Archive

Archive for the ‘WORK STATION’ Category

Kolaborasi Tri Dharma: peluang tanpa batas dan tantangan zona nyaman

March 20th, 2015 No comments

175570085442753077pqDtbZbscGunung Bromo masih memberikan kesan mendalam pada diri saya. Ketertarikan saya dimulai tahun 2012 saat melakukan supervisi magang kerja mahasiswa ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Sempat mampir ke Ranu Regulo, mengunjungi konservasi bunga Edelweiss. Jalan yang harus ditempuh sungguh panjang dan berliku. Licin karena guyuran hujan, sebagian besar makadam atau jalan batu, sebagian kecil jalanan aspal yang telah rusak. TNBTS berada di empat wilayah administratif. Kabupaten Malang, Lumajang, Pasuruan dan Probolinggo. Ini memberikan firasat kurang baik, karena umumnya suatu hal yang meminta kolaborasi integratif sebagai wujud kebijakan di Indonesia sangat sulit dilakukan. Firasat saya tidak salah. Alasan bagi saya klasik adanya. Pembiayaan, otoritas dsb. Tak penting karena hati dan panggilan saya tertarik ke sini.

Ada banyak cerita yang ingin saya bagi lewat blog ini. Tentu saja ini semua hanya bagian dari komitmen pribadi. Mungkin saya hanyalah satu dari ribuan penyaksi yang tersentuh oleh kisah Bromo. Exotic view nya, erupsi sikliknya, hutannya, masyarakat Tengger dengan pasirnya yang berbisik. Absolutely beautiful !

Perlahan, by process.. saya percaya tulisan yang baik tak akan pernah dapat lahir dalam ketergesa-gesaan. Begitupun menunggu semua hal sempurna untuk melakukannya tak akan membuat saya segera membuahkan karya. Read more…

UB Menuju World Class Entrepreunerial University

December 22nd, 2012 No comments

Banyak opini saat gagasan tentang UB sebagai world class entrepreunerial university pertama kalinya dicanangkan. Sebagian besar mencibir pada awalnya. Tampaknya masih sulit memahami bagaimana sebuah perguruan tinggi berevolusi meraih citra diri yang terdengar komersial di telinga awam. Sejumlah spekulasi segera beredar. Sebagian skeptis, sebagian apatis, sebagian lain sangat optimistik. Mereka yang secara langsung terlibat pada pengembangan inkubator bisnis termasuk dalam kategori ketiga. Mereka langsung mengambil posisi proaktif. Respon terdepan inipun menuai hasil berkilau. Model inkubator bisnis UB termasuk salah satu yang selalu menjadi rujukan universitas lain. Dirjen Dikti pun acung jempol.

Saya sendiri termasuk civitas akademika yang memilih bersikap skeptis. Satu alasan utama saya adalah saya berangkat dari pemahaman bahwa membangun entrepreunerial university, tak sebatas mengganti logo institusi dengan menempatkan globe di dalamnya bersanding dengan logo Raja Brawijaya dari Kerajaan Majapahit atau membangun gedung inkubator bisnis yang megah di kawasan jalan Veteran. Visi menjadi Entrepreunersial University adalah fungsi dari entrepreunerial corporate culture. Budaya korporat yang berorientasi pada kewirausahaan tak mungkin dibangun tanpa reyasa sosial yang revolusioner bernama entrepreunerial mindset.  Sebagaimana kita insyafi bersama membangun pola pikir, mengubah kultur dan perilaku tidaklah semudah membalik telapak tangan.

Sebuah bisnis yang baik,tidak dibangun dalam sehari. Dari titik ini menuju world class entrepreunerial university terasa sungguh di luar jangkauan kita untuk meraihnya. Namun, marilah kita coba gali dari sudut pandang yang berbeda. Asian Economic Community (AEC) sebagai perwujudan AFTA pada tahun 2015 dapat diartikan sebagai invasi besar-besaran tenaga kerja terampil dari negara-negara maju di kawasan Asia. Jujur saya katakan persaingan ini tidak berimbang. Untuk merespon hal ini, satu alternatif lain bagi lulusan UB harus ditawarkan. Sudah saatnya bersiap untuk bergerak di kuadran II dan III Robert Kiyosaki, yakni menjadi self employed dan business owner. Dengan kata lain, peluang alternatif ini bernama entrepreunership.

Sebagai salah satu pengajar di fakultas pertanian, sebagai salah satu warga UB, saya tak dapat lari dari semua arus perubahan ini. Pilihannya adalah mencoba beradaptasi secepat mungkin, sebaik mungkin dengan tingkat resiko dan biaya seminimal mungkin (mengadopsi istilah bisnis: better, faster dan cheaper). Berikut ini beberapa tulisan yang saya turunkan khusus untuk berbagi opini dengan Anda semua. Read more…

Dokumen Akademik tahun 2003

November 19th, 2012 No comments

Pada tahun 2003 tepatnya tanggal 28 Februari hingga 1 Maret di Widya Loka Universitas Brawijaya pernah berlangsung seminar dan lokakarya yang mendatangkan Prof. Bungaran Saragih sebagai nara sumber. Saat itu cukup banyak gagasan ditelurkan pada acara semiloka yang berlangsung. Satu prosiding telah dipublikasikan, deklarasi Perpadi pun disepakati. Saat ini di penghujung tahun 2012, kembali digelar acara seminar dengan topik yang serupa. Menjelang 10 tahun perjalanan wacana akademik sejak dirumuskan pada tahun 2003, masih banyak PR yang belum dikerjakan. Apakah agenda ketahanan pangan dengan beras sebagai tema utama akan benar-benar menjadi the unfinished problems? Sekali lagi mungkin dokumen akademik pada masa itu perlu dibuka kembali sekedar mengingatkan kita semua, menjadi evaluasi dancritical pointsetidaknya untuk kita sebagai insan akademik,ke  mana saja kita selama ini. Kontribusi menjadi hal yang paling penting dipertanyakan!

Berikut ini beberapa materi prosiding yang penting kami unggah kembali untuk menjadi kajian dan perhatian, tampaknya kita sudah cukup banyak berpikir dan berunding, sekarang tindakan menjadi satu-satunya hal yang diperlukan.

A.Suryana Semiloka Perpadi 2003

Nindyowati Semiloka Perpadi 2003 Read more…

Dokumen Akademik: KETAHANAN PANGAN

November 19th, 2012 No comments

Beras di Indonesia adalah komoditas pangan paling strategis sebab dikonsumsi oleh hampir seluruh penduduk, serta diproduksi oleh sebagian besar petani Indonesia. Karena pentingnya peran beras baik dari sisi permintaan maupun penawaran, beras telah dianggap sebagai komoditas politik. Sampai saat permasalahan dalam perberasan Indonesia dalam kondisi yang memprihatinkan. Indonesia walaupun termasuk negara produsen beras terbesar ketiga setelah China dan India, namun dalam segi impor tergolong negara pengimpor terbesar.

Sementara itu kondisi petani beras dicirikan dengan : (a) skala kecil, (b) modal terbatas, (c) teknologi sederhana, (d) sangat dipengaruhi musim, (e) wilayah pasarnya lokal, (f) umumnya berusaha dengan tenaga kerja keluarga sehingga menyebabkan terjadinnya involusi pertanian (pengangguran tersembunyi), (g) akses terhadap kredit, teknologi, dan pasar sangat rendah, (h) rendahnya penanganan pasca panen dan mutu produk dan (i) lemahnya posisi tawar petani.Berdasarkan kenyataan tersebut, maka kebijakan perberasan tidak saja dituntut mampu meningkatkan produksi, namun dituntut juga memperbaiki kesejahteraan petani.

Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya telah menjalin cukup banyak kerjasama di bidang ketahanan pangan, salah satunya adalah dengan Bulog. Saat ini Bulog meluncurkan program baru yaitu Bulog Onfarm. Program ini dimaksudkan untuk mengintervensi ketahanan pangan langsung pada pelaku produksi di akar rumput yaitu petani dan kelompok tani.  Sinergis dengan program-program tersebut, berbagai ihtiar para formulator kebijakan sudah sampai pada tahapan implementasi di tingkat mikro. Balitbang Kementan meluncurkan Program Kawasan Rumah Pangan Lestari. Namun bagaimanapun semua program perlu dikaji tindak serta selalu dimonitoring pada level operasional. Begitupun berbagai wacana dan gagasan akademik ini menjadi sangat penting untuk disosialisasikan terutama kepada mahasiswa. Alasan terpenting yang melatarbelakanginya tentu saja sebab di pundak merekalah tanggung jawab memberi makan dunia kelak akan berada.

Berikut beberapa dokumen akademik yang relevan dengan tema di atas. Mahasiswa dapat mengunduh materi-materi berikut sebagailearning resources.

Kebijakan Revitalisasi Penggilingan Padi

20120704-Manajemen dan Distribusi Stok Beras BULOG

Read more…

SEMINAR NASIONAL DAN TEMU ALUMNI FPUB 2012

November 11th, 2012 No comments

Rangkaian acara Dies Natalis FPUB yang ke 52 tahun ini mengagendakan seminar nasional dan temu alumni.  Acara ini merupakan agenda rutin tahunan yang diselenggarakan setiap Dies Natalis. Topik seminar tahun ini adalah Rumah Pangan Lestari dalam Perspektif Ketahanan dan Kemandirian Pangan Keluarga. Bertempat di Gedung  Widya Loka Jumat 9 November 2012, seminar nasional dibuka pukul 08.30 oleh Dekan FP UB. Tampil sebagai nara sumber pada seminar nasional ini:

1. Dr.Ir. Haryono, MSc. Kepala Badang Litbang Pertanian yang menyampaikan makalah berjudul Model Kawasan Rumah Pangan Lestari: Upaya Mencapai Ketahanan Pangan Keluarga dan Pola Pangah Harapan tahun 2014

2. Dr.Ir. Suhardi, MSc. Ketua DPD HKTI Yogyakarta membawakan makalah berjudul Komitmen Kinerja Kebijakan Nasional terhadap Pembangunan Ketahanan  Pangan di Indonesia

3. Dr. Ir.Rachmat Pambudy (Pemerhati Pertanian dan Dosen Pasca Sarjana IPB) menyampaikan materi tentang Membangun Model Kelembagaan Agribisnis menuju Ketahanan Pangan Nasional

4. BKP Jatim membawakan materi Model Optimasi Pemanfaatan Sumberdaya Lahan dalam Memperkokoh Ketahanan Pangan

5. Prof. Dr. Ir.Nuhfil Hanani, MS menyampaikan Konsep Ketahanan Pangan Nasional Menuju Pertanian Berlanjut

Tema Rumah Pangan Lestari menawarkan sudut pandang yang sedikit berbeda atas wacana akademik ketahanan pangan yang umumnya dianalisis dari aspek makro dan meso. Rumah Pangan Lestari (RPL) menguatkan aspek mikro pangan, dengan mencoba menempatkan rumahtangga sebagai pelaku utama dalam sistem ketahanan pangan nasional. Hal ini sesuai dengan pernyataan Presiden RI pada Konferensi Dewan Ketahanan Pangan (JICC, Oktober 2010) yang menegaskan bahwa :

1. Ketahanan pangan dimulai dari rumahtangga

2. Pemanfaatan pekarangan merupakan entry point strategis membangun ketahanan dan kemandirian pangan rumahtangga

Konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari dikembangkan berdasarkan prinsip ketahanan pangan rumahtangga, diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal dan konservasi biodiversitas lokal. Read more…

Widyaloka: 29 Oktober 2012

October 29th, 2012 No comments

Usai upacara Sumpah Pemuda, saya diagendakan mengisi kuliah umum di Widyaloka khusus angkatan 2009 bersama Sekjur Sosek dan Dr. Widodo. Meski diselenggarakan pada saat pelaksanaan ujian tengah semester, mahasiswa masih terlihat antusias. Jelasnya, PD I dan kami  semua menginginkan angkatan 2009 dapat menyelesaikan masa studi tepat waktu dengan IPK yang baik. Dengan status A  akreditasi BAN PT yang telah kami peroleh tiba saatnya ekspansi. Bapak Dekan berkenan membuka kuliah umum ini, dengan pesan khusus tentang ‘rendemen’ (begitu istilah beliau untuk mengistilahkan persentase lulusan tepat waktu yang dapat mengikuti wisuda 8 semester). Pro dan kontra tidak pernah surut seputar isu pemerataan akses yang untuk sementara kalangan petinggi diinterpretasi sebagai penambahan kuota mahasiswa dan isu penjaminan mutu kualitas produk manajerial di Perguruan Tinggi khususnya UB. Sebagaimana PT terkemuka lainnya, UB tengah bersibuk diri dengan akreditasi institusi, baik BAN PT maupun ISO 2001. Bagi kami yang sampai saat ini masih menjadi ujung tombak, kami harus berhadapan langsung dengan mahasiswa dengan semua kepentingannya. Waktu, akumulasi energi, intensitas dan kualitas layanan kami jelas dipertaruhkan. Mereka adalah calon lulusan yang begitu dekat dengan eksekusi komunitas Asian tahun 2015. Daya saing lulusan lebih bermakna kualitas. Siapkah mereka? Saya pribadi melihat semua proses ini seperti proses produksi  telenovela kejar tayang, jatuh bangun mengejar ketertinggalan. Namun demikian di atas segalanya kita harus tetap bergerak, menyongsong perubahan di mana kita berada tepat di tengah-tengah pusaran arusnya. Jadi sejauh yang kami mampu tangani, di sinilah kami saat ini. Berusaha bernegosiasi di atas sekian kepentingan yang saling bersaing. Upaya percepatan kelulusan mahasiswa Prodi Agribisnis, kami rancang dengan mengintegrasikan perkuliahan Metodologi Penelitian di semester VI dengan kegiatan magang dan skripsi . Ini semua mungkin, kami telah mencobanya. Meski belum sempurna output yang kami peroleh, setidaknya kami sudah menjajal sistemnya. Semoga pada setiap angkatan selalu ada continuous improvement…. Read more…

Categories: Agenda Kerja, Seminar, starts small! Tags:

Evaluasi Kurikulum

October 10th, 2012 No comments

Kurikulum berbasis kompetensi telah mulai dibangun sejak tahun 2000. FP UB sendiri mulai mengimplementasikan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) sejak tahun 2008. Artinya, KBK telah menghasilkan mulai lulusan pada tahun ini. Hal ini juga berarti sudah tiba saatnya dilakukan evaluasi. Manual prosedur GJM FP UB telah menetapkan standar prosedur evaluasi empat tahunan atas kurikulum yang berlaku.

Wacana kurikulum sebagai peranti pencapaian kompetensi lulusan erat kaitannya dengan agenda nasional yang saat ini tengah hangat-hangatnya diperbincangkan yaitu KKNI (Kerangka Kerja Nasiional Indonesia). Fakultas Pertanian UB sendiri telah mengambil langkah strategis terkait KKNI pada pelaksanaan Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia (FKPTPI) yang diselenggarakan di kota Batu.

Seminar pada FKPTPI tahun ini selanjutnya ditindaklanjuti dalam berbagai kegiatan, di antaranya evaluasi kurikulum yang menghadirkan Bp. Endrotomo dari ITS sebagai nara sumber.

Beberapa makalah dan materi berkenaan evaluasi kurikulum di bawah ini dapat diunduh, semoga share dokumen ini bermanfaat:

evaluasi KBK UB (endro 2012)

a. KKNI-Kurikulum (endro 2012)

Read more…

Catatan tentang MDG’s

February 19th, 2012 No comments

Millenium development goals, merupakan isu pembangunan penting berskala global yang wajib dipahami oleh mahasiswa. Sayang baru semester depan saya berencana memasukkan MDG’s sebagai salah satu bahan kajian pada mata kuliah Ekonomi Pembangunan Pertanian. Beberapa tautan di bawah ini dapat menjadi entry point kita untuk bersama-sama belajar tidak saja agar memahami namun terutama dapat memberikan kontribusi sesuai bidang dan kemampuan kita masing-masing.

Keterkaitan MDG’s dengan disiplin ilmu pertanian terutama pada sisi ketahanan dan kemandirian pangan dalam upaya memberantas kelaparan.Konsep-konsep penting terkait MDG’s menjadi bahan kajian penting dalam mata kuliah Ekonomi Pembangunan Pertanian . Untuk itu kami share beberapa dokumen dan artikel yang dapat dijadikan entry point khususnya sebagai learning resources bagi mahasiswa.

mdg’s

  Read more…

International Conference: Environmental Socio-Economic and Health Impacts of Artisanal and Small Scale Mining

February 8th, 2012 No comments

Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya pada tanggal 7 dan 8 Februari 2012, bertempat di gedung Widya Loka menghelat Seminar Internasional dengan tema Environment  Socio Economic and Health Impacts of Artisanal and Small Scale Mining bekerja sama dengan Universitas Mataram, Massey University, Kerala Agricultural University dan Chinese Academy of Sciences. Dengan peserta yang sangat serius mengikuti seluruh program dari awal hingga akhir )saya memperoleh info dari panitia, kepesertaan juga dibatasi), Widya Loka tampak lengang. Keseluruhan acara , pembicara dan aspek teknis cukup lancar. Namun sekali lagi tampak menyolok ruang yang terlampau besar dan kursi-kursi kosong. Seharusnya panitia memilih lokasi yang lebih tertutup, semacam UB Hotel. Atau setidaknya seminar sepenting ini, juga membuka akses untuk mahasiswa baik S1,S2 maupun S3 dengan tiket seminar diskon.

Saya sendiri mencoba menjadi partisipan. Ucapan terimakasih secara pribadi saya sampaikan kepada kolega saya M.Agus Junaidi yang saat ini sedang melanjutkan studi S3 di Southampton University. Ini pengalaman baru yang cukup menantang. May be next time better.

Tema sosial ekonomi pertanian tak banyak terwakili. Tampaknya hal ini merepresentasikan time allocation kolega dosen di jurusan Sosek masih belum berimbang antara kegiatan mengajar, administrasi proses belajar mengajar, menulis, meneliti dan melakukan pengabdian masyarakat. Bagaimanapun pengalaman dua hari ini akan saya jadikan awal langkah saya untuk lebih ketat memprioritaskan pengembangan ilmu. Read more…

Categories: Diklat, Lokakarya, Seminar, starts small! Tags:

Artikel SRI

October 2nd, 2009 No comments

Semiloka SRI 2 sudah berlangsung kemarin. UB’s Guest House jadi semarak dengan kehadiran para narasumber, termasuk Prof. Norman Uphoff. Sayang tidak semua delegasi petani SRI dapat menghadirinya, sebagian besar karena masalah administrasi. Satu catatan untuk sekretaris, seharusnya bisa lebih baik, dan harus lebih baik di masa mendatang, sebab ekspedisi pos kurang dapat diandalkan. Perlu waktu untuk memastikan semua hal berjalan lancar. Tetapi bagaimanapun, silaturahmi akan tetap jalan, antara lain melalui WEB ini.

Categories: SRI, WORK STATION Tags:

SRI: SYSTEM RICE INTENSIFICATION

August 20th, 2009 No comments

System Rice Intensification (SRI) adalah salah satu pendekatan dalam praktek budidaya padi yang menekankan pada manajemen pengelolaan tanah, tanaman dan air melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan lokal yang berbasis pada kegiatan ramah lingkungan. Gagasan SRI semula dikembangkan di Madagaskar awal tahun 1980. Penerapan gagasan SRI secara umum didasarkan pada enam komponen penting yaitu:

1. Transplantasi bibit muda, bibit ditanam satu batang

2. Jarak tanam lebar

3. Kondisi tanah lembab (irigasi berselang)

4. Pendangiran

5. Mengguanakan kompos dan MOL (Mikro Organisma Lokal).

Sebagai model teknis, SRI sangat sesuai dengan semangat pertanian berlanjut. Saat ini bersama tim lain dari UB dan Sampoerna, saya sedang mencoba mengkaji lebih intensif pengembangan model ini. Beberapa bahan bacaan sebagai rujukan dapat didownload di bawah ini. Semoga pihak-pihak yang memiliki kepentingan dan informasi berkenan berkontribusi untuk melengkapi proses belajar kami ini.

sri-1

sri-2

sri-3

sri-4

Kurikulum Berbasis Kompetensi: proses inisiasi!

August 18th, 2009 No comments

UB’s Guest House: 15 Agustus 2009

Hari ini tim KBK FP UB berkesempatan jumpa lagi dengan Pak Endro Tomo. Beliau tetap langsing dan bersahaja. Saya kagum pada beliau karena banyak hal, terutama karena ketenangan dan kedalaman pola pikirnya. Tentu seperti yang saya duga sebelumnya, workshop kurikulum kali inipun masih kental diwarnai perdebatan dan kritik. Bagi saya sendiri perubahan kurikulum dan semua masalah yang ditimbulkan tak banyak memberikan ruang untuk berargumen. Sederhana saja, draft dokumen kurikulum yang sudah diSK menjadi tugas kami, bisa tuntas. Kami merasa sudah bekerja keras, cerdas dan ikhlas,tapi  rasanya pekerjaan ini tak pernah tuntas… (Bekerja keras, wong sudah luamaa sekali, dengan skedul kerja lembur yang gak bisa lagi dihitung jari; bekerja cerdas… lha wong demi KBK kami harus banyak baca dan belajar; kerja ikhlas, wong lebih banyak agenda kerja di luar scheme honor…… Sediiihhhh sekali rasanya menanti kapan proses ini bisa happy ending!)

Saya berangkat dari rumah ke Workshop Kurikulum yang digelar FP UB hanya dengan satu doa: tugas yang diamanahkan pada saya bisa selesai hari ini. Jadi, tentu saja saya mulai kecewa, sedikit emosi ketika mencermati betapa sulitnya critical opinion forum dibangun.

Akhir cerita, pukul 16 lebih, Pak Endro memberikan closing untuk evaluasi proses penataan KBK yang sudah kami rintis sejak dua tahun lalu. Tak seperti biasanya, beliau memutarkan satu klip pendek untuk kami. Mungkin klip film tersebut disuntingnya sendiri. Film pendek berdurasi sekitar dua menit itu, bercerita tentang 4 batang lilin yang putus asa: Lilin pertama bernama PERUBAHAN; lilin kedua bernama IMAN; lilin ketiga bernama CINTA. Ketiga lilin pertama itu padam karena rasa kecewa. Namun lilin keempat, yang karena merasa harus tetap menyala demi menenangkan seorang anak yang takut pada kegelapan, berkata:”Jangan takut, aku akan tetap menyala untukmu, dan selama aku -HARAPAN- tetap menyala, engkau masih bisa menyalakan ketiga lilin lainnya!”

Diam-diam saya menangis, haru! Pesan ini sangat mengena di hati saya. Ketika terkadang rasa lelah menyerang tanpa rasa kasihan. Betapa sulitnya memaknai sebuah perubahan. Betapa besarnya kendala mengubah sebuah paradigma. Tapi seperti kata Pak Endro, perubahan itu sendiri akan abadi…

Belajar adalah berubah! Berubah itu abadi! Maka kita harus belajar sepanjang hayat! Tak hanya untuk to know, tetapi lebih untuk to be, to learn more, and to live together! Seandainya, guru-guru besar kami seluruhnya berkenan menghadiri workshop kemarin, dan tetap berbesar hati untuk tetap tinggal hingga penghujung acara, hingga segenap opini diwacanakan, sampai kesimpulan dibacakan:mungkin membangun kesepahaman akan lebih mudah. Tersentak aku tersadar, mungkin sebagi seorang maha guru (karena kami ini gurunya mahasiswa), kebiasaan berbicara saat mengajar, membuat kami kehilangan kemampuan untuk mendengar dan  menyimak.

Suatu hari nanti saya  percaya akan tiba masanya kita semua sampai ke ujung doa! Harapan ini  masih menyala! Join UB, be the best!

TATIEK KOERNIAWATI ANDAJANI, SP.MP.

Program Studi Agribisnis  FP UB