Archive

Archive for the ‘UMKM’ Category

UB Menuju World Class Entrepreunerial University

December 22nd, 2012 No comments

Banyak opini saat gagasan tentang UB sebagai world class entrepreunerial university pertama kalinya dicanangkan. Sebagian besar mencibir pada awalnya. Tampaknya masih sulit memahami bagaimana sebuah perguruan tinggi berevolusi meraih citra diri yang terdengar komersial di telinga awam. Sejumlah spekulasi segera beredar. Sebagian skeptis, sebagian apatis, sebagian lain sangat optimistik. Mereka yang secara langsung terlibat pada pengembangan inkubator bisnis termasuk dalam kategori ketiga. Mereka langsung mengambil posisi proaktif. Respon terdepan inipun menuai hasil berkilau. Model inkubator bisnis UB termasuk salah satu yang selalu menjadi rujukan universitas lain. Dirjen Dikti pun acung jempol.

Saya sendiri termasuk civitas akademika yang memilih bersikap skeptis. Satu alasan utama saya adalah saya berangkat dari pemahaman bahwa membangun entrepreunerial university, tak sebatas mengganti logo institusi dengan menempatkan globe di dalamnya bersanding dengan logo Raja Brawijaya dari Kerajaan Majapahit atau membangun gedung inkubator bisnis yang megah di kawasan jalan Veteran. Visi menjadi Entrepreunersial University adalah fungsi dari entrepreunerial corporate culture. Budaya korporat yang berorientasi pada kewirausahaan tak mungkin dibangun tanpa reyasa sosial yang revolusioner bernama entrepreunerial mindset.  Sebagaimana kita insyafi bersama membangun pola pikir, mengubah kultur dan perilaku tidaklah semudah membalik telapak tangan.

Sebuah bisnis yang baik,tidak dibangun dalam sehari. Dari titik ini menuju world class entrepreunerial university terasa sungguh di luar jangkauan kita untuk meraihnya. Namun, marilah kita coba gali dari sudut pandang yang berbeda. Asian Economic Community (AEC) sebagai perwujudan AFTA pada tahun 2015 dapat diartikan sebagai invasi besar-besaran tenaga kerja terampil dari negara-negara maju di kawasan Asia. Jujur saya katakan persaingan ini tidak berimbang. Untuk merespon hal ini, satu alternatif lain bagi lulusan UB harus ditawarkan. Sudah saatnya bersiap untuk bergerak di kuadran II dan III Robert Kiyosaki, yakni menjadi self employed dan business owner. Dengan kata lain, peluang alternatif ini bernama entrepreunership.

Sebagai salah satu pengajar di fakultas pertanian, sebagai salah satu warga UB, saya tak dapat lari dari semua arus perubahan ini. Pilihannya adalah mencoba beradaptasi secepat mungkin, sebaik mungkin dengan tingkat resiko dan biaya seminimal mungkin (mengadopsi istilah bisnis: better, faster dan cheaper). Berikut ini beberapa tulisan yang saya turunkan khusus untuk berbagi opini dengan Anda semua. Read more…