

Pada semester ganjil 2009-2010 ini saya mendapat distribusi mengajar tata niaga atau pemasaran produk pertanian. Meski menurut pendapat sebagian pakar, nama mata kuliah telah diatur sesuai nomenklatur yang berlaku tidak saja secara nasional namun bahkan internasional, saya termasuk orang yang tidak terlalu mempersoalkan hal ini. Bagi saya adalah jauh lebih penting esensi pembelajaran dan outcomes yang akan dicapai dalam prosesnya yaitu kompetensi.

Saya sudah beberapa tahun mengampu mata kuliah ini. Saat ini dengan semangat SCL (student centered learning) ada kewajiban moral yang lebih berat bagi saya terutama untuk menyediakan materi pembelajaran yang berkualitas. Tentu saja saya tidak dapat memberikan komitmen lebih dari I will do my best. Jadi mohon dimaafkan bila postingan materi pembelajaran di blog ini masih jauh dari memadai. Saya sangat berharap banyak kontributor dapat menautkan sumber pembelajaran lain yang dapat memperkaya literatur elektronik ini.

Buat mahasiswa yang kebetulan bergabung di kelas saya, kontrak kuliah dan beberapa informasi penting terkait proses belajar mengajar dapat Anda unduh di bawah ini:

kontrak-kuliah-tata niaga pertanian

materi-1 tata niaga pertanian

materi-2-tata niaga pertanian

materi-3-tata niaga pertanian

materi-4-tata niaga pertanian

materi-5-tata niaga pertanian

EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

July 13th, 2009 6 comments

Pada semester genap 2009-2010 ini materi pembelajaran mata kuliah Ekonomi Produksi Pertanian  dapat diakses di

  1. http://tatiek.lecture.ub.ac.id dan
  2. http://lecture.ub.ac.id/dwiastuti.

Pada pertemuan perdana yang dimulai hari ini, tanggal 13 Juli 2009, akan diberikan outline perkuliahan dan beberapa aturan. Modul pertama berikut ini sudah dapat Anda download untuk dipelajari.

Materi pembelajaran 1

ekonomi-produksi-pertanian-1

modul-pembelajaran

Materi pembelajarn 2 dan 3 dirujuk dari buku Agricultural Production Economics karangan Debertin. Versi bahasa Indonesia telah saya transliterasikan dan dapat diunduh di bawah ini:

debertin2

debertin3

debertin4


Hand out materi perkuliahan EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN  dari Dr. Ir. Rini Dwiastuti, MS dapat didown load di bawah ini

Hubungan input-output: kasus 1 input variabel

max-profit-satu-input

biaya-penerimaan-profit

produksi-dg-2-input

maksimisasi-2-input

maksimisasi-terkendala

maksimisasi-terkendala-lanjutan

skala-ekonomi-elastisitas-substitusi

produksi-lebih-dr-2-input

maksimisasi-2-output

dua-output-dua-input

permintaan-input