Dokumen Akademik tahun 2003

November 19th, 2012 No comments

Pada tahun 2003 tepatnya tanggal 28 Februari hingga 1 Maret di Widya Loka Universitas Brawijaya pernah berlangsung seminar dan lokakarya yang mendatangkan Prof. Bungaran Saragih sebagai nara sumber. Saat itu cukup banyak gagasan ditelurkan pada acara semiloka yang berlangsung. Satu prosiding telah dipublikasikan, deklarasi Perpadi pun disepakati. Saat ini di penghujung tahun 2012, kembali digelar acara seminar dengan topik yang serupa. Menjelang 10 tahun perjalanan wacana akademik sejak dirumuskan pada tahun 2003, masih banyak PR yang belum dikerjakan. Apakah agenda ketahanan pangan dengan beras sebagai tema utama akan benar-benar menjadi the unfinished problems? Sekali lagi mungkin dokumen akademik pada masa itu perlu dibuka kembali sekedar mengingatkan kita semua, menjadi evaluasi dancritical pointsetidaknya untuk kita sebagai insan akademik,ke  mana saja kita selama ini. Kontribusi menjadi hal yang paling penting dipertanyakan!

Berikut ini beberapa materi prosiding yang penting kami unggah kembali untuk menjadi kajian dan perhatian, tampaknya kita sudah cukup banyak berpikir dan berunding, sekarang tindakan menjadi satu-satunya hal yang diperlukan.

A.Suryana Semiloka Perpadi 2003

Nindyowati Semiloka Perpadi 2003 Read more…

Dokumen Akademik: KETAHANAN PANGAN

November 19th, 2012 No comments

Beras di Indonesia adalah komoditas pangan paling strategis sebab dikonsumsi oleh hampir seluruh penduduk, serta diproduksi oleh sebagian besar petani Indonesia. Karena pentingnya peran beras baik dari sisi permintaan maupun penawaran, beras telah dianggap sebagai komoditas politik. Sampai saat permasalahan dalam perberasan Indonesia dalam kondisi yang memprihatinkan. Indonesia walaupun termasuk negara produsen beras terbesar ketiga setelah China dan India, namun dalam segi impor tergolong negara pengimpor terbesar.

Sementara itu kondisi petani beras dicirikan dengan : (a) skala kecil, (b) modal terbatas, (c) teknologi sederhana, (d) sangat dipengaruhi musim, (e) wilayah pasarnya lokal, (f) umumnya berusaha dengan tenaga kerja keluarga sehingga menyebabkan terjadinnya involusi pertanian (pengangguran tersembunyi), (g) akses terhadap kredit, teknologi, dan pasar sangat rendah, (h) rendahnya penanganan pasca panen dan mutu produk dan (i) lemahnya posisi tawar petani.Berdasarkan kenyataan tersebut, maka kebijakan perberasan tidak saja dituntut mampu meningkatkan produksi, namun dituntut juga memperbaiki kesejahteraan petani.

Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya telah menjalin cukup banyak kerjasama di bidang ketahanan pangan, salah satunya adalah dengan Bulog. Saat ini Bulog meluncurkan program baru yaitu Bulog Onfarm. Program ini dimaksudkan untuk mengintervensi ketahanan pangan langsung pada pelaku produksi di akar rumput yaitu petani dan kelompok tani.  Sinergis dengan program-program tersebut, berbagai ihtiar para formulator kebijakan sudah sampai pada tahapan implementasi di tingkat mikro. Balitbang Kementan meluncurkan Program Kawasan Rumah Pangan Lestari. Namun bagaimanapun semua program perlu dikaji tindak serta selalu dimonitoring pada level operasional. Begitupun berbagai wacana dan gagasan akademik ini menjadi sangat penting untuk disosialisasikan terutama kepada mahasiswa. Alasan terpenting yang melatarbelakanginya tentu saja sebab di pundak merekalah tanggung jawab memberi makan dunia kelak akan berada.

Berikut beberapa dokumen akademik yang relevan dengan tema di atas. Mahasiswa dapat mengunduh materi-materi berikut sebagailearning resources.

Kebijakan Revitalisasi Penggilingan Padi

20120704-Manajemen dan Distribusi Stok Beras BULOG

Read more…

Indikator Unsustainable Agriculture

November 19th, 2012 No comments

Perjalanan supervisi magang kerja ke TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru),  adalah salah satu perjalanan lapang tersulit tahun ini bagi saya, terutama karena medan yang sangat buruk dan jauh yang harus ditempuh. Jumlah mahasiswa Program Studi Agribisnis ada dua orang. Cukup bangga sebab masih ada mahasiswa yang punya idealisme untuk secara langsung turun lapang. Beberapa foto di bawah ini merupakan oleh-oleh perjalanan lapang dan sedikitnya dapat memberikan gambaran situasi pertanian, terkait dengan indikator pertanian yang tidak sustainable.

Laporan magang kerja yang telah dilakukan oleh mahasiswa menyatakan bahwa usahatani hortikultura yang dilakukan oleh petani setempat sama sekali tidak memperhatikan aspek konservasi lahan. Petani setempat melakukan budidaya hortikultura tanaman semusim tanpa membuat sarana prasarana pencegah erosi baik air maupun angin.

Read more…

Kemiskinan, benarkah akar masalah lingkungan?

November 19th, 2012 No comments

kemiskinan, poverty

Kemiskinan seringkali dituding sebagai akar masalah dari berbagai isu sosial yang sedang hangat diperdebatkan. Isu kemiskinan dan kelaparan bahkan menjadi salah satu agenda penting MDG’s (millenium development goals) pada abad 21 ini. Kemiskinan secara statistik terakumulasi di negara-negara sedang berkembang (LDC’s) yaitu di Asia dan Afrika. Secara lebih spesifik, mereka yang miskin hidup di pedesaan, dan bermata pencaharian sebagai petani. Pada entry point inilah kemudian konsep dan implementasi pertanian berlanjut atau sustainable agriculture menjadi penting.  Beberapa artikel di bawah ini saya pilih sebagai koleksi bacaan untuk dibagi, sebagian opini publik dalam berbagai media, sebagian saya unggah dari jurnal-jurnal online pilihan. Semoga bermanfaat.

keserakahan, kemiskinan dan kerusakan lingkungan

sumber: pse.litbang.deptan.go.id/ind/pdffiles/ART03-4a.pdf 


Read more…

Categories: starts small! Tags:

Sinopsis Perjalanan Lapang: Sustainable Agriculture

November 19th, 2012 No comments

Sistem pertanian berlanjut merupakan sistem pertanian yang layak secara ekonomi dan ramah lingkungan, yang dicapai melalui optimalisasi faktor biotik dan abiotik dalam agroekosistem. Di tingkat bentang lahan pengelolaannya difokuskan pada pemanfaatan biodiversitas tanaman pertanian dalam mempertahankan pollinator, pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit, hidrologi (kuantitas dan kualitas air) dan mengurangi emisi karbon. Banyak macam penggunaan lahan yang tersebar di seluruh bentang lahan, yang mana komposisi dan sebarannya beragam tergantung pada beberapa faktor antara lain iklim, topografi, jenis tanah, vegetasi dan kebiasaan serta adat istiadat masyarakat yang ada disekelilingnya. Selama kuliah, mahasiswa mempelajari tentang beberapa indikator kegagalan pertanian berlanjut baik dari segi ekonomi, biofisik dan sosial. Guna meningkatkan pemahaman mahasiswa akan dasar-dasar konsep pertanian berlanjut di daerah tropis dan penerapannya di tingkat lanskap maka pengenalan pengelolaan bentang lahan yang terpadu di bentang lahan sangat perlu dilakukan.

Isu-isu tentang krisis pangan sebagai dampak levelling off produktivitas sektor pertanian sebagai penghasil pangan dewasa ini telah berkembang menjadi tidak saja krisis pangan namun mulai menampakkan efek domino hingga pada level pengambil keputusan. Berikut ini diunggah sejumlah artikel bagi para pemerhati, dan mereka yang memiliki keprihatinan sama pada keberlanjutan sektor pertanian sebagai salah satu elemen biologis terpenting untuk menyangga kehidupan komunitas manusia di muka bumi ini.

Materi Ekonomi Lingkungan

Read more…

Asuransi Pertanian

November 19th, 2012 No comments

Konsep asuransi pertanian merupakan ide baru di negara kita, meski di banyak negara-negara pertanian yang lebih maju, konsep ini sudah diimplementasikan sangat lama. Konsep teoritis ini sebenarnya bermula dari upaya-upaya perancangan kebijakan yang secara sistematis dikontribusikan untuk memecahkan permasalahan pemasaran produk pertanian yang beresiko tinggi. Produk pertanian adalah jenis produk beresiko tinggi bila dipandang dari aspek karakteristiknya yaitu mudah rusak, voluminous dan musiman. Produksi pertanian sangat bergantung pada alam. Di bawah kondisi perubahan iklim global di mana musim tanam tidak lagi dapat dipetakan dengan tepat, resiko gagal panen menjadi semakin tinggi. Kasus-kasus meningkatnya harga cabe lebih kurang dua tahun lalu, menjadi bukti ilustratif yang mengingatkan kita pada kategori resiko ini. Belum lagi, produk pertanian harus menghadapi resiko harga pasar yang disebabkan oleh karakteristik produksinya yang musiman. Harga dipastikan akan jatuh pada musim panen raya, dan melambung tinggi pada saat paceklik atau gagal panen. berangkat dari kondisi inilah konsep asurasi pertanian dibangun.

Berikut ini saya unggah salah satu working paper yang saya tulis beberapa tahun lalu sebagai tugas presentasi pada mata kuliah analisis harga produk pertanian. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Hedging sebagai konsep asuransi produk pertanian

Read more…

Categories: starts small! Tags:

Mengenal Struktur Pasar

November 19th, 2012 No comments

Pasar memfasilitasi transfer pemilikan suatu barang atau jasa dari satu pihak ke pihak lainnya. Setiap kali pemilikan atas suatu barang atau jasa dipindahtangankan, selalu terjadi penetapan harga. Dalam analisis keseimbangan pasar dikenal konsep harga keseimbangan yang memungkinkan unit marginal produk terakhir yang dipasok ke pasar dijual pada level yang sama dengan kesediaan konsumen untuk membayarnya. Solusi keseimbangan semacam ini hanya dapat dicapai pada kondisi pasar persaingan murni dan atau sempurna. Namun demikian kondisi pasar persaingan murni atau sempurna ini mensyaratkan sejumlah asumsi yang sangat ketat. Dengan kata lain konsep pasar persaingan murni atau sempurna merupakan gambaran ideal bekerjanya mekanisme pasar. Akan tetapi dalam kondisi riil, struktur pasar khususnya pasar produk-produk pertanian tidak berlangsung di bawah asumsi persaingan sempurna. Oleh karena itu selain struktur pasar persaingan sempurna dikenal beberapa struktur pasar lainnya yaitu monopoli, oligopoli, monopsoni dan oligopsoni. Monopoli dan monopsoni merupakan struktur pasar yang sangat dekat dengan gambaran umum pasar produk-produk pertanian masaran formal yang menangani produk-produk ekspor atau secara langsung dijual pada industri pengolah bahan pangan. Dalam pasar semacam ini, sebelum sampai ke konsumen akhir produk pertanian ditransformasikan melalui teknik-teknik prosesing industri pangan. Dengan demikian permintaan langsung terhadap produk-produk pertanian berasal tidak saja dari permintaan rumahtangga namun terutama dari berbagai perusahaan dan industri serta organisasi pemasaran formal sebagaimana tersebut di atas.

Pada umumnya dalam analisis pasar diasumsikan terjadi transaksi langsung antara produsen (petani) dengan konsumen akhir bahan pangan. Kasus ini masih dapat dijumpai di negara-negara ke tiga, namun sejalan dengan transformasi pertanian subsisten menjadi agroindustri proporsi produk pertanian yang dijual dengan cara langsung semakin kecil. Sebagian besar produk pertanian dijual pada pedagang besar dan  organisasi-organisasi pemasaran formal yang menangani produk-produk ekspor atau secara langsung dijual pada industri pengolah bahan pangan. Dalam pasar semacam ini, sebelum sampai ke konsumen akhir produk pertanian ditransformasikan melalui teknik-teknik prosesing industri pangan. Dengan demikian permintaan langsung terhadap produk-produk pertanian berasal tidak saja dari permintaan rumahtangga namun terutama dari berbagai perusahaan dan industri serta organisasi pemasaran formal sebagaimana tersebut di atas.

 Untuk dapat memahami struktur pasar bagi produk-produk pertanian mula-mula akan dikemukakan beberapa konsep dasar dalam struktur pasar persaingan dilanjutkan dengan konsep struktur pasar spesifik yang lebih mendekati karakteristik struktural pasar produk-produk pertanian dan bahan pangan. Mahasiswa disarankan membuka kembali catatan kuliah pada mata kuliah Pengantar Ekonomi Pertanian untuk memberikan review singkat konsep permintaan dan penawaran produk pertanian dan teori struktur pasar.

Read more…

Categories: AGRONIAGA, Ilmu Amaliah, starts small! Tags:

LECTURE NOTE 4

November 19th, 2012 No comments

Karakteristik harga produk pertanian khususnya yang dipasarkan dalam bentuk fresh product dipengaruhi dalam banyak hal oleh karakteristik produk pertanian sebagaimana telah dipelajari pada bahan kajian sebelumnya. Namun pasar bukan obyek yang steril dari pengaruh eksternal. Pasar modern dalam kondisi yang telah berkembang dewasa ini, berperilaku sangat kompleks. Sebagaimana para ekonom meyakini, pasar telah berkembang dari terminologi fisik menjadi bentuk-bentuk yang beragam dan lebih substantif. Pasar adalah bertemunya kekuatan permintaan dan penawaran.Untuk itu  penting bagi mahasiswa S1 Program Studi Agribisnis untuk mempelajari prinsip-prinsip teoritis permintaan dan penawaran produk pertanian, sebelum mengkaji secara mendalam perilaku harga produk pertanian.

bab 4 Read more…

Categories: AGRONIAGA, Ilmu Amaliah, starts small! Tags:

LECTURE NOTES 3

November 18th, 2012 No comments

Lembaga dan saluran pemasaran merupakan dua konsep teoritis berikutnya yang harus dipelajari dalam mata kuliah Pemasaran Hasil Pertanian (PHP). Kembali pada kasus komoditas tebu. Upaya pemberdayaan petani tebu telah banyak dilakukan. Namun berbagai kebijakan yang telah diimplementasikan tak kunjung membuahkan hasil yang menggembirakan. Pemilikan lahan yang sempit oleh petani gurem, menjadi penyebab rendahnya produktivitas dan rendahnya adopsi inovasi teknik budidaya tebu, terutama yang memerlukan banyak biaya. Kajian yang lebih mendalam dalam banyak penelitian menyimpulkan bahwa petani gurem masih banyak terjebak pada lembaga dan saluran pemasaran yang panjang, di mana posisi tawar mereka sangat lemah. Petani gurem umumnya menyerahkan panen tebu untuk dikelola kelompok tani dan koperasi. Meski peran kelompok tani, asosiasi dan koperasi dalam pemasaran hasil panen tebu, namun tidak dapat dipungkiri dalam praktek pemasaran hasil panen tebu oleh lembaga-lembaga tersebut masih terdapat ketidaksetaraan dan belum tercapai fair trade. Materi berikut dapat menjadi entrypointuntuk memahami permasalahan seputar pemasaran produk pertanian

bab3 Read more…

Categories: starts small! Tags:

LECTURE NOTE 2

November 13th, 2012 No comments

Pada lecture note kedua yang saya unggah di bawah ini, dapat dipelajari beberapa pendekatan dalam mempelajari aspek pemasaran dalam pertanian. Sebagai salah satu contoh adalah pendekatan komoditas. Marilah kita pilih satu komoditas pertanian sebagai kasus: tebu dan gula. Tebu adalah commercial crops, ditanam oleh petani dengan mengikuti pola permintaan turunan (derived demand function) sebab tebu adalah bahan baku utama gula pasir. Tebu bukan tanaman pangan, artinya hasil panen tebu harus dijual. Pilihan petani tebu adalah menjualnya ke pabrik gula (PG) atau ke pabrik gula merah tradisional. Dari aspek produksi, tebu merupakan sub sistem on farm yang terdistegrasi vertikal dengan agroindustri pengolahnya yaitu PG. PG memiliki pabrik gula sebagai aset. Di sisi lain petani memiliki lahan dan tenaga kerja sebagai sumberdaya produktif potensial. Cukup kompleks permasalahan tebu, sebab 80 persen PG di Indonesia berlokasi di pulau Jawa di mana lahan merupakan kendala utama pengembangan sektor pertanian. Dilaporkan secara statistik, pemilikan lahan tebu oleh petani adalah sangat kecil. Kecilnya lahan, minimnya modal usahatani, dan struktur agroindustri yang tidak terintegrasi secara vertikal menempatkan permasalahan pemasaran hasil panen tebu sebagai jantung permasalahan utama penyebab keterpurukan pergulaan Indonesia, yang hingga saat ini belum mampu berswasembada. Kiranya wacana akademik dan berbagai diskusi dapat dikembangkan dari materi ini. Sebagai dasar teori materi lecture note berikut dapat diunduh.

bab2 Read more…

LECTURE NOTE 1

November 13th, 2012 No comments

Lecture note berikut dapat diunduh sebagai materi pembelajaran pertama pada mata kuliah Pemasaran Hasil Pertanian. Sebagaimana telah didiskusikan pada post lain pada kategori Ilmu Amaliah, sub kategori Agroniaga sangat penting dipahami ruang lingkup bahan kajian pada mata kuliah ini. Mengingat keluasan dan kedalaman bahan kajian yang harus dipelajari selama satu semester, mahasiswa diharapkan dapat secara serius memperkaya learning resource. Pada post-post berikutnya saya akan tautkan beberapa link penting yang dapat diakses sebagai learning resources.

bab1 Read more…

Categories: AGRONIAGA, Ilmu Amaliah, starts small! Tags:

PEMASARAN HASIL PERTANIAN

November 12th, 2012 No comments

Pemasaran Hasil Pertanian merupakan salah satu mata kuliah dalam kurikulum pra KBK yang tetap dipertahankan. Mata kuliah ini secara resmi dikelola oleh Laboratorium Ekonomi Pertanian Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian FP UB. Sebelumnya selain mata kuliah Pemasaran Hasil Pertanian kurikulum lama juga menawarkan mata kuliah Manajemen Pemasaran (Marketing Management). Pendekatan pemasaran hasil pertanian dari aspek bahan kajian lebih banyak difokuskan pada produk pertanian yang dipasarkan dalam bentuk fresh product. Fresh agriculture product, sebagaimana banyak dicitrakan baik secara teoritik maupun empirik, merupakan produk yang memiliki cukup banyak kelemahan, di antaranya mudah rusak alias mudah busuk. Tanpa penangangan dan pengolahan pasca panen yang tepat hampir semua produk pertanian tidak dapat disimpan lama. Kelemahan yang lain adalah produk ini bersifat voluminous. Kita dapat membayangkan perhiasan emas seharga Rp 10 juta tentunya dapat diwujudkan sebagai seuntai kalung atau sebentuk cincin permata. Produk pertanian, katakanlah salak seharga Rp 10 juta, sebagai perbandingan tentu tidak dapat disimpan dalam safe deposit box atau diselipkan di jari manis. Perlu gudang untuk menyimpan buah salak seharga Rp 10 juta. Hal ini berarti biaya simpan, belum lagi biaya-biaya lain yang harus dialokasikan selama buah salak tersebut belum dikonsumsi. Produk pertanian secara umum dikenal sebagai produk musiman. Hal ini terkait dengan proses biologis sebagai aktivitas produksi pertanian. Dampaknya adalah terjadinya fluktuasi jumlah dan harga musiman di pasar produk pertanian. Pemasaran hasil pertanian dengan demikian menjadi bidang kajian yang sangat kompleks.

Marketing management di sisi lain, mempelajari aspek pemasaran dari sisi yang berbeda. Fokus kajian lebih ditekankan pada upaya-upaya mengelola pasar produk pertanian melalui marketing mix. Marketing management menurut pendapat saya memiliki area kajian yang lebih luas, sebab tidak saja dapat diimplementasikan pada fresh agriculture product namun termasuk processed agriculutre product. Dari pisang hingga menjadi keripik pisang, dan pisang olahan lain sampai pada konsumen terentang mata rantai yang sungguh panjang dengan banyak pelaku pada setiap level nilai tambah yang dihasilkan.

Pada titik ini, pertanian lebih sesuai dipotret dengan pendekatan sistem agribisnis, yang sebagaimana diketahui terdiri dari setidaknya empat sub sistem yaitu agroindustri hulu, on farm sub system, agroindustri hilir dan sub sistem penunjang (termasuk di dalam sub sistem ini pemasaran pertanian).

Erat kaitannya dengan kedalaman dan keluasan bahan kajian pemasaran hasil pertanian, 3 sks terasa tidak cukup untuk membidik semua learning outcome yang harus dikuasai oleh lulusan Program Studi Agribisnis. Namun sekali lagi, dengan 144 jumlah total sks yang harus diselesaikan pada level strata 1, cukup merepotkan bila bahan kajian ini harus diselenggarakan dalam mata kuliah yang berbeda. Selain itu aspek pemasaran agribisnis seharusnya menjadi mata kuliah integrasi dengan bahan kajian lintas laboratorium. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa dapat memiliki perspektif yang lengkap baik ekonomi pertanian maupun manajemen agribisnis berikut aspek policy yang tak dapat dipisahkan dari praktek pasar. Read more…

Categories: AGRONIAGA, starts small! Tags:

SEMINAR NASIONAL DAN TEMU ALUMNI FPUB 2012

November 11th, 2012 No comments

Rangkaian acara Dies Natalis FPUB yang ke 52 tahun ini mengagendakan seminar nasional dan temu alumni.  Acara ini merupakan agenda rutin tahunan yang diselenggarakan setiap Dies Natalis. Topik seminar tahun ini adalah Rumah Pangan Lestari dalam Perspektif Ketahanan dan Kemandirian Pangan Keluarga. Bertempat di Gedung  Widya Loka Jumat 9 November 2012, seminar nasional dibuka pukul 08.30 oleh Dekan FP UB. Tampil sebagai nara sumber pada seminar nasional ini:

1. Dr.Ir. Haryono, MSc. Kepala Badang Litbang Pertanian yang menyampaikan makalah berjudul Model Kawasan Rumah Pangan Lestari: Upaya Mencapai Ketahanan Pangan Keluarga dan Pola Pangah Harapan tahun 2014

2. Dr.Ir. Suhardi, MSc. Ketua DPD HKTI Yogyakarta membawakan makalah berjudul Komitmen Kinerja Kebijakan Nasional terhadap Pembangunan Ketahanan  Pangan di Indonesia

3. Dr. Ir.Rachmat Pambudy (Pemerhati Pertanian dan Dosen Pasca Sarjana IPB) menyampaikan materi tentang Membangun Model Kelembagaan Agribisnis menuju Ketahanan Pangan Nasional

4. BKP Jatim membawakan materi Model Optimasi Pemanfaatan Sumberdaya Lahan dalam Memperkokoh Ketahanan Pangan

5. Prof. Dr. Ir.Nuhfil Hanani, MS menyampaikan Konsep Ketahanan Pangan Nasional Menuju Pertanian Berlanjut

Tema Rumah Pangan Lestari menawarkan sudut pandang yang sedikit berbeda atas wacana akademik ketahanan pangan yang umumnya dianalisis dari aspek makro dan meso. Rumah Pangan Lestari (RPL) menguatkan aspek mikro pangan, dengan mencoba menempatkan rumahtangga sebagai pelaku utama dalam sistem ketahanan pangan nasional. Hal ini sesuai dengan pernyataan Presiden RI pada Konferensi Dewan Ketahanan Pangan (JICC, Oktober 2010) yang menegaskan bahwa :

1. Ketahanan pangan dimulai dari rumahtangga

2. Pemanfaatan pekarangan merupakan entry point strategis membangun ketahanan dan kemandirian pangan rumahtangga

Konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari dikembangkan berdasarkan prinsip ketahanan pangan rumahtangga, diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal dan konservasi biodiversitas lokal. Read more…

Quick Literature Review

October 30th, 2012 No comments

Cukup menyenangkan memperoleh kesempatan belajar kembali.  Refreshment, atau menurut istilah Dale Carnegie: mengasah gergaji. Sibuk sebagai lecturer lazimnya membuat kita lupa untuk menjadi long life learner!

Berikut ada beberapa artikel lama yang saya rasa masih relevan kita diskusikan. Selamat bergabung!

Teori Pertumbuhan Abramovitz

Prof. Ratya  mengambil bahan kajian teori pertumbuhan di awal perkuliahan makro ekonomi lanjut. Merujuk pada seri sinopsis ekonomi makro karya Boediono, saya masih mengingat logical framework yang paling mudah diingat.

Makro ekonomi adalah cabang ilmu ekonomi yang mempelajari perekonomian dari perspektif agregat. Ada dua persoalan makro ekonomi yang dihadapi semua bangsa di dunia:

1. masalah jangka pendek: inflasi, unemployment dan ketimpangan neraca pembayaran

2. masalah jangka panjang: pertumbuhan ekonomi.

Tentu kita sepakat, bahwa permasalahan ekonomi makro berperspektif jangka panjang akan sangat tergantung pada apakah permasalahan makro jangka pendek sudah teratasi. Read more…

Widyaloka: 29 Oktober 2012

October 29th, 2012 No comments

Usai upacara Sumpah Pemuda, saya diagendakan mengisi kuliah umum di Widyaloka khusus angkatan 2009 bersama Sekjur Sosek dan Dr. Widodo. Meski diselenggarakan pada saat pelaksanaan ujian tengah semester, mahasiswa masih terlihat antusias. Jelasnya, PD I dan kami  semua menginginkan angkatan 2009 dapat menyelesaikan masa studi tepat waktu dengan IPK yang baik. Dengan status A  akreditasi BAN PT yang telah kami peroleh tiba saatnya ekspansi. Bapak Dekan berkenan membuka kuliah umum ini, dengan pesan khusus tentang ‘rendemen’ (begitu istilah beliau untuk mengistilahkan persentase lulusan tepat waktu yang dapat mengikuti wisuda 8 semester). Pro dan kontra tidak pernah surut seputar isu pemerataan akses yang untuk sementara kalangan petinggi diinterpretasi sebagai penambahan kuota mahasiswa dan isu penjaminan mutu kualitas produk manajerial di Perguruan Tinggi khususnya UB. Sebagaimana PT terkemuka lainnya, UB tengah bersibuk diri dengan akreditasi institusi, baik BAN PT maupun ISO 2001. Bagi kami yang sampai saat ini masih menjadi ujung tombak, kami harus berhadapan langsung dengan mahasiswa dengan semua kepentingannya. Waktu, akumulasi energi, intensitas dan kualitas layanan kami jelas dipertaruhkan. Mereka adalah calon lulusan yang begitu dekat dengan eksekusi komunitas Asian tahun 2015. Daya saing lulusan lebih bermakna kualitas. Siapkah mereka? Saya pribadi melihat semua proses ini seperti proses produksi  telenovela kejar tayang, jatuh bangun mengejar ketertinggalan. Namun demikian di atas segalanya kita harus tetap bergerak, menyongsong perubahan di mana kita berada tepat di tengah-tengah pusaran arusnya. Jadi sejauh yang kami mampu tangani, di sinilah kami saat ini. Berusaha bernegosiasi di atas sekian kepentingan yang saling bersaing. Upaya percepatan kelulusan mahasiswa Prodi Agribisnis, kami rancang dengan mengintegrasikan perkuliahan Metodologi Penelitian di semester VI dengan kegiatan magang dan skripsi . Ini semua mungkin, kami telah mencobanya. Meski belum sempurna output yang kami peroleh, setidaknya kami sudah menjajal sistemnya. Semoga pada setiap angkatan selalu ada continuous improvement…. Read more…

Categories: Agenda Kerja, Seminar, starts small! Tags: