Archive

Archive for the ‘starts small!’ Category

LECTURE NOTE 2

November 13th, 2012 No comments

Pada lecture note kedua yang saya unggah di bawah ini, dapat dipelajari beberapa pendekatan dalam mempelajari aspek pemasaran dalam pertanian. Sebagai salah satu contoh adalah pendekatan komoditas. Marilah kita pilih satu komoditas pertanian sebagai kasus: tebu dan gula. Tebu adalah commercial crops, ditanam oleh petani dengan mengikuti pola permintaan turunan (derived demand function) sebab tebu adalah bahan baku utama gula pasir. Tebu bukan tanaman pangan, artinya hasil panen tebu harus dijual. Pilihan petani tebu adalah menjualnya ke pabrik gula (PG) atau ke pabrik gula merah tradisional. Dari aspek produksi, tebu merupakan sub sistem on farm yang terdistegrasi vertikal dengan agroindustri pengolahnya yaitu PG. PG memiliki pabrik gula sebagai aset. Di sisi lain petani memiliki lahan dan tenaga kerja sebagai sumberdaya produktif potensial. Cukup kompleks permasalahan tebu, sebab 80 persen PG di Indonesia berlokasi di pulau Jawa di mana lahan merupakan kendala utama pengembangan sektor pertanian. Dilaporkan secara statistik, pemilikan lahan tebu oleh petani adalah sangat kecil. Kecilnya lahan, minimnya modal usahatani, dan struktur agroindustri yang tidak terintegrasi secara vertikal menempatkan permasalahan pemasaran hasil panen tebu sebagai jantung permasalahan utama penyebab keterpurukan pergulaan Indonesia, yang hingga saat ini belum mampu berswasembada. Kiranya wacana akademik dan berbagai diskusi dapat dikembangkan dari materi ini. Sebagai dasar teori materi lecture note berikut dapat diunduh.

bab2 Read more…

LECTURE NOTE 1

November 13th, 2012 No comments

Lecture note berikut dapat diunduh sebagai materi pembelajaran pertama pada mata kuliah Pemasaran Hasil Pertanian. Sebagaimana telah didiskusikan pada post lain pada kategori Ilmu Amaliah, sub kategori Agroniaga sangat penting dipahami ruang lingkup bahan kajian pada mata kuliah ini. Mengingat keluasan dan kedalaman bahan kajian yang harus dipelajari selama satu semester, mahasiswa diharapkan dapat secara serius memperkaya learning resource. Pada post-post berikutnya saya akan tautkan beberapa link penting yang dapat diakses sebagai learning resources.

bab1 Read more…

Categories: AGRONIAGA, Ilmu Amaliah, starts small! Tags:

PEMASARAN HASIL PERTANIAN

November 12th, 2012 No comments

Pemasaran Hasil Pertanian merupakan salah satu mata kuliah dalam kurikulum pra KBK yang tetap dipertahankan. Mata kuliah ini secara resmi dikelola oleh Laboratorium Ekonomi Pertanian Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian FP UB. Sebelumnya selain mata kuliah Pemasaran Hasil Pertanian kurikulum lama juga menawarkan mata kuliah Manajemen Pemasaran (Marketing Management). Pendekatan pemasaran hasil pertanian dari aspek bahan kajian lebih banyak difokuskan pada produk pertanian yang dipasarkan dalam bentuk fresh product. Fresh agriculture product, sebagaimana banyak dicitrakan baik secara teoritik maupun empirik, merupakan produk yang memiliki cukup banyak kelemahan, di antaranya mudah rusak alias mudah busuk. Tanpa penangangan dan pengolahan pasca panen yang tepat hampir semua produk pertanian tidak dapat disimpan lama. Kelemahan yang lain adalah produk ini bersifat voluminous. Kita dapat membayangkan perhiasan emas seharga Rp 10 juta tentunya dapat diwujudkan sebagai seuntai kalung atau sebentuk cincin permata. Produk pertanian, katakanlah salak seharga Rp 10 juta, sebagai perbandingan tentu tidak dapat disimpan dalam safe deposit box atau diselipkan di jari manis. Perlu gudang untuk menyimpan buah salak seharga Rp 10 juta. Hal ini berarti biaya simpan, belum lagi biaya-biaya lain yang harus dialokasikan selama buah salak tersebut belum dikonsumsi. Produk pertanian secara umum dikenal sebagai produk musiman. Hal ini terkait dengan proses biologis sebagai aktivitas produksi pertanian. Dampaknya adalah terjadinya fluktuasi jumlah dan harga musiman di pasar produk pertanian. Pemasaran hasil pertanian dengan demikian menjadi bidang kajian yang sangat kompleks.

Marketing management di sisi lain, mempelajari aspek pemasaran dari sisi yang berbeda. Fokus kajian lebih ditekankan pada upaya-upaya mengelola pasar produk pertanian melalui marketing mix. Marketing management menurut pendapat saya memiliki area kajian yang lebih luas, sebab tidak saja dapat diimplementasikan pada fresh agriculture product namun termasuk processed agriculutre product. Dari pisang hingga menjadi keripik pisang, dan pisang olahan lain sampai pada konsumen terentang mata rantai yang sungguh panjang dengan banyak pelaku pada setiap level nilai tambah yang dihasilkan.

Pada titik ini, pertanian lebih sesuai dipotret dengan pendekatan sistem agribisnis, yang sebagaimana diketahui terdiri dari setidaknya empat sub sistem yaitu agroindustri hulu, on farm sub system, agroindustri hilir dan sub sistem penunjang (termasuk di dalam sub sistem ini pemasaran pertanian).

Erat kaitannya dengan kedalaman dan keluasan bahan kajian pemasaran hasil pertanian, 3 sks terasa tidak cukup untuk membidik semua learning outcome yang harus dikuasai oleh lulusan Program Studi Agribisnis. Namun sekali lagi, dengan 144 jumlah total sks yang harus diselesaikan pada level strata 1, cukup merepotkan bila bahan kajian ini harus diselenggarakan dalam mata kuliah yang berbeda. Selain itu aspek pemasaran agribisnis seharusnya menjadi mata kuliah integrasi dengan bahan kajian lintas laboratorium. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa dapat memiliki perspektif yang lengkap baik ekonomi pertanian maupun manajemen agribisnis berikut aspek policy yang tak dapat dipisahkan dari praktek pasar. Read more…

Categories: AGRONIAGA, starts small! Tags:

SEMINAR NASIONAL DAN TEMU ALUMNI FPUB 2012

November 11th, 2012 No comments

Rangkaian acara Dies Natalis FPUB yang ke 52 tahun ini mengagendakan seminar nasional dan temu alumni.  Acara ini merupakan agenda rutin tahunan yang diselenggarakan setiap Dies Natalis. Topik seminar tahun ini adalah Rumah Pangan Lestari dalam Perspektif Ketahanan dan Kemandirian Pangan Keluarga. Bertempat di Gedung  Widya Loka Jumat 9 November 2012, seminar nasional dibuka pukul 08.30 oleh Dekan FP UB. Tampil sebagai nara sumber pada seminar nasional ini:

1. Dr.Ir. Haryono, MSc. Kepala Badang Litbang Pertanian yang menyampaikan makalah berjudul Model Kawasan Rumah Pangan Lestari: Upaya Mencapai Ketahanan Pangan Keluarga dan Pola Pangah Harapan tahun 2014

2. Dr.Ir. Suhardi, MSc. Ketua DPD HKTI Yogyakarta membawakan makalah berjudul Komitmen Kinerja Kebijakan Nasional terhadap Pembangunan Ketahanan  Pangan di Indonesia

3. Dr. Ir.Rachmat Pambudy (Pemerhati Pertanian dan Dosen Pasca Sarjana IPB) menyampaikan materi tentang Membangun Model Kelembagaan Agribisnis menuju Ketahanan Pangan Nasional

4. BKP Jatim membawakan materi Model Optimasi Pemanfaatan Sumberdaya Lahan dalam Memperkokoh Ketahanan Pangan

5. Prof. Dr. Ir.Nuhfil Hanani, MS menyampaikan Konsep Ketahanan Pangan Nasional Menuju Pertanian Berlanjut

Tema Rumah Pangan Lestari menawarkan sudut pandang yang sedikit berbeda atas wacana akademik ketahanan pangan yang umumnya dianalisis dari aspek makro dan meso. Rumah Pangan Lestari (RPL) menguatkan aspek mikro pangan, dengan mencoba menempatkan rumahtangga sebagai pelaku utama dalam sistem ketahanan pangan nasional. Hal ini sesuai dengan pernyataan Presiden RI pada Konferensi Dewan Ketahanan Pangan (JICC, Oktober 2010) yang menegaskan bahwa :

1. Ketahanan pangan dimulai dari rumahtangga

2. Pemanfaatan pekarangan merupakan entry point strategis membangun ketahanan dan kemandirian pangan rumahtangga

Konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari dikembangkan berdasarkan prinsip ketahanan pangan rumahtangga, diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal dan konservasi biodiversitas lokal. Read more…

Quick Literature Review

October 30th, 2012 No comments

Cukup menyenangkan memperoleh kesempatan belajar kembali.  Refreshment, atau menurut istilah Dale Carnegie: mengasah gergaji. Sibuk sebagai lecturer lazimnya membuat kita lupa untuk menjadi long life learner!

Berikut ada beberapa artikel lama yang saya rasa masih relevan kita diskusikan. Selamat bergabung!

Teori Pertumbuhan Abramovitz

Prof. Ratya  mengambil bahan kajian teori pertumbuhan di awal perkuliahan makro ekonomi lanjut. Merujuk pada seri sinopsis ekonomi makro karya Boediono, saya masih mengingat logical framework yang paling mudah diingat.

Makro ekonomi adalah cabang ilmu ekonomi yang mempelajari perekonomian dari perspektif agregat. Ada dua persoalan makro ekonomi yang dihadapi semua bangsa di dunia:

1. masalah jangka pendek: inflasi, unemployment dan ketimpangan neraca pembayaran

2. masalah jangka panjang: pertumbuhan ekonomi.

Tentu kita sepakat, bahwa permasalahan ekonomi makro berperspektif jangka panjang akan sangat tergantung pada apakah permasalahan makro jangka pendek sudah teratasi. Read more…

Widyaloka: 29 Oktober 2012

October 29th, 2012 No comments

Usai upacara Sumpah Pemuda, saya diagendakan mengisi kuliah umum di Widyaloka khusus angkatan 2009 bersama Sekjur Sosek dan Dr. Widodo. Meski diselenggarakan pada saat pelaksanaan ujian tengah semester, mahasiswa masih terlihat antusias. Jelasnya, PD I dan kami  semua menginginkan angkatan 2009 dapat menyelesaikan masa studi tepat waktu dengan IPK yang baik. Dengan status A  akreditasi BAN PT yang telah kami peroleh tiba saatnya ekspansi. Bapak Dekan berkenan membuka kuliah umum ini, dengan pesan khusus tentang ‘rendemen’ (begitu istilah beliau untuk mengistilahkan persentase lulusan tepat waktu yang dapat mengikuti wisuda 8 semester). Pro dan kontra tidak pernah surut seputar isu pemerataan akses yang untuk sementara kalangan petinggi diinterpretasi sebagai penambahan kuota mahasiswa dan isu penjaminan mutu kualitas produk manajerial di Perguruan Tinggi khususnya UB. Sebagaimana PT terkemuka lainnya, UB tengah bersibuk diri dengan akreditasi institusi, baik BAN PT maupun ISO 2001. Bagi kami yang sampai saat ini masih menjadi ujung tombak, kami harus berhadapan langsung dengan mahasiswa dengan semua kepentingannya. Waktu, akumulasi energi, intensitas dan kualitas layanan kami jelas dipertaruhkan. Mereka adalah calon lulusan yang begitu dekat dengan eksekusi komunitas Asian tahun 2015. Daya saing lulusan lebih bermakna kualitas. Siapkah mereka? Saya pribadi melihat semua proses ini seperti proses produksi  telenovela kejar tayang, jatuh bangun mengejar ketertinggalan. Namun demikian di atas segalanya kita harus tetap bergerak, menyongsong perubahan di mana kita berada tepat di tengah-tengah pusaran arusnya. Jadi sejauh yang kami mampu tangani, di sinilah kami saat ini. Berusaha bernegosiasi di atas sekian kepentingan yang saling bersaing. Upaya percepatan kelulusan mahasiswa Prodi Agribisnis, kami rancang dengan mengintegrasikan perkuliahan Metodologi Penelitian di semester VI dengan kegiatan magang dan skripsi . Ini semua mungkin, kami telah mencobanya. Meski belum sempurna output yang kami peroleh, setidaknya kami sudah menjajal sistemnya. Semoga pada setiap angkatan selalu ada continuous improvement…. Read more…

Categories: Agenda Kerja, Seminar, starts small! Tags:

Capaian Kinerja 2012

October 28th, 2012 No comments

Dharma Pendidikan:

1. Final drafting modul Ekonomi Produksi Pertanian versi Distance Learning

2. Pengelolaan magang kerja tahun ke 2 untuk angkatan 2009

3. Penataan organisasi asisten mata kuliah

4. Pengembangan sistem pembelajaran

a. inventarisasi Rancangan Kegiatan Pembelajaran Semester (RKPS) prodi Agribisnis

b. evaluasi buku pedoman akademik dan non perkuliahan

c. manajemen data base: khusus untuk review manajemen, pembakuan notulensi rapat

d. evaluasi pengelolaan magang kerja

5.Studi lanjut ke jenjang Doktor

Things have to be done:

1. Inventarisasi dan sinkronisasi dokumen Gugus Jaminan Mutu (GJM) di bidang akademik

2. Analisis management review

3. Penyelesaian buku ajar Ekonomi Pertanian, Ekonomi Pembangunan Pertanian dan Pemasaran Hasil Pertanian

4. Drafting laporan pertanggungjawaban sekretaris Prodi (sebelum mengundurkan diri karena studi lanjut S3)

5. Penyelesaian pelaksanaan magang kerja tahun 2008 dan laporan pertanggungjawaban (sebelum mengundurkan diri karena studi lanjut S3)

  Read more…

Categories: Agenda Kerja, Author, starts small! Tags:

Evaluasi Kinerja Dosen

October 21st, 2012 No comments

Evaluasi kinerja dosen (EKD) tahun ini telah efektif diintegrasikan dalam sistem online yaitu SIADO. Berikut adalah dokumen portofolio kinerja di bidang penelitian:

1. Semester ganjil 2011-2012

a. Menulis satu judul dalam buku Pertanian Berkelanjutan Berbasis Padi Melalui Jembatan SRI (System of Rice Intensification)

bukti dokumen: SRI

b. Menulis 1 artikel dalam jurnal Agrise klik http://agrise.ub.ac.id/vol_xi_3_2011_1.html

2. Semester genap 2011-2012

a. Menulis satu judul artikel dalam prosiding Seminar Internasional: Environmental, Socio-Economic and Health Impacts of Artisanal and Small Sacle Mining di University of Brawijaya, Indonesia 7-8-2012

naskah artikel prosiding,sertifikat,jadwal,cover

b. menulis 2 artikel dalam jurnal Agrise klik http://agrise.ub.ac.id/vol_xii_1_2012.html

c. menulis 2 artikel dalam prosiding Lokakarya Nasional Pengakuan Studi Wanita sebagai Bidang Ilmu

Proceeding Lokakarya Nasional Pengakuan Studi Wanita Sebagai Bidang Ilmu

Portofolio di bidang pengabdian masyarakat :

1. Semester ganjil 2011/2012

Menulis karya pengabdian yang digunakan sebagai modul pembelajaran pada mata kuliah Rancangan Usaha Agribisnis sekaligus berkontribusi sebagai editor modul tersebut

dokumen pendukung: Modul Rancangan Usaha Agribisnis

2. Semester genap 2011/2012

Menulis karya pengabdian yang digunakan sebagai modul pembelajaran pada mata kuliah Ekonomi Produksi Pertanian

dokumen pendukung: Cover Ekonomi Produksi Pertanian,RKPS FINAL, contoh modul modul 1 Read more…

Categories: starts small! Tags:

EKONOMI PERTANIAN KONTEMPORER: saat mahasiswa baru kami mulai membangun pemahamannya

October 19th, 2012 No comments

Berada dalam tim dosen pengampu mata kuliah Pengantar Ekonomi Pertanian, saya harus mengeksplorasi cabang ilmu ini setiap semester sebab perkuliahan diberikan pada semester 1 bagi mahasiswa Program Studi Agribisnis dan semester 4 bagi mahasiswa Program Studi Agroekoteknologi. Sebagai mata kuliah pengantar tentunya mata kuliah ini memiliki kewajiban membuka wawasan mahasiswa tentang ekonomi pertanian. Mahasiswa kami, yang menjadi putra almamater setelah Fakultas Pertanian direorganisasi menjadi hanya dua program studi berada tepat di tengah kontroversi tentang apakah Indonesia saat ini membutuhkan lulusan S1 yang generalis atau spesialis. Fakta bahwa menjadi spesialis tanpa expertise membuat alumnus kita tertatih di dunia kerja yang tak banyak memberikan peluang, mendorong kita mengevaluasi beberapa keputusan yang di masa lampau telah melahirkan beberapa fakultas baru di lingkungan fakultas-fakultas agrokompleks.

Di kelas Pengantar Ekonomi Pertanian, semua latar belakang dan isu-isu penting haruslah dikemas sedemikian rupa sehingga esensi ekonomi pertanian dapat menginfiltrasi tidak melulu pada aspek kognitif, namun terlebih pada aspek psikomotorik. Lalu beberapa pertanyaan dari buku Pengantar Ekonomi Pertanian lama karangan Prof. Mubyarto, terbitan LP3ES saya coba lempar. Mengapa perkembangan jenis ternak di daerah Sumatera, Kalimantan dan Irian Jaya tidak sebaik di wilayah lain di Indonesia, khususnya daerah Nusa Tenggara? Meski pertanyaan ini sederhana, namun jawaban yang benar bisa jadi sangatlah ekletik. Setidaknya meminta mahasiswa menyadari satu hal: betapa mereka semua belajar sangat parsial selama ini. Bahwa perkembangan populasi ternak membutuhkan pasokan pakan yang cukup seharusnya menjadi titik awal mereka membangun argumentasi. Dan bahwa ternak besar berkaki empat, tentu tak lepas sepenuhnya dari penyakit hewan menular yang berbahaya. Sampai di sini, mereka harus mengingat-ingat beberapa materi dari pelajaran Biologi yang pernah dipelajarinya di SMP atau SMA. Selanjutnya pemetaan wilayah perlu dilakukan, mereka harus tahu sedikitnya geografi dan setidaknya kategori iklim dalam kaitannya dengan posisi astronomis dan geologis. Dari pengetahuan dasar itu mereka akan menyadari bahwa Sumatera, Kalimantan, Irian Jaya adalah wilayah yang memiliki tropical rain forrest terbesar di Indonesia. Rumput sebagai pakan ternak jelas tak dapat tumbuh optimal di bawah tajuk pohon-pohon besar yang bertaut di pedalaman belantara Indonesia. Belum lagi penyakit hewan menular seperti scabies, fasciola hepatica, botulisme, dsb akan sangat leluasa berkembang. Sedikit pemahaman biologi diperlukan di sini.

Sejauh ini, saya termasuk salah satu yang percaya bahwa motivasi dan minat belajar adalah hal terpenting yang menjadi kunci sukses belajar di perguruan tinggi. Semoga informasi  yang saya bawakan meski sedikit dapat menginspirasi mereka untuk mencintai bidang ini secara profesional. Hasilnya akan segera dievaluasi pada ujian tengah semester yang direncanakan untuk berlangsung mulai minggu depan. Read more…

Categories: starts small! Tags:

Catatan perjalanan lapang

Magang kerja tahun 2012 sudah berlangsung. Kali ini ada banyak hal berbeda yang kami harapkan merupakan perbaikan dari pelaksanaan magang kerja tahun lalu. Cukup banyak yang dapat dilakukan, meski tentu saja masih lebih banyak kendala yang harus dihadapi untuk mencapai kondisi ideal. Magang kerja sendiri memperoleh respon yang beragam dari stakeholder. Sebagian dari mitra magang kerja menyatakan penyelenggaraan magang kerja selama lebih kurang tiga bulan terlampau lama, sementara tak kurang yang menyatakan durasi magang kerja selama 3 bulan itu cukup ideal.
MAGANG KERJA 2011 Read more…

Categories: starts small! Tags:

Catatan tentang MDG’s

February 19th, 2012 No comments

Millenium development goals, merupakan isu pembangunan penting berskala global yang wajib dipahami oleh mahasiswa. Sayang baru semester depan saya berencana memasukkan MDG’s sebagai salah satu bahan kajian pada mata kuliah Ekonomi Pembangunan Pertanian. Beberapa tautan di bawah ini dapat menjadi entry point kita untuk bersama-sama belajar tidak saja agar memahami namun terutama dapat memberikan kontribusi sesuai bidang dan kemampuan kita masing-masing.

Keterkaitan MDG’s dengan disiplin ilmu pertanian terutama pada sisi ketahanan dan kemandirian pangan dalam upaya memberantas kelaparan.Konsep-konsep penting terkait MDG’s menjadi bahan kajian penting dalam mata kuliah Ekonomi Pembangunan Pertanian . Untuk itu kami share beberapa dokumen dan artikel yang dapat dijadikan entry point khususnya sebagai learning resources bagi mahasiswa.

mdg’s

  Read more…

PHKI UB 2011

November 19th, 2011 No comments

Usulan PHKI UB untuk tema B dan C tahun 2010 yang dinyatakan lolos seleksi, secara efektif  dilaksanakan mulai tahun 2011. PHKI Tema C diorientasikan untuk peningkatan daya saing daerah. UB mengangkat komoditas unggulan nilam dari Kabupaten Blitar, dengan PHKI sebagai collection point yang mencakup 4 program utama yaitu GAP (Good Agricultural Practices), GMP (Good Manufacture Practices), GDP (Good Development Practices), dan GDMP (Good Distribution and Marketing Practices).

Memilih nilam sebagai komoditas unggulan saya rasa sangatlah rasional, mengingat Blitar memang sudah sangat lama dikenal sebagai penghasil minyak atsiri khususnya kenanga. Hanya saja, kenanga merupakan tanaman tahunan yang usianya rata-rata sudah sangat uzur. Seharusnya tanman ini perlu direhabilitasi, namun kenyataannya populasi pohon bunga kenanga tidak semakin meningkat, namun semakin berkurang dan langka. Posisi ini mendorong tim kami untuk menawarkan solusi alternatif yaitu nilam, sebagai komoditas substitusi sementara menunggu kenanga mekar kembali

Categories: starts small! Tags:

WORKSHOP ON LABORATORY MANAGEMENT

Recommendation Concerning Laboratory and Their Management
Keynote speaker: Prof. Douglas D. Archbold (Kentucky University)
Friday, June, 18th, 2910: 08.00
Meeting Room, 2nd floor, Agriculture Faculty, UB

Agenda utama workshop adalah memperoleh rujukan dan berbagi pengalaman tentang pengelolaan pengelolaan laboratorium. Dekan Fakultas Pertanian dalam opening ceremonial memaparkan bahwa Fakultas Pertanian telah menjadwalkan pembelian sejumlah peralatan laboratorium. Mengingat dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar di Perguruan Tinggi pengelolaan laboratorium merupakan hal yang sangat krusial maka, dalam kesempatan ini, Dekan FP UB meminta sumbang saran pada nara sumber dari Universitas Kentucky.
Pada sesi pemaparan dari Prof. Douglas D.Archbold, dikemukakan bahwa pada prinsipnya pengadaan peralatan laboratorium harus tetap up to date, meski prioritas dan skenario pendanaan juga menjadi pertimbangan penting. Prof. Archbold selanjutnya menyatakan bahwa baik buruknya pengelolaan laboratorium sangat tergantung pada ‘good procedures’. Untuk itu inventarisasi dan mekanisme monev serta pelaporan teknis berkenaan dengan peralatan lab mana yang masih baik, dan yang sudah harus diganti selalu diketahui pihak manajemen. Pertimbangan pembelian dan atau penggantian peralatan laboratorium adalah keputusan bersama, mengingat cukup banyak pihak yang berkepentingan. Kurikulum, kesesuaian fasilitas laboratorium sebagai penunjang, kebutuhan riset, aspek maintenance, kapabilitas laboratorium dan dana yang tersedia saling mempengaruhi satu sama lain. Selain itu tak boleh terlupakan bahwa laboratorium tak hanya memerlukan peralatan namun juga membutuhkan bahan. Kesesuaian dan efisiensi penggunaan material penelitian hendaknya juga menjadi pertimbangan saat keputusan pembelian peralatan dilakukan.

Belajar Menulis

October 12th, 2009 1 comment

Malang,12 Oktober 2009:

Berpuluh tahun lalu, saat saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, almarhum Bapak selalu mengajari saya menulis. Pelajaran mengarang saat itu adalah salah satu bagian dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Mengarang memang menjadi momok bagi teman-teman sekelas saya, memperoleh nilai delapan puluh sudah sangat sulit.

Saya boleh sedikit berbangga, sebab karangan saya  masih terbilang layak dibacakan di depan kelas. Hanya sedikit saja di bawah nilai karangan Gaston, teman yang sekarang ini menjadi dosen sastra di Universitas Petra Surabaya. Tapi pengalaman yang ingin saya bagikan tentang karang mengarang bukanlah tentang bagaimana karangan saya masuk nominasi kala itu. Proses  menulisnyalah yang selalu mengingatkan saya pada bagaimana almarhum Bapak melatih saya.

Dalam proses belajar mengarang itu, Bapak selalu ikut menulis. Biasanya beliau memilih sebuah tema, misalnya tentang air, tentang perang, tentang musik, tentang kaki, tentang telinga. Tema-tema karangan kami sangat beragam. Bapak hanya menyebutkan satu kata yang harus kami kembangkan menjadi sebuah karangan minimal 20 paragraf. Sebenarnya Bapak meminta saya mengarang 200 kalimat setiap hari. Tapi saya protes, karena pada masa itu belum ada menu word count untuk tulisan tangan. Saya kesulitan menghitungnya sehingga pada akhirnya tidak fokus pada pengembangan tulisan, tapi sibuk menghitung berapa kalimat yang sudah saya tuliskan.

Tanpa  saya sadari, dengan belajar mengarang, sesungguhnya Bapak melatih saya menjadi pembaca, pengolah informasi, sekaligus pengamat. Ketiga hal itu mutlak dilakukan bila seseorang ingin menulis sebuah karya yang baik. Perlahan-lahan dari karangan yang bersifat reportase, saya mulai bisa menulis hal-hal yang agak analitis. Saya juga mulai paham bagaimana mengikuti dorongan perasaan lalu meramunya dalam logika pemikiran. Dengan berlatih dan terus berlatih, Bapak menjadikan saya seorang yang taat prosedur dan sangat menghargai proses.

Sayang, saya hanya berkesempatan ngangsu kawruh pada beliau sampai kelas satu SMA saja. Bapak wafat pada saat saya berusia 16 tahun. Padahal kala itu, saya mulai beranjak remaja. Seringkali saya menginginkan tema-tema yang lebih pribadi untuk dikembangkan menjadi sebuah tulisan, percintaan misalnya….

Menjadi remaja yang suka menulis, saya merasa tak dapat menyeleksi arus gagasan yang memasuki otak dengan sangat deras. Arus itu begitu cepat, melompat-lompat, beragam, sangat indah dan cemerlang sekaligus membingungkan. Baru setelah saya memiliki putra-putri yang beranjak remaja saat ini, saya temukan jawabannya. Remaja berada pada masa transisi, mereka berubah dalam hitungan detik. Begitu banyak hal yang mendesak emosi  mereka hingga meletup-letup, begitu banyak pertanyaan yang memerlukan jawaban. Semakin kreatif mereka, semakin banyak konsep memasuki pikiran mereka, semakin tertekan mereka secara psikologis.

Saya ingat tulisan saya saat saya remaja dulu sering tidak konsisten. Tanpa Bapak di sisi saya, saya mengalami kesulitan menetapkan tema-tema untuk tulisan saya. Hanya semangat yang didorong oleh kebutuhan mengaktualisasikan diri saja yang membuat saya bertahan tetap menulis meski sebagian besar hasil tulisan itu tetap menghuni laci meja belajar saya.

Konsep berbagi gagasan, pengalaman, pengetahuan, pendapat dan perasaan melalui tulisan di blog baru saya kenal dua tahun belakangan. Manfaatnya sungguh luar biasa. Saya sempat berfikir, andai saja Bapak masih ada. Betapa bahagianya dia. Di usia saya yang ke 42 ini, saya masih juga berkecimpung dalam dunia tulis menulis. Kali ini sebagai dosen pembimbing tugas akhir atau skripsi. Mengajarkan logika dasar, tips dan trik menulis pada mahasiswa yang harus menyusun laporan penelitian mungkin bukan tugas saya. Rekan-rekan lain berpendapat itu tugas para dosen mata kuliah Bahasa Indonesia. Tak salah sepenuhnya, namun saya punya pendapat yang sedikit berbeda. Menulis adalah sebentuk keterampilan, tak akan bisa bila tak biasa. Dan bagaimana mungkin mahasiswa akan biasa menulis hanya dengan mengandalkan mata kuliah Bahasa Indonesia selama satu semester? Saya sendiri belajar menulis sejak saya bisa menulis dan membaca buku cerita. Oleh karena itu saya sangat tahu, tak seorangpun dapat menulis dengan baik bila dia tak gemar membaca. Sampai di sini, sudah bukan rahasia bila minat baca di kalangan mahasiswa sebegitu rendahnya. Salah siapa?

Jika membaca lebih didorong oleh hasrat, bagaimana caranya agar buku bisa mengundang hasrat mahasiswa untuk menyentuh, mengusap, menelusuri seluruh lekuk liku alinea dan setiap pori hurufnya? Bagaimana????

Categories: Author, starts small! Tags:

Masih dari Diklat Penulisan Buku Ilmiah

October 11th, 2009 No comments

Hari kedua diklat penulisan buku ilmiah ini semestinya tak kalah seru dari agenda kemarin karena yang datang sebagai pembicara adalah Wandi S. Brata Dirut PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, dan dari beberapa penerbit terkemuka di Indonesia. Tapi, seperti biasalah, peserta tak sebanyak kemarin. Seharusnya juga saya tak perlu berkomentar banyak, sebab ini adalah hari Minggu, jadi sangat wajar bila banyak peserta punya acara lain. Namun mengingat betapa diklat ini diakomodasi sepenuhnya oleh institusi alias gratis, saya sendiri merasa eman bila tak tuntas mengikutinya.

Dari aspek event organizer sih, memang acara diklat ini tampaknya cukup minimalis. Tak seperti acara-acara lain yang diselenggarakan di gedung rektorat, tak ada rehat kopi tertera di jadual acara hari ini. Untuk peserta hanya disediakan makan siang. Rehat kemarin juga hanya sekali untuk durasi waktu diklat hingga sekitar pukul 4. Last but not least, berarti yang hadir pagi ini adalah kelompok yang benar-benar berminat menulis.

Hal menarik dari materi presentasi Wandi S. Brata yang ingin saya bagikan pada pembaca blog saya adalah bahwa saat ini trend minat baca   juga going digital. Seperti pendapat Steve Job: “It doesn’t matter how good or bad the product is the fact is that people dont read anymore, the whole product is flawed at the top because people don’t read anymore. Kondisi ini diperparah dengan daya beli masyarakat pembaca di Indonesia yang sangat rendah.

Lupakan jika Anda ingin kaya dari menulis buku, begitu kata Pak Wandi. Menulis buku hanyalah investasi awal untuk mempersepsikan kepakaran seseorang. Artinya, karya tulis dalam bentuk buku lebih  berfungsi   membentuk brand image.

Apa itu buku bermutu? Berikut ini beberapa indikator yang dapat dijadikan acuan:

  1. Obyektif
  2. Rasional
  3. Menawarakan terobosan
  4. Positive value
  5. Instrumental terhadap idealisme
  6. Komprehensif
  7. Metodis
  8. Sistematis
  9. Koheren
  10. Visualisasi dan bahasanya sesuai dengan target pembaca.

Sedangkan kriteria buku laku menurut Pak Wandi antara lain adalah:

  1. banyak orang berkepentingan
  2. terintegrasi dengan kepentingan lain
  3. promosinya spektakuler
  4. temanya trendi, sensasional, menyentil emosi masyarakat dan ‘nyrempet bahaya’
  5. penulisnya punya komunitas
  6. distribusi merata

Dari dua kriteria di atas lantas ada 4 kuadran untuk mengkategorikan buku: buku bermutu yang laku, buku bermutu yang tidak laku, buku tak bermutu yang laku dan buku tak bermutu yang tak laku. Apakah Anda sudah menulis buku? Kira-kira jika sudah pernah menulis, termasuk kategori yang manakah buku Anda?

Categories: starts small! Tags: