Archive

Archive for the ‘starts small!’ Category

Tentang Blog Ini dan Personal Branding

January 27th, 2021 No comments

Minggu lalu, Selasa 19 Januari 2021, saya mengikuti sebuah sesi webinar bedah buku karya Prof Erani Yustika berjudul Ekonomi Politik. Yang pasti, saya membeli buku beliau dan melakukan preorder untuk buku lainnya berjudul Kebijakan Ekonomi yang masih dalam proses penerbitan. Dari webinar itu saya mengulik namanya di google dan lantas blog walking ke ahmaderani.com. Keren banget tulisan-tulisan beliau ini. Berbeda wajah dengan official lecture blog UB, weblog Prof Erani terlihat dikelola secara profesional. Saya menduga blog atau website tersebut berbayar. Jujur saya terinspirasi. Walau saya tahu pasti kemampuan dan kompetensi saya jauh di bawah beliau, beberapa hal segera dapat saya pelajari untuk mengevaluasi lecture blog saya. Pertama, selain berisi konten tulisan yang berkualitas, website Prof Erani tampak memiliki tema yang jelas. Point ini penting untuk saya adopsi.

Lecture blog ini gratis, disediakan oleh UB sebagai salah satu sarana yang diperlukan untuk menyelenggarakan proses belajar mengajar.  Weblog semacam blog ini juga berperan signifikan dalam webomatric dengan segala macam kultur algoritma pemeringkatan. Jadi, bahwa menulis di official lecture blog penting tak perlu dipertanyakan lagi. Akan tetapi, hingga saat ini belum banyak lecture blog dosen UB yang berstatus aktif secara efektif (termasuk blog ini). Membiarkan salah satu fasilitas negara mubazir tentunya bukan tindakan yang bijaksana.

Hal pertama yang akan saya lakukan untuk upgrade blog ini adalah menata kembali post dan page secara tematik. Perlu waktu untuk membaca satu persatu artikel di post dan page yang sudah tayang. Pencatat waktu menunjukkan, saya terakhir kali menulis di blog ini adalah pada tahun 2018. Teman-teman dosen di Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian UB bahkan mengupdate lecture blog mereka rata-rata pada tahun 2012 hingga 2017. Artinya, saya juga harus memperbaharui link-link blog kolega yang masih aktif dan relevan saya sematkan. Revitalisasi blog akan jadi PR besar buat saya. Apalagi saya berkeinginan untuk mencantumkan lecture blog ini sebagai link youtube saya. Blog yang kedaluwarsa tentu tak menarik bagi pembaca.

Hal kedua yang saya pelajari dari weblog Prof Erani adalah ‘personal branding’yang ciamik. Personal branding dapat didefinisikan sebagai strategi mempromosikan diri dan capaian kinerja sebagai bagian dari proses membangun dan melestarikan reputasi individual *https://www.jagoanhosting.com/blog/membangun-personal-branding. 

Blog atau website merupakan fast track yang dapat dioptimasi untuk membangun citra diri terutama jika media sosial menjadi pilihan untuk menguatkan network dan kolaborasi. Pertanyaan berikutnya yang harus saya jawab adalah, apa gagasan utama personal branding yang akan saya capai melalui blog ini? Karena blog saya ini adalah official lecture blog yang secara langsung berafiliasi ke UB, pastinya blog ini wajib memuat konten edukasi, materi pembelajaran dan hal-hal sejenis. Bagaimana konten edukasi disajikan aktual, terverifikasi, relevan dan terus berkembang sebagai free access learning resources agaknya ideal untuk diadaptasi dalam blog ini, sekaligus menjadi jawaban partisipatif atas tantangan implementasi merdeka belajar.

START SMALL!

January 26th, 2021 2 comments
Sesi Editorial

Universitas Brawijaya

Blog beberapa saat tampaknya menjadi kurang populer ketika vlog menjadi pilihan yang lebih menarik dan menghibur. Namun, ketika pada tahun 2020 pandemi Covid-19 memaksa kita semua untuk work form home (WFH), segera terasa kembali menulis di official lecture blog ini adalah kebutuhan yang mendesak. Mendesak karena zoom meeting dan google classroom lebih menyasar mereka yang memiliki akses. Blog lebih populis. Bagi saya pribadi, google classroom cenderung merepresentasikan proses pembelajaran terstruktur di mana dosen dan mahasiswa terikat kontrak belajar-mengajar, silabus, jadwal dan proses evaluasi. Blog tidak harus memenuhi seluruh persyaratan formal tersebut, bebas mengalir dalam koridor akademik yang dapat dipertanggungjawabkan.

Motivasi merevitalisasi blog ini juga didorong oleh kebijakan ‘Mas Mentri’ Nadiem Makarim yang viral: Merdeka Belajar, Kampus Merdeka (MBKM). Spirit merdeka belajar telah membuka lebar kesempatan untuk mengonstruksi ilmu pengetahuan agar lebih sesuai dengan kebutuhan dan passion para pelakunya. Meski dalam implementasinya masih banyak kendala di sana-sini, bagi civitas akademika, tak ada pilihan lain kecuali beradaptasi selangkah demi selangkah mewujudkan KAMPUS MERDEKA yang jadi impian.

Selain itu, ke depan menurut hemat saya tak ada lagi tempat untuk mundur dari Revolusi Industri 4.0 dengan semua implikasinya. Blog ini buat saya akan jadi good exercise. Semoga bermanfaat!

TATIEK KOERNIAWATI ANDAJANI.

Categories: starts small! Tags:

Di Bawah Tegakan Pohon Jati

Jati, atau dikenal dengan nama Latin Tectona grandis, adalah salah satu produk komersial hutan Indonesia. Jati diolah menjadi beragam produk furnitur. Kayu jati telah berabad lamanya tumbuh berkembang bersama peradaban nusantara. Sangat umum kita lihat bagaimana kayu jati menjadi master piece maha karya yang indah di tangan para pengukir Jepara dan Bali. Kemarin 28 Mei 2018, tim kami sempat bersafari ke Nganjuk. Kabupaten Nganjuk lebih dari 30% bentang lahannya merupakan kawasan hutan. Memang jika kita melakukan perjalanan ke Kediri, Madiun, Jombang, Nganjuk, Bojonegoro, Saradan dan sekitarnya, pemandangan hutan produksi dengan ciri komoditas kayu homogen menjadi ilustratif view yang membingkai sepanjang perjalanan. Kebetulan ini bulan kering, Nganjuk sudah dua bulan terakhir tak lagi hujan. Debu yang melapis tipis tebal terbang mengudara bersama geliat panas. Dedaunan jati menguning, merontok, mengering menutup sekitaran tanah di kaki pohon. Sesekali tampak tanaman jagung, di sela-sela baris jati yang berbanjar rapi. Langkah kami membawa kaki hingga ke tepian hutan. Memasuki kawasan, walau beberapa di antara tim kami sudah sangat mengenal hutan, pastilah tak akan pernah mampu menyusuri seluruh luasannya. Kami mulai bertanya, dan menerima jawaban dengan pandang mata awas yang penuh selidik. Wajah-wajah yang tak terkesan ramah. Magersari, ya inilah tujuan kami berangkat. Magersari bisa merujuk pada nama tempat, namun juga bisa digunakan sebagai representasi sebuah komunitas pekerja hutan yang tinggal di dalam kawasan hutan. Terkadang di tepian hutan,tidak jarang di tengah rimba. Persisnya, magersari atau magersaren ini komunitas yang tinggal di perbatasan  hutan dan desa-desa sekitar kawasan hutan. Adalah karya riset fenomenal Nancy D.Peluso, di tahun 1990an yang sempat kubaca saat S2 di tahun 1998-1990an yang lantas  teringat seperti remahan cahaya di arus pikiran.

Hutan jati, Perhutani, Magersari

Hutan jati, Perhutani, Magersari

Hutan kaya, rakyat melarat. Itu judulnya. Dalam versi aslinya Rich Forest, Poor People. Karya ini kembali menjadi fenomenal saat Peluso di tahun 2004-2006 kembali ke Indonesia untuk mengonfirmasi, adakah orang-orang yang dulu ‘miskin’ masih miskin atau sebaliknya menjadi kaya raya? Jawabannya tentu bisa diduga, masih miskin! Dan lalu, konsep teori dan data empirik kemiskinanpun berhamburan menjadi ledakan pertanyaan di kepala ini. Pilihan referensial satu-satunya yang saya miliki adalah ‘Magersari: Dinamika Komunitas Petani-Pekerja Hutan dalam Perspektif Antropologi Hukum’ karya Prof I Nyoman Nurjaya Guru Besar UB  tahun 2005 yang diterbitkan oleh UM Press.  Prof Nurjaya menyatakan dalam bukunya, secara geografis komunitas magersari terpisah dari pemukiman penduduk desa kawasan hutan. Magersari lazimnya tinggal di hutan dalam kurun waktu cukup lama bahkan secara turun temurun. Mereka mengandalkan hutan sebagai sumber penghidupannya. Magersaren adalah pesanggem, yaitu petani tumpangsari di lahan Perhutani, dan sekaligus blandong atau pekerja hutan.  Perum Perhutani sangat mengandalkan blandong untuk kegiatan produksi kehutanan seperti penyadapan getah, penggarapan lahan kebun kopi, pembibitan, penanaman bibit pohon (reforestasi), penjarangan tanaman, penebangan kayu, penyaradan sampai pengangkutan ke tempat-tempat penimbunan. Berpetualang di bawah tegakan pohon jati tampaknya akan memberikan pengalaman inteletualitas sekaligus psikologis yang luar biasa. Terimakasih ya Rabb untuk hari ini.

TEAM WORK: sebuah transferable skills yang diminati pengguna lulusan

March 28th, 2017 1 comment

Kemampuan bekerja sama dalam sebuah tim atau kelompok, menjadi salah satu keterampilan generik lulusan yang disebutkan oleh para pengguna lulusan sebagai kompetensi paling penting. Hal ini sangat logis, mengingat dalam era modern ini hampir tak ada pekerjaan yang dapat dilakukan sendiri. Pembagian kerja sesuai spesifikasi keahlian, tugas dan kewenangan pekerja telah dimulai berabad-abad lalu sebagaimana dijelaskan dalam teori division of labor. Sejak proses produksi mampu menciptakan surplus ekonomi, kapasitas produksi subsisten telah berkembang jauh melampaui  tingkat kebutuhan masyarakat. Seiring peningkatan kesejahteraan, daya beli masyarakatpun kian meningkat. Hal ini pada tahapan berikutnya mendorong spesialisasi tenaga kerja. Satu kelompok mengkhususkan diri untuk menanam komoditas tertentu, kelompok lain lebih berbakat mengembangkan bidang pertukangan, yang lain lagi mengambil peran sebagai peracik obat dan ketabiban. Pelan tapi pasti, spesialisasi kompetensi dan division of labor menciptakan masa peradaban seperti yang kita alami saat ini. Pada titik inilah manusia pada hakikatnya sudah melepaskan kultur subsistensi di mana individu atau rumahtangga berihtiar untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya dengan berswasembada. Kita tidak lagi menanam padi untuk setiap piring nasi yang kita konsumsi sehari-hari. Kita juga tidak memelihara ayam pedaging dan petelur untuk setiap butir telur dan setiap potong ayam goreng yang dapat kita makan untuk lauk makan siang. Demikian pula kita tidak harus menanam kapas, memintalnya menjadi benang dan menenunnya menjadi kain serta menjahitnya untuk menjadi sehelai kemeja untuk kita pakai bekerja. Unik dan menakjubkan, bila kita menelaah bagaimana individu, kelompok, rumahtangga, masyarakat terhubung satu sama lain dalam mekanisme division of labor yang terformat dalam ekonomi pasar.

Abad 21 dicirikan oleh satu kecenderungan atau mega trend yaitu fast moving. Seluruh entitas modern bergerak dengan kecepatan luar biasa yang tidak pernah terbayangkan berabad-abad sebelumnya. Abad yang diindikasikan oleh kemajuan teknologi informasi dan transportasi ini, telah menciptakan boderless countries, negeri tanpa batas dalam plattform  global societies. Konsekuensinya, tenaga kerja atau human resources, sebagaimana sumberdaya ekonomi lainnya menjadi lebih cair mengalir mengisi ceruk permintaan pasar yang relevan. Sekali lagi, konteks ini menciptakan sebuah prasyarat kemampuan team work. 

(to be contiuned..)

Ketika Prodi Agribisnis Sibuk Menyiapkan SAR AUNQA

March 27th, 2017 No comments

Sesuai janji visi meraih daya saing Asia Pasifik pada kurun waktu hingga 2020, saat ini Prodi Agribisnis sedang sibuk menyiapkan dokumen SAR AUNQA. Dokumen ini nantinya akan memberikan penguatan atas klaim daya saing program studi pada level Asia. Pada prinsipnya, semua dokumen yang harus disiapkan, ditulis dan didokumentasikan merupakan management review. Manajemen, sebuah pemahaman saintifik sekaligus artistik. Lazim didefinisikan, manajemen adalah ilmu dan seni. Sisi seni yang kemudian pada tahapan implementasi memberikan arti beda pada banyak subtansi yang sebenarnya hampir sama. Entah berupa potensi atau problematika, seni menatakelola atau menjalankan sebuah proses manajemen tidak pernah akan sama. Manajemen pendidikan tinggi menurut opini saya pribadi adalah suatu hal yang multi tafsir. Tak mudah mengarahkan harmonisasi begitu banyak elemen  pendidikan tinggi dalam sebuah orkestra bernama Tri Dharma. Bagi seorang dosen, memainkan titik keseimbangan sebagai titik tumpu optimal alokasi waktu multi peran yang harus dijalani tidak pernah mudah.

Konsinyeringpun digelar di Hotel Royal Orchid Kota Batu. Dosen dan staf administrasi yang telah memperoleh surat tugas sebagai tim penyusun dokumen AUNQA pun diberangkatkan dan diisolasi selama dua hari semalam untuk melaksanakan tugasnya. Proses isolasi ini tampaknya penting, sebab koordinasi  pada hari kerja sungguh amat sulit dilakukan. Alokasi tugas sudah didelegasikan, setiap tim kecil bekerja di meja bundar yang telah disiapkan pihak hotel. Ada satu topik diskusi hangat pada kriteria 1 SAR-AUNQA tentang generic vs specific skills. Lulusan S1 kami, sebaiknya memiliki standar kompetensi yang spesifik atau generik. Idealnya yang kedua kategori kompetensi baik spesifik maupun generik. Tapi tentu saja jawaban ini tidak cukup baik. Pertanyaan lanjutan yang harus dijawab adalah kompetensi generik yang mana dan kompetensi spesifik yang mana pula?

Generic skills atau sering diistilahkan sebagai transferable skills adalah keterampilan dan kemampuan yang relevan dan bermanfaat dalam beragam ruang lingkup kehidupan baik secara sosial, profesional maupun akademik. Keterampilan ini merupakan portable skills.  Keterampilan generik ini dikembangkan sepanjang hidup melalui cara belajar yang sangat beragam, sehingga tentu saja tidak melulu diperoleh dari proses belajar mengajar formal di institusi pendidikan. Beberapa sumber referensi yang dapat dicermati adalah sebagai berikut:

https://www.skillsyouneed.com/general/transferable-skills.html

Beberapa jenis keterampilan generik yang banyak disebutkan antara lain:

1. Team work

2. Leaderhsip

3. Personal motivation, organization and time management

4. Listening

5. Written communication

6. Verbal communication

7. Research and analytical skills

8. Numeracy skills

9. Personal development

10. Information technology

Sejujurnya, ini topik yang menarik dan menantang untuk didiskusikan. Apalagi berdasarkan tracer study dan survei yang dilakukan ke sejumlah pengguna lulusan, mereka menunjukkan minat yang sama besar pada atribut keterampilan generik sebagaimana telah dideskripsikan di atas. Topik ini akan coba saya kembangkan dalam post-post selanjutnya. Besar harapan saya tulisan ini dapat memancing beberapa komentar konstruktif sebagai sumbang sarang.

 

Categories: starts small! Tags:

Ketahanan Bencana berbasis Zero Waste Agribusiness

February 12th, 2014 No comments

Tindak lanjut networking antara akademisi dan CSR (business sector) yang diinisiasi pada seminar lokakarya Flipmas Legowo di ITC Ubaya Trawas mengarahkan langkah strategis berikutnya ke kawasan gunung Bromo. Tim FLipmas Legowo, menurunkan beberapa angota team. Adapun laporan awal team dapat diunduh berikut ini.

laporan khusus Tatiek Koerniawati dari Bromo

100_1228100_1227

100_1226 Read more…

Categories: starts small! Tags:

UB Blog Metric Award: Sebuah Catatan

January 23rd, 2014 No comments

Tiga tahun terakhir, bagi saya ada satu prestasi kecil  meski tidak banyak menarik perhatianyaitu memperoleh penghargaan UB Blog Metric. Tahun 2011 dan 2012 saya meraih penghargaan untuk pemenang harapan. Pada tahun 2013 saya berhasil meraih hadiah utama. UB Blog Metric Award adalah kerja keras Unit Pemeringkatan Internasional UB bersama sejumlah unit kerja pendukung lain yang relevan. Para dosen, mahasiswa dan karyawan didorong untuk membangun budaya menulis di UB blog yang sidah disediakan UB sebagai bentuk komitmen terhadap upaya peningkatan peringkat UB serta jumlah sitasi di kalangan dunia akademik.

Awalnya saya menulis di blog lebih didorong oleh kebutuhan untuk berbagi informasi dengan mahasiswa dalam spektrum yang lebih luas, dengan cara yang lebih mudah. Tampaknya cara ini cukup efektif. Seiring perkembangan konten tulis yang diakumulasikan setiap tahunnya, official blog ini banyak dibaca mahasiswa dan berbagai kalangan. Sebenarnya pelatihan menulis di Blog sudah diberikan oleh Universitas Brawijaya kepada seluruh civitas akademica, namun tentu saja respon dan minat setiap orang tidaklah sama

Menulis sendiri  memberikan banyak pengalaman yang berbeda. Menulis bisa bermakna berlatih keterampilan komunikasi non verbal, menulis juga memberikan peluang untuk berbagi momen penting dalam beragam proses pembelajaran. Seperti senantiasa diyakini, learning by writing, doing something dan by helping merupakan  stimulan proses belajar  yang  sangat efektif. Peluang mempublikasikan materi akademik secara gratis dan luas dapat diperoleh melalui fasilitas blog ini.

Penghargaan yang saya peroleh sangat saya syukuri, dan menjadi pendorong untuk terus mengupdate konten blog ini. Semoga blog ini dapat memberikan kontribusi terbaiknya.

Pengumuman-Pemenang-Blog-Metrics-Award-2011

http://www.ub.ac.id/pengumuman/detail/pengumuman-pemenang-ub-blogmetrics-award-2012.pdf

http://www.ub.ac.id/pengumuman/detail/daftar-pemenang-ub-blog-metrics-award-2013.pdf

E-Learning di UB

November 20th, 2012 No comments

Dari istilah yang digunakan: e-learning (berarti pembelajaran elektronik) terdengar citra modernitas penyelenggaraan pendidikan tinggi. Isu ini sedang sangat ramai dibicarakan, antara pro dan kontra. Saya sepakat ide brilian ini memang kontrversial. Ide dasar e-learning sesungguhnya sederhana saja. Masyarakat butuh belajar. Namun keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan khususnya pendidikan tinggi, menyebabkan rendahnya akses bagi masyarakat luas.E-learning atau pembelajaran elektronik, dalam beberapa hal mampu menihilkan keharusan hadirnya sarana kelas dan perlengkapannya. Dengan kata lain teknologi informasi pembelajaran digital menjadi terobosan atas nama pemerataan akses. Dirjen Dikti telah melansir sejumlah kebijakan berkenaan dengan pembelajaran elektronik. Wacana ini perlu diketahui oleh semua pelaku dalam dunia pendidikan tinggi. Universitas Brawijaya dalam lima tahun terakhir telah menunjukkan kemajuan pesat pada sistem pembelajaran elektronik ini. Meski demikian, rancang bangun sistem pembelajaran modern ini masih dirasakan tambal sulam, terutama sebab sistem monitoring, evaluasi dan baku mutunya belum ditetapkan.

Di bawah ini dapat diunduh beberapa artikel yang relevan dengan ide-ide e-learning yang hingga saat ini masih terus disempurnakan.

Kepmen107-U-2001JarakJauh

Permen20-2011ProdiDiluarDomisili

MateriE-Belajar(kajian)

Dokumen Akademik tahun 2003

November 19th, 2012 No comments

Pada tahun 2003 tepatnya tanggal 28 Februari hingga 1 Maret di Widya Loka Universitas Brawijaya pernah berlangsung seminar dan lokakarya yang mendatangkan Prof. Bungaran Saragih sebagai nara sumber. Saat itu cukup banyak gagasan ditelurkan pada acara semiloka yang berlangsung. Satu prosiding telah dipublikasikan, deklarasi Perpadi pun disepakati. Saat ini di penghujung tahun 2012, kembali digelar acara seminar dengan topik yang serupa. Menjelang 10 tahun perjalanan wacana akademik sejak dirumuskan pada tahun 2003, masih banyak PR yang belum dikerjakan. Apakah agenda ketahanan pangan dengan beras sebagai tema utama akan benar-benar menjadi the unfinished problems? Sekali lagi mungkin dokumen akademik pada masa itu perlu dibuka kembali sekedar mengingatkan kita semua, menjadi evaluasi dancritical pointsetidaknya untuk kita sebagai insan akademik,ke  mana saja kita selama ini. Kontribusi menjadi hal yang paling penting dipertanyakan!

Berikut ini beberapa materi prosiding yang penting kami unggah kembali untuk menjadi kajian dan perhatian, tampaknya kita sudah cukup banyak berpikir dan berunding, sekarang tindakan menjadi satu-satunya hal yang diperlukan.

A.Suryana Semiloka Perpadi 2003

Nindyowati Semiloka Perpadi 2003 Read more…

Indikator Unsustainable Agriculture

November 19th, 2012 No comments

Perjalanan supervisi magang kerja ke TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru),  adalah salah satu perjalanan lapang tersulit tahun ini bagi saya, terutama karena medan yang sangat buruk dan jauh yang harus ditempuh. Jumlah mahasiswa Program Studi Agribisnis ada dua orang. Cukup bangga sebab masih ada mahasiswa yang punya idealisme untuk secara langsung turun lapang. Beberapa foto di bawah ini merupakan oleh-oleh perjalanan lapang dan sedikitnya dapat memberikan gambaran situasi pertanian, terkait dengan indikator pertanian yang tidak sustainable.

Laporan magang kerja yang telah dilakukan oleh mahasiswa menyatakan bahwa usahatani hortikultura yang dilakukan oleh petani setempat sama sekali tidak memperhatikan aspek konservasi lahan. Petani setempat melakukan budidaya hortikultura tanaman semusim tanpa membuat sarana prasarana pencegah erosi baik air maupun angin.

Read more…

Kemiskinan, benarkah akar masalah lingkungan?

November 19th, 2012 No comments

Kemiskinan seringkali dituding sebagai akar masalah dari berbagai isu sosial yang sedang hangat diperdebatkan. Isu kemiskinan dan kelaparan bahkan menjadi salah satu agenda penting MDG’s (millenium development goals) pada abad 21 ini. Kemiskinan secara statistik terakumulasi di negara-negara sedang berkembang (LDC’s) yaitu di Asia dan Afrika. Secara lebih spesifik, mereka yang miskin hidup di pedesaan, dan bermata pencaharian sebagai petani. Pada entry point inilah kemudian konsep dan implementasi pertanian berlanjut atau sustainable agriculture menjadi penting.  Beberapa artikel di bawah ini saya pilih sebagai koleksi bacaan untuk dibagi, sebagian opini publik dalam berbagai media, sebagian saya unggah dari jurnal-jurnal online pilihan. Semoga bermanfaat.

keserakahan, kemiskinan dan kerusakan lingkungan

sumber: pse.litbang.deptan.go.id/ind/pdffiles/ART03-4a.pdf 


Read more…

Categories: starts small! Tags:

Sinopsis Perjalanan Lapang: Sustainable Agriculture

November 19th, 2012 No comments

Sistem pertanian berlanjut merupakan sistem pertanian yang layak secara ekonomi dan ramah lingkungan, yang dicapai melalui optimalisasi faktor biotik dan abiotik dalam agroekosistem. Di tingkat bentang lahan pengelolaannya difokuskan pada pemanfaatan biodiversitas tanaman pertanian dalam mempertahankan pollinator, pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit, hidrologi (kuantitas dan kualitas air) dan mengurangi emisi karbon. Banyak macam penggunaan lahan yang tersebar di seluruh bentang lahan, yang mana komposisi dan sebarannya beragam tergantung pada beberapa faktor antara lain iklim, topografi, jenis tanah, vegetasi dan kebiasaan serta adat istiadat masyarakat yang ada disekelilingnya. Selama kuliah, mahasiswa mempelajari tentang beberapa indikator kegagalan pertanian berlanjut baik dari segi ekonomi, biofisik dan sosial. Guna meningkatkan pemahaman mahasiswa akan dasar-dasar konsep pertanian berlanjut di daerah tropis dan penerapannya di tingkat lanskap maka pengenalan pengelolaan bentang lahan yang terpadu di bentang lahan sangat perlu dilakukan.

Isu-isu tentang krisis pangan sebagai dampak levelling off produktivitas sektor pertanian sebagai penghasil pangan dewasa ini telah berkembang menjadi tidak saja krisis pangan namun mulai menampakkan efek domino hingga pada level pengambil keputusan. Berikut ini diunggah sejumlah artikel bagi para pemerhati, dan mereka yang memiliki keprihatinan sama pada keberlanjutan sektor pertanian sebagai salah satu elemen biologis terpenting untuk menyangga kehidupan komunitas manusia di muka bumi ini.

Materi Ekonomi Lingkungan

Read more…

Asuransi Pertanian

November 19th, 2012 No comments

Konsep asuransi pertanian merupakan ide baru di negara kita, meski di banyak negara-negara pertanian yang lebih maju, konsep ini sudah diimplementasikan sangat lama. Konsep teoritis ini sebenarnya bermula dari upaya-upaya perancangan kebijakan yang secara sistematis dikontribusikan untuk memecahkan permasalahan pemasaran produk pertanian yang beresiko tinggi. Produk pertanian adalah jenis produk beresiko tinggi bila dipandang dari aspek karakteristiknya yaitu mudah rusak, voluminous dan musiman. Produksi pertanian sangat bergantung pada alam. Di bawah kondisi perubahan iklim global di mana musim tanam tidak lagi dapat dipetakan dengan tepat, resiko gagal panen menjadi semakin tinggi. Kasus-kasus meningkatnya harga cabe lebih kurang dua tahun lalu, menjadi bukti ilustratif yang mengingatkan kita pada kategori resiko ini. Belum lagi, produk pertanian harus menghadapi resiko harga pasar yang disebabkan oleh karakteristik produksinya yang musiman. Harga dipastikan akan jatuh pada musim panen raya, dan melambung tinggi pada saat paceklik atau gagal panen. berangkat dari kondisi inilah konsep asurasi pertanian dibangun.

Berikut ini saya unggah salah satu working paper yang saya tulis beberapa tahun lalu sebagai tugas presentasi pada mata kuliah analisis harga produk pertanian. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Hedging sebagai konsep asuransi produk pertanian

Read more…

Categories: starts small! Tags:

Mengenal Struktur Pasar

November 19th, 2012 No comments

Pasar memfasilitasi transfer pemilikan suatu barang atau jasa dari satu pihak ke pihak lainnya. Setiap kali pemilikan atas suatu barang atau jasa dipindahtangankan, selalu terjadi penetapan harga. Dalam analisis keseimbangan pasar dikenal konsep harga keseimbangan yang memungkinkan unit marginal produk terakhir yang dipasok ke pasar dijual pada level yang sama dengan kesediaan konsumen untuk membayarnya. Solusi keseimbangan semacam ini hanya dapat dicapai pada kondisi pasar persaingan murni dan atau sempurna. Namun demikian kondisi pasar persaingan murni atau sempurna ini mensyaratkan sejumlah asumsi yang sangat ketat. Dengan kata lain konsep pasar persaingan murni atau sempurna merupakan gambaran ideal bekerjanya mekanisme pasar. Akan tetapi dalam kondisi riil, struktur pasar khususnya pasar produk-produk pertanian tidak berlangsung di bawah asumsi persaingan sempurna. Oleh karena itu selain struktur pasar persaingan sempurna dikenal beberapa struktur pasar lainnya yaitu monopoli, oligopoli, monopsoni dan oligopsoni. Monopoli dan monopsoni merupakan struktur pasar yang sangat dekat dengan gambaran umum pasar produk-produk pertanian masaran formal yang menangani produk-produk ekspor atau secara langsung dijual pada industri pengolah bahan pangan. Dalam pasar semacam ini, sebelum sampai ke konsumen akhir produk pertanian ditransformasikan melalui teknik-teknik prosesing industri pangan. Dengan demikian permintaan langsung terhadap produk-produk pertanian berasal tidak saja dari permintaan rumahtangga namun terutama dari berbagai perusahaan dan industri serta organisasi pemasaran formal sebagaimana tersebut di atas.

Pada umumnya dalam analisis pasar diasumsikan terjadi transaksi langsung antara produsen (petani) dengan konsumen akhir bahan pangan. Kasus ini masih dapat dijumpai di negara-negara ke tiga, namun sejalan dengan transformasi pertanian subsisten menjadi agroindustri proporsi produk pertanian yang dijual dengan cara langsung semakin kecil. Sebagian besar produk pertanian dijual pada pedagang besar dan  organisasi-organisasi pemasaran formal yang menangani produk-produk ekspor atau secara langsung dijual pada industri pengolah bahan pangan. Dalam pasar semacam ini, sebelum sampai ke konsumen akhir produk pertanian ditransformasikan melalui teknik-teknik prosesing industri pangan. Dengan demikian permintaan langsung terhadap produk-produk pertanian berasal tidak saja dari permintaan rumahtangga namun terutama dari berbagai perusahaan dan industri serta organisasi pemasaran formal sebagaimana tersebut di atas.

 Untuk dapat memahami struktur pasar bagi produk-produk pertanian mula-mula akan dikemukakan beberapa konsep dasar dalam struktur pasar persaingan dilanjutkan dengan konsep struktur pasar spesifik yang lebih mendekati karakteristik struktural pasar produk-produk pertanian dan bahan pangan. Mahasiswa disarankan membuka kembali catatan kuliah pada mata kuliah Pengantar Ekonomi Pertanian untuk memberikan review singkat konsep permintaan dan penawaran produk pertanian dan teori struktur pasar.

Read more…

Categories: AGRONIAGA, Ilmu Amaliah, starts small! Tags:

LECTURE NOTES 3

November 18th, 2012 No comments

Lembaga dan saluran pemasaran merupakan dua konsep teoritis berikutnya yang harus dipelajari dalam mata kuliah Pemasaran Hasil Pertanian (PHP). Kembali pada kasus komoditas tebu. Upaya pemberdayaan petani tebu telah banyak dilakukan. Namun berbagai kebijakan yang telah diimplementasikan tak kunjung membuahkan hasil yang menggembirakan. Pemilikan lahan yang sempit oleh petani gurem, menjadi penyebab rendahnya produktivitas dan rendahnya adopsi inovasi teknik budidaya tebu, terutama yang memerlukan banyak biaya. Kajian yang lebih mendalam dalam banyak penelitian menyimpulkan bahwa petani gurem masih banyak terjebak pada lembaga dan saluran pemasaran yang panjang, di mana posisi tawar mereka sangat lemah. Petani gurem umumnya menyerahkan panen tebu untuk dikelola kelompok tani dan koperasi. Meski peran kelompok tani, asosiasi dan koperasi dalam pemasaran hasil panen tebu, namun tidak dapat dipungkiri dalam praktek pemasaran hasil panen tebu oleh lembaga-lembaga tersebut masih terdapat ketidaksetaraan dan belum tercapai fair trade. Materi berikut dapat menjadi entrypointuntuk memahami permasalahan seputar pemasaran produk pertanian

bab3 Read more…

Categories: starts small! Tags: