Catatan Awal Tahun 2021

January 26th, 2021

Banyak masyarakat di Jawa, khususnya yang telah memasuki usia paruh baya menyatakan 2020 sebagai tahun wolak-walike jaman. Anggapan itu secara umum dapat dipahami sebagai masa terjadinya perubahan maha dahsyat yang mampu menjungkirbalikkan segala tatanan. Di kalangan akademisi inilah yang disebut era disrupsi, yang mengguncang akar sistem kebudayaan, ekonomi dan peradaban manusia. Covid-19, merestart atau bahkan memformat ulang rutinitas hidup keseharian kita. Jalanan macet di pagi hari yang sibuk di mana orang berdesak-desak berangkat bekerja dan anak-anak berangkat sekolah, sekarang praktis tak lagi terlihat. Bahkan mall-mall sepi pengunjung.

Universitas Brawijaya tak terkecuali, juga menerapkan social distancing. Gedung-gedung yang tinggi menjulang, area parkir yang biasanya penuh sesak, terasa lengang. Keriuhan berpindah ke grup whatsap, zoom meeting dan google classroom. Ada kerinduan, ada kesunyian yang harus diakui untuk beberapa saat membekukan segalanya. Pertanyaan sampai kapan ini akan berlangsung dan harus bagaimana menyikapi ketidakpastian serta perubahan-perubahan yang terus terjadi di luar prediksi, sempat membuat saya terdiam dalam kebingungan.

Produktivitas kerja merosot drastis, karena work from home tentu tak sama dengan work from office. Atmosfer akademik di kampus, bukan hal yang mudah untuk diduplikasi dan diimitasi di rumah. Bagi para pekerja termasuk saya sebagai dosen, bekerja adalah keluar rumah dengan pakaian kerja yang rapi, bersepatu dan duduk menghadapi meja kantor. Sekarang, saat zoom meeting kita semua dimungkinkan memasang foto cantik, dan berdaster di saat yang sama. Cukup mengeraskan volume hp atau laptop dan kita dapat berpartisipasi dalam rapat sambil menggoreng ikan atau memasak sayur lodeh. Custom ini sungguh melompat. Saya bisa bengong, mengerutkan alis sekaligus tertawa kecil menjalani rutinitas yang jungkir balik tersebut.

Tahun 2021, keadaan relatif masih sama. Jumlah pasien Covid-19 terus bertambah, walaupun sebagian besar masyarakat sudah jenuh dengan segala jenis social distancing. Tim satgas Covid tetap setia dengan sms broadcast himbauan agar kami tetap sabar dan bertekun diri dalam pengasingan proxy. Ya, sepanjang sejarah peradaban, mungkin inilah pertama kalinya manusia harus mengasingkan dirinya sendiri.

Di satu titik, saya mulai menyerah dan menerima sebuah kemungkinan tentang apa yang disebut sebagai new normal. New normal besar kemungkinan bermakna new order, sebuah tatanan baru. Tatanan lama sudah berubah jika tak hilang. Usia saya tak lagi muda. Artinya, saya sudah masuk kategori kelompok umur rentan terpapar Covid-19. Maka, harus ada cara-cara hidup, bekerja dan bergaul yang baru. Sebagai mahluk sosial kita tetap perlu ‘terhubung’ walau secara virtual. Sebagai dosen, saya wajib berupaya sebaik yang saya bisa untuk menetapi Tri Dharma. Hal ini menuntut saya belajar lagi, beradaptasi dan survive.

Blog ini, adalah salah satu rencana saya. Ketika kematian mendekat pada semua orang dengan nilai probabilitas yang kian meningkat, maka meninggalkan ilmu sebagai warisan yang kita harap dapat memberikan manfaat merupakan motivasi yang selain baik juga saya rasakan semakin menguat.

 

Comments are closed.