Archive

Archive for the ‘Author’ Category

E-Learning di UB

November 20th, 2012 No comments

Dari istilah yang digunakan: e-learning (berarti pembelajaran elektronik) terdengar citra modernitas penyelenggaraan pendidikan tinggi. Isu ini sedang sangat ramai dibicarakan, antara pro dan kontra. Saya sepakat ide brilian ini memang kontrversial. Ide dasar e-learning sesungguhnya sederhana saja. Masyarakat butuh belajar. Namun keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan khususnya pendidikan tinggi, menyebabkan rendahnya akses bagi masyarakat luas.E-learning atau pembelajaran elektronik, dalam beberapa hal mampu menihilkan keharusan hadirnya sarana kelas dan perlengkapannya. Dengan kata lain teknologi informasi pembelajaran digital menjadi terobosan atas nama pemerataan akses. Dirjen Dikti telah melansir sejumlah kebijakan berkenaan dengan pembelajaran elektronik. Wacana ini perlu diketahui oleh semua pelaku dalam dunia pendidikan tinggi. Universitas Brawijaya dalam lima tahun terakhir telah menunjukkan kemajuan pesat pada sistem pembelajaran elektronik ini. Meski demikian, rancang bangun sistem pembelajaran modern ini masih dirasakan tambal sulam, terutama sebab sistem monitoring, evaluasi dan baku mutunya belum ditetapkan.

Di bawah ini dapat diunduh beberapa artikel yang relevan dengan ide-ide e-learning yang hingga saat ini masih terus disempurnakan.

Kepmen107-U-2001JarakJauh

Permen20-2011ProdiDiluarDomisili

MateriE-Belajar(kajian)

Sinopsis Perjalanan Lapang: Sustainable Agriculture

November 19th, 2012 No comments

Sistem pertanian berlanjut merupakan sistem pertanian yang layak secara ekonomi dan ramah lingkungan, yang dicapai melalui optimalisasi faktor biotik dan abiotik dalam agroekosistem. Di tingkat bentang lahan pengelolaannya difokuskan pada pemanfaatan biodiversitas tanaman pertanian dalam mempertahankan pollinator, pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit, hidrologi (kuantitas dan kualitas air) dan mengurangi emisi karbon. Banyak macam penggunaan lahan yang tersebar di seluruh bentang lahan, yang mana komposisi dan sebarannya beragam tergantung pada beberapa faktor antara lain iklim, topografi, jenis tanah, vegetasi dan kebiasaan serta adat istiadat masyarakat yang ada disekelilingnya. Selama kuliah, mahasiswa mempelajari tentang beberapa indikator kegagalan pertanian berlanjut baik dari segi ekonomi, biofisik dan sosial. Guna meningkatkan pemahaman mahasiswa akan dasar-dasar konsep pertanian berlanjut di daerah tropis dan penerapannya di tingkat lanskap maka pengenalan pengelolaan bentang lahan yang terpadu di bentang lahan sangat perlu dilakukan.

Isu-isu tentang krisis pangan sebagai dampak levelling off produktivitas sektor pertanian sebagai penghasil pangan dewasa ini telah berkembang menjadi tidak saja krisis pangan namun mulai menampakkan efek domino hingga pada level pengambil keputusan. Berikut ini diunggah sejumlah artikel bagi para pemerhati, dan mereka yang memiliki keprihatinan sama pada keberlanjutan sektor pertanian sebagai salah satu elemen biologis terpenting untuk menyangga kehidupan komunitas manusia di muka bumi ini.

Materi Ekonomi Lingkungan

Read more…

LECTURE NOTE 2

November 13th, 2012 No comments

Pada lecture note kedua yang saya unggah di bawah ini, dapat dipelajari beberapa pendekatan dalam mempelajari aspek pemasaran dalam pertanian. Sebagai salah satu contoh adalah pendekatan komoditas. Marilah kita pilih satu komoditas pertanian sebagai kasus: tebu dan gula. Tebu adalah commercial crops, ditanam oleh petani dengan mengikuti pola permintaan turunan (derived demand function) sebab tebu adalah bahan baku utama gula pasir. Tebu bukan tanaman pangan, artinya hasil panen tebu harus dijual. Pilihan petani tebu adalah menjualnya ke pabrik gula (PG) atau ke pabrik gula merah tradisional. Dari aspek produksi, tebu merupakan sub sistem on farm yang terdistegrasi vertikal dengan agroindustri pengolahnya yaitu PG. PG memiliki pabrik gula sebagai aset. Di sisi lain petani memiliki lahan dan tenaga kerja sebagai sumberdaya produktif potensial. Cukup kompleks permasalahan tebu, sebab 80 persen PG di Indonesia berlokasi di pulau Jawa di mana lahan merupakan kendala utama pengembangan sektor pertanian. Dilaporkan secara statistik, pemilikan lahan tebu oleh petani adalah sangat kecil. Kecilnya lahan, minimnya modal usahatani, dan struktur agroindustri yang tidak terintegrasi secara vertikal menempatkan permasalahan pemasaran hasil panen tebu sebagai jantung permasalahan utama penyebab keterpurukan pergulaan Indonesia, yang hingga saat ini belum mampu berswasembada. Kiranya wacana akademik dan berbagai diskusi dapat dikembangkan dari materi ini. Sebagai dasar teori materi lecture note berikut dapat diunduh.

bab2 Read more…

Quick Literature Review

October 30th, 2012 No comments

Cukup menyenangkan memperoleh kesempatan belajar kembali.  Refreshment, atau menurut istilah Dale Carnegie: mengasah gergaji. Sibuk sebagai lecturer lazimnya membuat kita lupa untuk menjadi long life learner!

Berikut ada beberapa artikel lama yang saya rasa masih relevan kita diskusikan. Selamat bergabung!

Teori Pertumbuhan Abramovitz

Prof. Ratya  mengambil bahan kajian teori pertumbuhan di awal perkuliahan makro ekonomi lanjut. Merujuk pada seri sinopsis ekonomi makro karya Boediono, saya masih mengingat logical framework yang paling mudah diingat.

Makro ekonomi adalah cabang ilmu ekonomi yang mempelajari perekonomian dari perspektif agregat. Ada dua persoalan makro ekonomi yang dihadapi semua bangsa di dunia:

1. masalah jangka pendek: inflasi, unemployment dan ketimpangan neraca pembayaran

2. masalah jangka panjang: pertumbuhan ekonomi.

Tentu kita sepakat, bahwa permasalahan ekonomi makro berperspektif jangka panjang akan sangat tergantung pada apakah permasalahan makro jangka pendek sudah teratasi. Read more…

Capaian Kinerja 2012

October 28th, 2012 No comments

Dharma Pendidikan:

1. Final drafting modul Ekonomi Produksi Pertanian versi Distance Learning

2. Pengelolaan magang kerja tahun ke 2 untuk angkatan 2009

3. Penataan organisasi asisten mata kuliah

4. Pengembangan sistem pembelajaran

a. inventarisasi Rancangan Kegiatan Pembelajaran Semester (RKPS) prodi Agribisnis

b. evaluasi buku pedoman akademik dan non perkuliahan

c. manajemen data base: khusus untuk review manajemen, pembakuan notulensi rapat

d. evaluasi pengelolaan magang kerja

5.Studi lanjut ke jenjang Doktor

Things have to be done:

1. Inventarisasi dan sinkronisasi dokumen Gugus Jaminan Mutu (GJM) di bidang akademik

2. Analisis management review

3. Penyelesaian buku ajar Ekonomi Pertanian, Ekonomi Pembangunan Pertanian dan Pemasaran Hasil Pertanian

4. Drafting laporan pertanggungjawaban sekretaris Prodi (sebelum mengundurkan diri karena studi lanjut S3)

5. Penyelesaian pelaksanaan magang kerja tahun 2008 dan laporan pertanggungjawaban (sebelum mengundurkan diri karena studi lanjut S3)

  Read more…

Categories: Agenda Kerja, Author, starts small! Tags:

Catatan tentang MDG’s

February 19th, 2012 No comments

Millenium development goals, merupakan isu pembangunan penting berskala global yang wajib dipahami oleh mahasiswa. Sayang baru semester depan saya berencana memasukkan MDG’s sebagai salah satu bahan kajian pada mata kuliah Ekonomi Pembangunan Pertanian. Beberapa tautan di bawah ini dapat menjadi entry point kita untuk bersama-sama belajar tidak saja agar memahami namun terutama dapat memberikan kontribusi sesuai bidang dan kemampuan kita masing-masing.

Keterkaitan MDG’s dengan disiplin ilmu pertanian terutama pada sisi ketahanan dan kemandirian pangan dalam upaya memberantas kelaparan.Konsep-konsep penting terkait MDG’s menjadi bahan kajian penting dalam mata kuliah Ekonomi Pembangunan Pertanian . Untuk itu kami share beberapa dokumen dan artikel yang dapat dijadikan entry point khususnya sebagai learning resources bagi mahasiswa.

mdg’s

  Read more…

Belajar Menulis

October 12th, 2009 1 comment

Malang,12 Oktober 2009:

Berpuluh tahun lalu, saat saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, almarhum Bapak selalu mengajari saya menulis. Pelajaran mengarang saat itu adalah salah satu bagian dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Mengarang memang menjadi momok bagi teman-teman sekelas saya, memperoleh nilai delapan puluh sudah sangat sulit.

Saya boleh sedikit berbangga, sebab karangan saya  masih terbilang layak dibacakan di depan kelas. Hanya sedikit saja di bawah nilai karangan Gaston, teman yang sekarang ini menjadi dosen sastra di Universitas Petra Surabaya. Tapi pengalaman yang ingin saya bagikan tentang karang mengarang bukanlah tentang bagaimana karangan saya masuk nominasi kala itu. Proses  menulisnyalah yang selalu mengingatkan saya pada bagaimana almarhum Bapak melatih saya.

Dalam proses belajar mengarang itu, Bapak selalu ikut menulis. Biasanya beliau memilih sebuah tema, misalnya tentang air, tentang perang, tentang musik, tentang kaki, tentang telinga. Tema-tema karangan kami sangat beragam. Bapak hanya menyebutkan satu kata yang harus kami kembangkan menjadi sebuah karangan minimal 20 paragraf. Sebenarnya Bapak meminta saya mengarang 200 kalimat setiap hari. Tapi saya protes, karena pada masa itu belum ada menu word count untuk tulisan tangan. Saya kesulitan menghitungnya sehingga pada akhirnya tidak fokus pada pengembangan tulisan, tapi sibuk menghitung berapa kalimat yang sudah saya tuliskan.

Tanpa  saya sadari, dengan belajar mengarang, sesungguhnya Bapak melatih saya menjadi pembaca, pengolah informasi, sekaligus pengamat. Ketiga hal itu mutlak dilakukan bila seseorang ingin menulis sebuah karya yang baik. Perlahan-lahan dari karangan yang bersifat reportase, saya mulai bisa menulis hal-hal yang agak analitis. Saya juga mulai paham bagaimana mengikuti dorongan perasaan lalu meramunya dalam logika pemikiran. Dengan berlatih dan terus berlatih, Bapak menjadikan saya seorang yang taat prosedur dan sangat menghargai proses.

Sayang, saya hanya berkesempatan ngangsu kawruh pada beliau sampai kelas satu SMA saja. Bapak wafat pada saat saya berusia 16 tahun. Padahal kala itu, saya mulai beranjak remaja. Seringkali saya menginginkan tema-tema yang lebih pribadi untuk dikembangkan menjadi sebuah tulisan, percintaan misalnya….

Menjadi remaja yang suka menulis, saya merasa tak dapat menyeleksi arus gagasan yang memasuki otak dengan sangat deras. Arus itu begitu cepat, melompat-lompat, beragam, sangat indah dan cemerlang sekaligus membingungkan. Baru setelah saya memiliki putra-putri yang beranjak remaja saat ini, saya temukan jawabannya. Remaja berada pada masa transisi, mereka berubah dalam hitungan detik. Begitu banyak hal yang mendesak emosi  mereka hingga meletup-letup, begitu banyak pertanyaan yang memerlukan jawaban. Semakin kreatif mereka, semakin banyak konsep memasuki pikiran mereka, semakin tertekan mereka secara psikologis.

Saya ingat tulisan saya saat saya remaja dulu sering tidak konsisten. Tanpa Bapak di sisi saya, saya mengalami kesulitan menetapkan tema-tema untuk tulisan saya. Hanya semangat yang didorong oleh kebutuhan mengaktualisasikan diri saja yang membuat saya bertahan tetap menulis meski sebagian besar hasil tulisan itu tetap menghuni laci meja belajar saya.

Konsep berbagi gagasan, pengalaman, pengetahuan, pendapat dan perasaan melalui tulisan di blog baru saya kenal dua tahun belakangan. Manfaatnya sungguh luar biasa. Saya sempat berfikir, andai saja Bapak masih ada. Betapa bahagianya dia. Di usia saya yang ke 42 ini, saya masih juga berkecimpung dalam dunia tulis menulis. Kali ini sebagai dosen pembimbing tugas akhir atau skripsi. Mengajarkan logika dasar, tips dan trik menulis pada mahasiswa yang harus menyusun laporan penelitian mungkin bukan tugas saya. Rekan-rekan lain berpendapat itu tugas para dosen mata kuliah Bahasa Indonesia. Tak salah sepenuhnya, namun saya punya pendapat yang sedikit berbeda. Menulis adalah sebentuk keterampilan, tak akan bisa bila tak biasa. Dan bagaimana mungkin mahasiswa akan biasa menulis hanya dengan mengandalkan mata kuliah Bahasa Indonesia selama satu semester? Saya sendiri belajar menulis sejak saya bisa menulis dan membaca buku cerita. Oleh karena itu saya sangat tahu, tak seorangpun dapat menulis dengan baik bila dia tak gemar membaca. Sampai di sini, sudah bukan rahasia bila minat baca di kalangan mahasiswa sebegitu rendahnya. Salah siapa?

Jika membaca lebih didorong oleh hasrat, bagaimana caranya agar buku bisa mengundang hasrat mahasiswa untuk menyentuh, mengusap, menelusuri seluruh lekuk liku alinea dan setiap pori hurufnya? Bagaimana????

Categories: Author, starts small! Tags:

Kurikulum Berbasis Kompetensi: proses inisiasi!

August 18th, 2009 No comments

UB’s Guest House: 15 Agustus 2009

Hari ini tim KBK FP UB berkesempatan jumpa lagi dengan Pak Endro Tomo. Beliau tetap langsing dan bersahaja. Saya kagum pada beliau karena banyak hal, terutama karena ketenangan dan kedalaman pola pikirnya. Tentu seperti yang saya duga sebelumnya, workshop kurikulum kali inipun masih kental diwarnai perdebatan dan kritik. Bagi saya sendiri perubahan kurikulum dan semua masalah yang ditimbulkan tak banyak memberikan ruang untuk berargumen. Sederhana saja, draft dokumen kurikulum yang sudah diSK menjadi tugas kami, bisa tuntas. Kami merasa sudah bekerja keras, cerdas dan ikhlas,tapi  rasanya pekerjaan ini tak pernah tuntas… (Bekerja keras, wong sudah luamaa sekali, dengan skedul kerja lembur yang gak bisa lagi dihitung jari; bekerja cerdas… lha wong demi KBK kami harus banyak baca dan belajar; kerja ikhlas, wong lebih banyak agenda kerja di luar scheme honor…… Sediiihhhh sekali rasanya menanti kapan proses ini bisa happy ending!)

Saya berangkat dari rumah ke Workshop Kurikulum yang digelar FP UB hanya dengan satu doa: tugas yang diamanahkan pada saya bisa selesai hari ini. Jadi, tentu saja saya mulai kecewa, sedikit emosi ketika mencermati betapa sulitnya critical opinion forum dibangun.

Akhir cerita, pukul 16 lebih, Pak Endro memberikan closing untuk evaluasi proses penataan KBK yang sudah kami rintis sejak dua tahun lalu. Tak seperti biasanya, beliau memutarkan satu klip pendek untuk kami. Mungkin klip film tersebut disuntingnya sendiri. Film pendek berdurasi sekitar dua menit itu, bercerita tentang 4 batang lilin yang putus asa: Lilin pertama bernama PERUBAHAN; lilin kedua bernama IMAN; lilin ketiga bernama CINTA. Ketiga lilin pertama itu padam karena rasa kecewa. Namun lilin keempat, yang karena merasa harus tetap menyala demi menenangkan seorang anak yang takut pada kegelapan, berkata:”Jangan takut, aku akan tetap menyala untukmu, dan selama aku -HARAPAN- tetap menyala, engkau masih bisa menyalakan ketiga lilin lainnya!”

Diam-diam saya menangis, haru! Pesan ini sangat mengena di hati saya. Ketika terkadang rasa lelah menyerang tanpa rasa kasihan. Betapa sulitnya memaknai sebuah perubahan. Betapa besarnya kendala mengubah sebuah paradigma. Tapi seperti kata Pak Endro, perubahan itu sendiri akan abadi…

Belajar adalah berubah! Berubah itu abadi! Maka kita harus belajar sepanjang hayat! Tak hanya untuk to know, tetapi lebih untuk to be, to learn more, and to live together! Seandainya, guru-guru besar kami seluruhnya berkenan menghadiri workshop kemarin, dan tetap berbesar hati untuk tetap tinggal hingga penghujung acara, hingga segenap opini diwacanakan, sampai kesimpulan dibacakan:mungkin membangun kesepahaman akan lebih mudah. Tersentak aku tersadar, mungkin sebagi seorang maha guru (karena kami ini gurunya mahasiswa), kebiasaan berbicara saat mengajar, membuat kami kehilangan kemampuan untuk mendengar dan  menyimak.

Suatu hari nanti saya  percaya akan tiba masanya kita semua sampai ke ujung doa! Harapan ini  masih menyala! Join UB, be the best!

TATIEK KOERNIAWATI ANDAJANI, SP.MP.

Program Studi Agribisnis  FP UB

Tentang persahabatan

Memiliki sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri. Apa yang kita alami demi sahabat, terkadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah.

Persahabatan sering menghadapkan kita pada sejumlah cobaan, namun persahabatan sejati mampu mengatasi cobaan itu dan tumbuh bersama dalam kesulitan.

Persahabatan tidak terjalin begitu saja tetapi membutuhkan proses panjang, seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat mempertajam sahabatnya

Persahabatan diwarnai oleh berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur dan disakiti, diperhatikan dan dikecewakan, didengar dan diabaikan, dibantu dan ditolak, namun semua ini tidak pernah disengaja dilakukan dengan tujuan membenci….

Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena  rasa kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya

Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan jabat tangan, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan agar sahabatnya mau berubah

Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha untuk menjaga kesetiaan, bukan hanya pada saat sahabat kita membutuhkan bantuan baru kita memiliki motivasi untuk memberikan perhatian, pertolongan dan simpati namun lebih menekankan inisiatif dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabat kita.

Kerinduannya akan menjadi bagian dari hidup seorang sahabat, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egois

Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dihianati sahabatnya. Ingatlah kapan terakhir kali anda berada dalam kesulitan, siapa yang berada di samping anda? Siapa yang mendampingi anda saat anda merasa sendiri? Siapa yang ingin bersama anda saat anda justru tak bisa memberikan apa-apa?

MEREKALAH SAHABAT ANDA!

Hargai dan peliharalah selalu persahabatan anda dengan mereka.

Dalam masa kejayaan, teman-teman mengenal kita. Dalam masa kesengsaraan kita mengenali teman-teman kita. Sampaikan pesan persahabatan ini pada semua sahabat Anda!

Categories: Author, starts small! Tags: